::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::  Kuliah Plus Ngaji? Ke UNSIQ Wonosobo aja, -Memadukan mutiara luhur tradisi pesantren dan keunggulan Universitas Modern- Kunjungi http//:pmb.unsiq.ac.id. 081391983830 (Latu Menur Cahyadi)::: 

Khutbah Terindikasi Radikal Dapat Tanggapan Kementerian

Kamis, 12 Juli 2018 12:30 Nasional

Bagikan

Khutbah Terindikasi Radikal Dapat Tanggapan Kementerian
Jakarta, NU Online
Ketua Dewan Pengawas Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) Jakarta, Agus Muhammad menyebut sejumlah kementerian menyampaikan terima kasih dengan adanya laporan hasil penelitian terkait materi khutbah radikal di masjid negara.

“Kementerian Agama, Kementerian Ekonomi, Kementerian Kemaritiman, Kementerian Komunikasi dan Informatika, termasuk Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi, Johan Budi. Semuanya mengapresiasi penelitian ini, tinggal bagaimana menindaklajuti,” kata Agus dihubungi Rabu (11/7).

Agus menegaskan indikasi khutbah berkonten radikal bukan hanya menjadi urusaan pemerintah, tetapi juga masyarakat. Oleh karena itu masyarakat harus diberikan fasilitas untuk mencegah dan menghentikan penyebaran paham radikal melalui khutbah.

“Memfasilitasi masyarakat untuk memberikan komentar, keluhan, kritik, dan memberi tahu konten radikal di masjid mereka karena peyebaran radikal ini berbahaya,” imbuhnya.

(Baca: 41 Masjid Pemerintah Terindikasi Sebarkan Paham Radikal)


Keluhan atau pemberitahuan masyarakat terkait adanya khutbah radikal tidak bisa dilakukan melalui media sosial, menurut Agus karena hal itu justru menimbulkan kegaduhan.

Penelitian tentang khutbah radikal di masjid negara dilakukan P3M Jakarta dan Rumah Kebangsaan. Terdapat 100 masjid di Jakarta yang terdiri dari 35 masjid kementerian, 28 masjid lembaga, dan 37 masjid BUMN yang diteliti. 

Penelitian dilakukan terhadap khutbah yang disampaikan khatib pada setiap pelaksanaan shalat Jumat, selama empat pekan, yakni 29 September, 6, 13 dan 20 Oktober 2017. Saat penelitian, setiap masjid didatangi oleh seorang relawan untuk merekam khutbah dan mengambil gambar, brosur, buletin dan bahan bacaan lain yang terdapat di masjid. Bahan-bahan tersebut dijadikan acuan untuk menilai apakah masjid tersebut terindikasi radikal atau tidak.

(Baca: Masivitas Khutbah Radikal Tinggi Berdekatan dengan Pelarangan HTI)

Hasil penelitian menunjukkan 41 dari 100 masjid pemerintah terindikasi radikal. Dari 41 masjid terindikasi radikal tersebut sebanyak 17 (41 persen) masjid berada dalam kategori radikal tinggi. Sisanya sebanyak 17 (41 persen) berkategori radikal sedang; dan hanya tujuh masjid atau 18 persen  yang masuk kategori radikal rendah.

Hasil penelitian juga mengindikasikan meskipun masjid-masjid yang diteliti membawa simbol negara, para takmir masjid dan penentuan khatib Jumat ditemukan mempunyai pandangan keagamaan yang cenderung ekstrem.

Agus menyebut terdapat tren penyebaran khutbah terindikasi bermuatan radikal berkategori tinggi dalam empat kali shalat Jumat. Pada pekan penelitian tengah marak pembahasan Perppu Ormas yang kemudian disahkan menjadi Undang-Undang.

Tren turunnya konten radikal pada Jumat ketiga mungkin karena ketakutan khatib dituduh mendukung ideologi khilafah. Tapi  jumlahnya naik lagi pada Jumat keempat, mungkin sebagai respons dari ditetapkannya Perppu Ormas menjadi UU Ormas. (Kendi Setiawan)