::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

HAUL SYEKH NAWAWI

Syekh Nawawi Lahirkan Banyak Ulama di Indonesia

Sabtu, 14 Juli 2018 13:30 Nasional

Bagikan

Syekh Nawawi Lahirkan Banyak Ulama di Indonesia
Haul Syekh Nawawi al-Bantani, Jumat (13/7)
Serang, NU Online 
Pengasuh Pesantren An-Nawawi Tanara, Serang, Banten KH Ma'ruf Amin mengatakan bahwa Syekh Nawawi al-Bantani merupakan tokoh besar Islam Indonesia yang melahirkan banyak pemimpin dan pendiri organisasi Islam di Indonesia. Sejumlah ulama terkemuka tanah air tercatatat sebagai muridnya, misalnya pendiri Nahdlatul Ulama Hadratussyekh KH Hasyim Asyari, pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan, pimpinan Mathlaul Anwar  KH Mas Abdurrahman, dan pimpinan Persatuan Tarbiyah Islamiyah Syekh Sulaiman Ar-Rasuly. 

"Hampir seluruh pendiri dan pemimpin organisasi Islam di Indonesia itu ternyata  murid beliau (Syekh Nawawi)," kata Kiai Ma'ruf di Tanara, Serang, Banten, Jumat (13/7).

Seusai belajar kepada Syekh Nawawi al-Bantani, pemimpin-pemimpin organisasi Islam itu menyebarkan Islam di Indonesia dengan cara-cara yang moderat, mempunyai semangat nasionalisme yang tinggi, dan ramah terhadap kebudayaan lokal. 

"Sehingga Islam di Indonesia melahirkan pemahaman Islam moderat," ucap Kiai yang juga Rais 'Aam PBNU tersebut. 

Syekh Nawawi al-Bantani mempunyai nama lengkap Syekh Muhammad Nawawi bin Umar bin Arabi bin Ali al-Jawi Al-Bantani. Ia adalah anak sulung dari tujuh bersaudara, yaitu Ahmad Syihabudin, Tamim, Said, Abdullah, Tsaqilah, dan Sariyah. Waktu kecil, Syekh Nawawi al-Bantani belajar ilmu-ilmu kepada ayahnya, Kiai Umar, seperti membaca Al-Qur’an, fiqh, tauhid, dan gramatika arab.

Pada usia 15 tahun, Syekh Nawawi melanjutkan belajar kepada banyak ulama terkenal di Mekah pada zaman itu, seperti Syekh Ahmad Khatib Sambas, Syekh Yusuf bin Arsyad al-Banjari, Syekh Yusuf Sunbulawani, Syekh Zainuddin Aceh, Syekh Ahmad ad-Dimyati, dan Syekh Abdul Ghani Bima. (Husni Sahal/Ahmad Rozali)