::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::  Kuliah Plus Ngaji? Ke UNSIQ Wonosobo aja, -Memadukan mutiara luhur tradisi pesantren dan keunggulan Universitas Modern- Kunjungi http//:pmb.unsiq.ac.id. 081391983830 (Latu Menur Cahyadi)::: 

Matahari Tepat di Atas Ka’bah 15 dan 16 Juli, Saatnya Luruskan Kiblat

Sabtu, 14 Juli 2018 13:45 Nasional

Bagikan

Matahari Tepat di Atas Ka’bah 15 dan 16 Juli, Saatnya Luruskan Kiblat
Jakarta, NU Online
Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengumumkan bahwa pada 15 dan 16 Juli 2018, pukul 16.27 WIB, matahari melintas tepat di atas Ka’bah di Makkah, Arab Saudi. Karena itu, seluruh ujung bayang-bayang benda tegak lurus akan mengarah ke arah kiblat.

Peristiwa ini lazim disebut istiwa’ a’dham atau rashdul qiblat, momentum awal waktu zhuhur di Masjidl Haram sekaligus kesempatan bagi umat Islam di berbagai belahan dunia untuk meluruskan arah kiblat melalui bayang-bayang matahari.

Lembaga Falakiyah PBNU melalui surat bernomor 27/LF-PBNU/VIII/2018 mengimbau kaum muslimin untuk memanfaatkan saat-saat tersebut untuk mengukur kembali arah kiblat tempat-tempat shalat.

Baca: Sejarah Pensyariatan Menghadap Kiblat
Baca: Aturan Menghadap Kiblat dalam Shalat
Setidaknya ada dua cara mudah untuk menentukan arah kiblat ketika matahari melintas persis di atas Ka’bah. Pertama, dilakukan di dalam masjid/mushala yang terdapat jendela di bagian mihrabnya. Di Indonesia, karena terjadi pada sore hari maka arah sinar menuju ke timur. Bila cahaya matahari yang masuk lewat jendela mihrab segaris dengan kiblat masjid/mushalla, maka artinya kiblat rumah ibadah itu sudah tepat. Namun, bila melenceng, serong ke kanan atau ke kiri, artinya patut diluruskan dengan garis semburat cayaha tersebut.

Kedua, dilakukan di luar ruangan yang memungkinkan kontak langsung cahaya matahari. Yang dibutuhkan adalah bayangan dari benda tegak lurus saat rashdul qiblat berlangsung. Benda tersebut bisa terdiri dari tongkat lurus yang ditegakkan severtikal mungkin, atau benang tebal yang dibebani bandul dan menggantung di atas kayu penyangga. Garis yang ditarik dari ujung bayangan ke pangkal benda (ke arah barat sedikit serong ke utara) adalah arah kiblat yang akurat.

Baca: Begini Cara Menentukan Arah Kiblat dengan Matahari
Lembaga Falakiyah PBNU pernah mengingatkan, secara geografis/astronomis, kota Makkah terletak di 39049’34” LU dan 21025’21” BT. Dari Indonesia, koordinat ini berada pada arah barat laut dengan derajat bervariasi antara 210-270 menurut koordinat (garis lintang dan garis bujur) masing-masing daerah.

Arah kiblat Indonesia bukanlah ke barat. Jika ke barat maka semua wilayah Indonesia yang terletak di 3407’ LU dan seterusnya (ke utara), seperti Aceh, akan lurus dengan Negara Ethiopia atau melenceng ke selatan sejauh 1750 km dari Mekkah. Begitu juga yang terletak di 4039’ LS sampai 3047’ LU, menghadap barat berarti lurus dengan Negara Kenya. (Mahbib)