::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

70 Tahun Sastrawan Membumi Ahmad Tohari

Kamis, 19 Juli 2018 16:01 Pustaka

Bagikan

70 Tahun Sastrawan Membumi Ahmad Tohari
Ahmad Tohari (AT), mendengar nama itu, masyarakat sastra Indonesia bahkan dunia tentu mengenalnya sebagai sastrawan handal yang karya-karyanya begitu membumi. Berangkat dari kegelisahan dirinya untuk menyikapi dan menyelesaikan problem-problem masyarakat bawah, Ahmad Tohari menuangkannya dalam banyak karya sastra, baik cerpen maupun novel.

Empat tahun lalu, tepatnya 28 Maret 2014, Redaksi NU Online pernah menghelat acara Pidato Kebudayaan dengan mengangkat tema Membela dengan Sastra. NU Online mendaulat Ahmad Tohari untuk menyampaikan pidato kebudayaannya. Dasar membela dengan sastra menggambarkan perjuangannya selama ini yang berupaya menyelasaikan problem pelik masyarakat dengan goresan sederhana berupaya karya sastra.

Saat menyampaikan pidato kebudayaan tersebut, usia sastrawan kelahiran Banyumas, 13 Juni 1948 ini berusia 65 tahun. “Saya memang membela dengan sastra,” ujar Ahmad Tohari dalam salah satu pernyataannya kala itu.

Nama Ahmad Tohari membumbung tinggi berkat karya novelnya berjudul Ronggeng Dukuh Paruk. Mengangkat tema kemanusiaan di tengah dan setelah prahara politik 1965-1965, Ronggeng Dukuh Paruk dinilai orisinil, berani, dan tepat.

Bahkan, novel yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Banyumas, Jerman, Inggris, Cina, Jepang, dan Belanda ini menjadi mayoritas ulasan para tokoh penulis dalam buku 70 tahun Ahmad Tohari berjudul Sastra itu Sederhana. Total ada 56 tokoh dalam buku setebal 214 halaman ini yang berkontribusi memberikan testimoni tentang sosok Ahmad Tohari dalam rangka merayakan usianya yang ke-70 tahun.

Dalam buku tersebut para penulis yang juga sahabat karib Ahmad Tohari sepakat bahwa AT merupakan sosok sederhana, baik dalam bentuk laku dan penampilan. Kebersahajaannya itu terwujud dalam karya-karyanya. Karya sastra yang diketengahkan Ahmad Tohari meluncur dalam bahasa-bahasa sederhana dan membumi. Hal ini tidak terlepas dari basis problem masyarakat yang diangkat oleh AT.

Budayawan Emha Ainun Nadjib dalam testimoninya mengatakan, yang dibangun Ahmad Tohari dalam buku-bukunya adalah jembatan antar-zaman. Ia mengangkut khazanah-khazanah kebudayaan dan peradaban dari masa silam, yang berlaku pada masa kini, dan yang diperlukan oleh masa depan. Ahmad Tohari dalam pandangan Cak Nun adalah kontinyuator, katalisator, bahkan transformator nilai-nilai kehidupan yang ia jembatani antar-zaman demi zaman yang mengaliri waktu.

“Dia betul-betul Njawani!” itulah pernyataan Novelis kenamaan Nh Dini lewat testimoni dalam buku tersebut. Saat itu Nh Dini bertemu Ahmad Tohari di pameran buku internasional di Frankfurt, Jerman tahun 2015. Ketika melihat tampilannya, Nh Dini segera memahami bahwa sosok tersebut ialah Ahmad Tohari.

Solah-tingkah atau perilaku yang wantah kelihatan sederhana tanpa dibuat-buat, lugu, dan apa adanya, santun, tanpa dipaksakan. Kesederhanaan Ahmad Tohari dengan segudang prestasinya tidak terlihat terhadap orang-orang Jawa masa kini. Zaman modern, banyak orang Jawa yang kehilangan Jawa-nya. Begitulah Ahmad Tohari mengekspresikan identitasnya sebagai wujud perjuangan dan pembelaan dalam karya sastranya.

Kesan mendalam dari karya-karya AT juga dirasakan pengarang novel Ayat-ayat Cinta Habiburrahman El-Shirazy atau Kang Abik. Ia mengatakan bahwa Ahmad Tohari merupakan gurunya dalam hal menulis karya prosa. “Saya belajar banyak dari karya-karya legendarisnya,” ujar Kang Abik.

Saat kuliah di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir, Kang Abik menjelajahi sejumlah toko buku untuk mendapatkan karya-karya Ahmad Tohari. Ia senang bukan kepalang ketika berhasil mendapatkan novel Kubah karya Ahmad Tohari. Ketika membaca karya tersebut, Kang Abik seperti sedang mengaji kitab kuning mengenai bab taubat dan pemberian maaf.

Perburuan Kang Abik berlanjut ke novel Ronggeng Dukuh Paruk. Ia tidak mendapatkannnya di Mesir, lalu pulang ke Indonesia. Di tanah air, Kang Abik berhasil mendapatkan novel legendaris itu disamping juga mendapatkan novel karya AT lainnya Lingkar Tanah, Lingkar Air. “Novel-novel menemai saya menghirup kembali udara kampung saya Bangetayu Wetan, Semarang,” ungkapnya.

Testimoni dalam buku terbitan Kepel Press Yogyakarta (Cetakan pertama, Juni 2018) tersebut juga diberikan Al-Zastrouw Ngatawi, Prie GS, KH Masdar Farid Mas’udi, Bre Redana, Mohamad Sobary, Yessi Gusman, Taufik Ismail, Acep Zamzam Noor, Dorothea Rosa Herliani, Maman S. Mahayana, Atmo Tan Sidik, Didik Ninik Thowok, Hamzah Sahal, dan tokoh sastrawan serta budayawan lainnya.

Pegiat budaya Al-Zastrouw Ngatawi mengungkapkan bahwa selain sebagai sastrawan masyhur, Ahmad Tohari juga mempunyai perhatian serius terhadap aktivis-aktivis pergerakan mahasiswa. Ini menunjukkan bahwa AT juga merupakan aktivis yang kritis terhadap dinamika sosial politik.

Dari cerita yang diutarakan Zastruow Ngatawi, di masa Orde Baru, Ahmad Tohari menyembunyikan para aktivis pergerakan mahasiswa dari kejaran aparat keamanan. AT memang tidak punya kekhawatiran dan rasa takut terhadap rezim militer tersebut meski nyawa taruhannya. Keberanian mengungkapkan sisi kemanusiaan dalam dinamika sosial politik ini ia tuangkan dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk. 

Bagi Ahmad Tohari, perlawanan seberat apa pun terhadap fenomena sosial dan politik, tetap dilakukannya secara sederhana lewat karya sastra dan laku kehidupan nyata. Sebagian karya sastranya memang lebih banyak menggambarkan kehidupan masyarakat desa, masyarakat akar rumput yang hidup serba kekurangan. Nama-nama tokoh dalam cerpen dan novelnya juga sebagian besar menggambarkan identitas nama orang-orang desa seperti Lasipang, Sanwirya, Karyamin, Srintil, Rasus, Santayib, Sakum, dan lain-lain.

Tidak hanya identitas nama berbasis lokalitas, tetapi juga tradisi, budaya, dan bahasa yang begitu kuat dipertahankan Ahmad Tohari dalam karya sastranya. Sehingga Didik Ninik Thowok tidak meragukan komitmen kebudayaan AT dalam meneguhkan dan melestarikan budaya dan kearifan lokal (local wisdom). Bahkan Didik menyebut AT sebagai perpustakaan hidup (living treasure). Wallau’alam bisshawab. 

Peresensi adalah Fathoni Ahmad, bertemu Ahmad Tohari tahun 2004 dalam lembar novel Ronggeng Dukuh Paruk

Identitas buku:
Judul: Sastra Itu Sederhana: Kesaksian Lintas Profesi dan Generasi
Editor: Hadi Supeno
Penerbit: Kepel Press Yogyakarta
Cetakan: Pertama, Juni 2018
Tebal: xxix + 214 halaman
ISBN: 978-602-356-203-9