::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Kiai Jadul: Saat Baghdad Runtuh, Peradaban Islam Ajam Malah Berkembang

Senin, 16 Juli 2018 08:00 Nasional

Bagikan

Kiai Jadul: Saat Baghdad Runtuh, Peradaban Islam Ajam Malah Berkembang
Tangerang Selatan, NU Online
Pengasuh Pesantren Kaliopak Yogyakarta KH M Jadul Maula mengatakan, pada saat Baghdad diserang pasukan Mongol pada abad ke-12, maka yang runtuh bukan lah Islam, tapi peradaban Islam Arab. 

“Islam tidak hilang. Islam terus berkembang,” kata Kiai Jadul dalam diskusi di Sekretariat Islam Nusantara Center (INC), Tangerang Selatan, Ahad (15/7).

Kiai Jadul menambahkan, runtuhnya Baghdad memang menjadi penanda hancurnya peradaban Islam Arab –mengingat khalifah dan jabatan-jabatan strategis dipegang oleh orang Arab. Akan tetapi, di sisi yang lain peradaban Islam ajam (non-Arab) semakin tumbuh subur setelah penyerangan Hulagu Khan itu.

“Pada saat bersamaan (runtuhnya Baghdad), berkembanglah peradaban Islam ajam. Muncul kerajaan-kerajaan ajam (non-Arab) seperti Safawi (Iran), Mughal (India), Usmani (Turki),” jelasnya.   

Menurut dia, setelah penyerangan ke Baghdad itu peradaban Islam ajam juga berkembang di wilayah Nusantara bahkan hingga sampai hari ini. Ada Kerajaan Samudera Pasai, Demak, Cirebon, dan Mataram (Yogyakarta). 

“Sayangnya itu tidak tercatat sebagai sebagai satu peradaban Islam,” ujarnya.

Mengapa demikian? Karena kalau mempelajari Sejarah Kebudayaan Islam, maka peradaban Islam di Nusantara tidak termasuk di dalamnya. Biasanya yang menjadi daftar bahasan adalah masa jahiliyah hingga masa Usmani saja.

“Ini (Islam ajam) juga punya peradaban. Bukan kan Nabi Muhammad saw. mengatakan kalau ia adalah sayyidul Arab wal ajam (pemimpin Arab dan non-Arab),” ungkapnya. 

Menurut dia, peradaban Islam Nusantara belum mendapatkan status atau derajat yang sama seperti peradaban-peradaban Islam lainnya. Padahal peradaban Islam Nusantara juga tidak kalah absahnya dengan yang lainnya. (Muchlishon)