::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Khutbah Radikal, Menag Ingatkan Sembilan Seruan Ceramah

Sabtu, 14 Juli 2018 18:00 Nasional

Bagikan

Khutbah Radikal, Menag Ingatkan Sembilan Seruan Ceramah
Menag Lukman Hakim Saifuddin usai berbicara pada Temu Peneliti. (Foto: Musthofa Asrori)
Jakarta, NU Online
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin meminta masyarakat untuk terus menjaga kesucian masjid dari ceramah-ceramah yang dinilai menyimpang. 

“Masyarakat harus saling memberi masukan kepada sesama kita ketika ada ceramah yang dinilai menyimpang dari kaidah-kaidah yang semestinya yang disampaikan dalam khutbah dan ceramah keagamaan,” kata Menag usai menjadi pembicara kunci pada Temu Peneliti Balitbang Diklat Kemenag di Grand Zuri Hotel BSD, Tangerang, Banten, Jumat (13/7).

“Tidak boleh masjid dikotori dengan ceramah atau ungkapan-ungkapam yang membuat jamaah saling kontra,” imbunya.

(Baca: Enam Topik Radikal Terpopuler pada Khutbah Jumat Masjid Pemerintah)

Pihaknya menegaskan adanya hasil penelitian yang menyebutkan indikasi radikalisme pada khutbah Jumat di masjid-masjdi pemerintah, Kementerian Agama melalui Bimas Islam telah secara intensif mengampanyekan sembilan seruan ceramah di rumah ibadah.

“Seruan ini bisa ditindaklanjuti tidak hanya oleh para mubaligh dan khatib-khatib tapi juga pengelola rumah ibadah termasuk di dalam hal ini para takmir masjid,” ujar Menag. 

(Baca: PBNU Minta Pemerintah Awasi Masjid dari Khutbah Radikal)

Seperti diketahui setahun lalu tepatnya 28 April 2017, Menag mengeluarkan sembilan seruan ceramah di rumah ibadah. Berikut sembilan poin seruan tersebut:

1. Disampaikan penceramah yang memiliki pemahaman dan komitmen pada tujuan utama diturunkannya agama, yakni melindungi harkat dan martabat kemanusiaan, serta menjaga kelangsungan hidup dan perdamaian umat manusia.
2. Disampaikan berdasarkan pengetahuan keagamaan yang memadai dan bersumber dari ajaran pokok agama.
3. Disampaikan dalam kalimat yang baik dan santun dalam ukuran kepatutan dan kepantasan, terbebas dari umpatan, makian, maupun ujaran kebencian yang dilarang oleh agama mana pun.
4. Bernuansa mendidik dan berisi materi pencerahan yang meliputi pencerahan spiritual, intelektual, emosional, dan multikultural. Materi diutamakan berupa nasihat, motivasi, dan pengetahuan yang mengarah kepada kebaikan, peningkatan kapasitas diri, pemberdayaan umat, penyempurnaan akhlak, peningkatan kualitas ibadah, pelestarian lingkungan, persatuan bangsa, serta kesejahteraan dan keadilan sosial.
5. Materi yang disampaikan tidak bertentangan dengan empat konsensus bangsa Indonesia, yaitu Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika.
6. Materi yang disampaikan tidak mempertentangkan unsur SARA yang dapat menimbulkan konflik, mengganggu kerukunan ataupun merusak ikatan bangsa.
7. Materi yang disampaikan tidak bermuatan penghinaan, penodaan, dan/atau pelecehan terhadap pandangan, keyakinan dan praktek ibadah antar/dalam umat beragama, serta tidak mengandung provokasi untuk melakukan tindakan diskriminatif, intimidatif, anarkis, dan destruktif.
8. Materi yang disampaikan tidak bermuatan kampanye politik praktis dan/atau promosi bisnis.
9. Tunduk pada ketentuan hukum yang berlaku terkait dengan penyiaran keagamaan dan penggunaan rumah ibadah.

Selain membuat seruan ceramah di rumah ibadah, sudah sejak tahun lalu Menag melalui Dirjen Bimas Islam yang membawahi masjid-masjid untuk mengawasi masjid mereka masing-masing.

“Hal ini (pencegahan radikalisme melalui khutbah) bisa dilakukan dengan saling mengawasi masjid-masjid dalam membuat program dan ceramah-ceramahnya,” katanya. (Kendi Setiawan)