::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Menag Minta Penelitian Bukan Sekadar Rutinitas

Sabtu, 14 Juli 2018 06:45 Nasional

Bagikan

Menag Minta Penelitian Bukan Sekadar Rutinitas
Menag Lukman Hakim Saifuddin (Foto: Musthofa Asrori)
Jakarta, NU Online
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin meminta para peneliti Balitbang Diklat Kemenag agar menjadikan penelitian bukan sekadar rutinitas. Para peneliti harus berangkat dari pemikiran yang sama yakni sebagai sumber layanan unggulan melalui penelitian terkait kehidupan keagamaan.

“Balitbang Diklat sebagai sebuah institusi di dalam Kemenag yang paling otoritas dalam hal ikhwal penelitian kajian pengembangan kehidupan keagamaan,” kata Menag saat menjadi pembicara kunci Temu Peneliti Balitbang Diklat Kemenag di Grand Zuri Hotel BSD, Serpong, Tangerang, Jumat (13/7).

Menag menegaskan cara pandang demikian (penelitian Balitbang Diklat Kemenag) menjadi sumber layanan unggulan sehingga Kemenag bahkan semua pihak akan menyambut baik dan tidak meragukan untuk memberikan anggaran terkait program penelitian selama riset dan kajian memang memiliki nilai kebermanfaatan.  

Ia mengatakan, pada satu kesempatan sidang kabinet, Presiden Joko Widodo mempertanyakan apa tindak lanjut dari hasil-hasil riset yang dilakukan kementerian-kementerian. “Jika penelitian hanya sebagai rutinitas semua kementerian dan tidak dapat diketahui apa manfaatnya bagi masyarakat, bukan saja anggaran penelitian dikurangi, namun sangat mungkin dihapuskan” tegas Menag.  

Berangkat dari pemahaman bahwa penelitian Balitbang Dilat Kemenag sebagai sumber layanan unggulan, lanjut Menag, para peneliti harus keluar dari sekadar rutinitas. Peneliti harus memproyeksikan penelitian pada kebermanfaatan. Untuk itu, Menag meminta para peneliti mengawali riset dengan memilih kajian yang memang mempunya nilai manfaat yang tinggi. 

“Pilihlah riset yang mempunyai aspek manfaat yang tinggi,” kata Menag.

Menurutnya riset yang bermanfaat ditandai dengan beberapa hal. Riset memiliki relevansi dan konteks dengan kehidupan kekinian kita;  bukan hanya di awang-awang.  Kemudian, kualitas penelitian selalu ditingkatkan. 

Untuk mengetahui apakah riset yang dlakukan bermanfaat, Menag mengatakan dapat dipikirkan apa ukuran manfaat dan untuk siapa. Menag berpendapat ada tiga manfaat yang bisa dicapai. Pertama adala bagi internal Kemenag sendiri. 

“Pemasok program-program Kementerian Agama.  Pemasok kebijakan.  Data yang dihasilkan penelitian mengandung hal yang sangat penting dan menghasilkan program kebijakan, seperti pendidikan, bimas haji, zakat dan lainnya,” papar Menag. 

Manfaat kedua adalah bagi dunia akademik. Hal itu bisa terwujud jika penelitian tingkat urgensi dan korelasi yang tinggi sehingga dapat menjadi rekognisi sebagai sumbangsih membangun dunia akademik.  Ketiga adalah manfaat bagi publik atau masyarakat luas.

Menag menekankan jika tidak ketiga manfaat, setidak-tidaknya dua atau salah satu dari manfaat itu bisa diperoleh dari riset-riset Balitbang Diklat Kemenag. Kebermanfaatan hasil riset, dengan demikian, agar riset tidak sekadar untuk memenuhi rak-rak yang dipajang. (Kendi Setiawan)