::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Sebagai Ahli Waris Nabi, Ulama Harus Uswatun Hasanah

Kamis, 26 Juli 2018 20:00 Wawancara

Bagikan

Sebagai Ahli Waris Nabi, Ulama Harus Uswatun Hasanah
Belakangan ini, kata ulama sering muncul dalam pemberitaan di media. Hadits Nabi yang berbunyi "Al-ulma'u waratsatul anbiya" demikian populer. Ulama adalah ahli waris nabi. Dengan ungkapan itu, demikian kokoh status dan kedudukan ulama.Lalu, ungkapan "bela ulama" juga mengikuti pemberitaan-pemberitaan tersebut.

Namun, yang muncul adalah ulama dalam konteks dukungan calon yang diusung partai politik atau fatwa agama yang terhubung dengan politik pilkada.    

Sebenarnya bagaimana pengertian, sosok, watak ulama dalam Al-Qur'an? Abdullah Alawi dari NU Online berhasil mewawancarai Rais Majelis Ilmi Pimpinan Pusat Jam'iyyatul Qurra wal Huffazh Nahdlatul Ulama KH Ahsin Sakho Muhammad di Pondok Pesantren Ashiddiqiyah, Karawang, Jawa barat 15 Juni lalu. Ia merupakan pakar Al-Qur'an yang memiliki raputasi internasional di bidang qiraah sab'ah

Berikut petikannya.

Apakah pengertian ulama itu? 

Di dalam Al-Qur’an ulama adalah jamak dari kata alim, ada (huruf)Ya -nya ya. Aliiim. Artinya, orang yang pinter banget di dalam bidang apa saja? 

Tidak hanya dalam bidang agama? 

Ya. Bagi mereka yang ahli dalam bidang apa pun. Jadi, nanti ada yang bersifat umum ada yang khusus. Ulama itu cendekiawan. Orang Indonesia sekarang membagi, orang yang menguasai ilmu yang mendalam dalam bidang keagamaan, disebut ulama. Kalau dalam ilmu umum, namanya cendekiawan. Tapi semuanya itu ulama. Di dalam Al-Qur’an “Innama yakhsallaha min ibadihil ulama". Itu konteksnya 

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ أَنزلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ ثَمَرَاتٍ مُخْتَلِفًا أَلْوَانُهَا وَمِنَ الْجِبَالِ جُدَدٌ بِيضٌ وَحُمْرٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهَا وَغَرَابِيبُ سُودٌ (27) وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالأنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَلِكَ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ (28)

"Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit, lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka ragam jenisnya. Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat. Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun."

Itu kontesknya adalah mereka-mereka yang tahu tentang hukum-hukum umum. Itu konteksnya ulama adalah pengetahuan umum. Itu surat Fathir. Misalnya Einstein, itu ulama ya dari segi lughat (bahasa). Orang pintar sekali. Sekarang di Indonesia, baru bisa tabligh saja, disebut ulama. Siapa yang memberikan label ulama itu. Kalau Ali bin Abi Thalib, orang yang dikatakan ‘alim adalah orang yang mengamalkan ilmunya. Kalau tidak mengamalkan berarti bukan ulama. 

Kalau ulama Bani  Israil, di dalam Al-Qur’an menggunakan ulil ilmi. Dalam kalangan Bani Israil, orang Yahudi, orang yang ulama, al-ahbar, artinya para cendekiawan. Itu dari kata alhibr, artinya tinta. Orang alim dan mereka itu sering menulis, menulis, menulis, jadi alhibr. Ada ulil ilmi, ada ulin nuha, orang yang mempunyai akal, ulil abshar, itu masuk dalam jaringan ulama. Di kalangan, orang Islam, ulama adalah orang alim di dalam agama. 

Di dalam hadits juga ada, kata Nabi, al-ulama waratsatul anbiya. Itu adalah ulama yang ahli dalam ilmu agama. Ulama itu yang mewarisi (menjadi ahli waris, red) para Nabi. Sementara Nabi tidak mewariskan dirham (uang), tapi al-ilm. Orang yang bisa menguasai apa peninggalan Nabi berupa Al-Qur’an dan sunnah maka dia sebenarnya dia mendapatkan bagian yang sempurna. Ulama di situ adalah ulamaud din (ahli agama). Tapi sekarang orang gampang-gampang saja menyebut ulama. 

Bisa dijelaskan lagi kriteria ulama? 

Orang yang memahami seluk-beluk ajaran agama Islam dengan mempelajari sumber-sumber ajaran Islam dan cara pemahamannya menggunakan metode-metode yang disepakati para ulama, ya itu melalui Al-Qur’an, hadits, ijma’, qiyas, itu sebenarnya ijtihadnya para ulama dahulu dalam memahami, melalui Al-Qur’an, dengan hadits, qiyas, ijma sahabat, qiyas mengqiyaskan satu persoalan satu dengan persoalan yang lain, antara yang asli dengan yang far’i. Jadi itu, jangan seenaknya saja.

Apa lagi kriteria ulama itu? 

Begini, bagi orang yang mengamati, misalnya ibil (unta). 

أَفَلَا يَنْظُرُوْنَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ

Hebat banget yang namanya ibil (unta) itu, teracaknya besar, menembus pasir-pasir yang panas, dia bisa tahan tidak minum berjam-jam, satu hari satu malam; kerongkongan bisa disuling air yang sudah masuk; makanya siapakah yang menciptakannya? Berarti yang menciptakan unta itu haruslah Zat Yang Maha Luar Biasa. Onta apakah bisa menciptakan dirinya sendiri? Tak bisa. Manusia apakah bisa menciptakan dirinya sendiri? Enggak bisa. Kita sendiri yang punya jantung tak mengerti jantung kita. Apa orang tua yang menciptakan? Bukan.

أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ

"Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?"

Kalau seandainya seseorang yang meneliti diri sendiri, meneliti tentang mata misalnya, akhirnya (mereka berkesimpulan), “oh hebat banget”. Berarti zat yang menciptakan mata itu jauh lebih hebat. Itu siapa? Allah. Kalau sampai kepada Allah, kalau sampai kepada Allah, berarti kita harus Allahu akbar. 

Begitu juga ulama yang meneliti ajaran agama Islam. Hebat banget ya, shalat lima waktu pada waktu terbit fajar, Allahu akbar, Allahu akbar; pada waktu matahari bergerser menuju ke barat terjadi pergeseran alam semesta, Allahu akbar, Allahu akbar; pada waktu bayangan melebihi benda itu sendiri, Allahu akbar, Allahu akbar; begitu malam datang, terbenamnya matahari, Allahu akbar, Allahu akbar; begitu mega merah datang, Allahu akbar, Allahu akbar. Hebat banget. Ada orang Barat yang meneliti siklus waktu azan yang dilakukan orang Islam mulai subuh, dzuhur, dia tersentak banget, Ini hebat banget, ajaran siapa sih? (Juga menepakuri dan menyingkap hikmah di balik ibadah) seperti zakat, ibadah haji.


يُؤْتِى ٱلْحِكْمَةَ مَن يَشَآءُ ۚ وَمَن يُؤْتَ ٱلْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِىَ خَيْرًا كَثِيرً
 

Allah memberikan hikmah. Hikmah itu memahami seluk-beluk rahasia ajaran agama. Siapa yang diberikan hikmah, mampu untuk memahami ajaran Islam, subtansinya itu, maka dia itu diberikan kebaikan yang sangat banyak sekali. 

Jadi, seorang ulama itu lebih banyak tafakurnya? 

Ya, itu dia.

 رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا

Kalau sampai pada ayat itu, berarti hebat itu. Al-Qur’an bukan ciptaan Nabi Muhammad.

Berarti umat Islam harus mengikuti ulama yang seperti itu, bukan yang berwatak lain? 

Ya, (ulama) adalah orang yang suka tadabur. Kalau seandainya dibacakan ayat Al-Qur’an dia termenung, tadabur, menangis, itu hatinya itu yang peka. Langsung tersungkur.

Masih ada watak ulama yang selain itu?

Jadi, orang-orang yang, kata Nabi, kata Al-Qur’an, laqad kaana lakum uswatun hasanah. Paling tidak itu.

Uswatun hasanah itu bagaimana?

Ya artinya panutan yang baik dari segi takwanya, dari segi akhlaknya, dari segi tutur katanya. Akhlaknya semuanya itu. Kalau tidak bisa mengikuti Nabi seratus persen, ya 50 persen. Kalau tidak bisa 50 persen, ya 10 persen saja. Pokoknya sesuai dengan kemampuannya. Orang yang memahami betul tentang ajaran agama Islam dan dia mempraktikannya. Itu dia yang patut diikuti, akhlaknya bagus, pengetahuannya luas. 

Kalau seorang ulama berkata buruk dengan dalih amar ma’ruf nahi munkar bagaimana? 

Enggak, enggak. Enggak boleh menjelek-jelekkan orang, berarti mulutnya jelek. Janganlah berkata-kata kasar. Laisa bi fadin wa la ghalidin wa la sakhatin fil aswaq. Nabi itu tidak berkata kasar. 

Itu hadits Nabi? 

Itu dari kitab Taurat menyifati Nabi akhir zaman. Laisa bi fadin wa la ghalidin wa la sakhatin fil aswaq. Jadi, dalam kitab Taurat itu diterangkan sifat-sifat nabi akhir zaman. Ada itu. 

Artinya apa? 

Inna arsalnaka syahidan wa mubasyiran wa nadira wa hirjan lil ummiyina, samaitukal mutawakkil, laisa bi faddin wa la ghalidin wa la sakhatin fil aswaq. Ada itu. Haditsnya sahih. Jadi, di kuburan Danial ada lembaran-lembaran Taurat tentang sifatnya Nabi. 

Artinya apa? 

Kami telah mengutusmu pemberi kabar gembira dan memperingati, bagi orang-orang yang tidak bisa membaca dan menulis, aku namakanmu mutawakkil, dia bukan orang yang berkata kasar, dan bukan yang berhati keras, dan bukan orang yang selalu berteriak-teriak di pasar. 

Itu Taurat yang dalam bahasa Arab? 

Iya, itu Taurat yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.

Bagaimana sikap seorang ulama ketika ia menemui perbedaan dengan ulama yang lain? 

Jadi begini, perbedaan boleh, asal jangan bertengkar. Asal jangan bertengkar. Semuanya dalam rangka untuk mencari kebenaran. Kalau seandainya ini punya dalil, itu punya dalil, ya sudah, seperti Abu Hanifah yang tidak Qunut Subuh, Imam Syafi’i yang Qunut Subuh, ya sudah. Ini cara istinbatnya berbeda, ya sudah. Karena tidak ada teks yang, kalau di situ banyak ijtihad, berarti tidak ada teks yang qath’i terhadap itu, atau cara pemahamannya berbeda, atau misalnya yang satu sudah mendapatkan hadits, yang satu belum mendapatkannya, atau datang hadits, tapi cara pemahamannya berbeda. Itu cara-caranya yang demikian itu harus dipelajari. Jangan sampai orang menyalahkan orang lain wong caranya pandangnya berbeda, ya. Misalnya istihsan, Imam Syafi’i tidak menerima, sementara Abu Hanifah menerima. Banyaklah. Ini ada di dalam ushul fiqih. 

Perbedaan itu lantas tidak harus saling membenci dan mencurigai? 

Iya, jangan, jangan! 

Apa batasan perbedaan antara sesama ulama?  

Asal perbedaan itu tidak khilafun lahu wajhun minan nadlari, wa laisa kullu khilafin jaa mu’tabaran ila khilafun lahu wajhun minan nadlar. Tidak setiap perbedaan diterima semuanya, kecuali perbedaan yang bisa diterima, alasan yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Contohnya seperti orang yang bersentuhan kulit orang dengan muhrimnya. Bersentuhan kulit, kata Imam Syafi’i batal, kalau Abu Hanifah enggak apa-apa. Kata Imam Malik, batal kalau ada syahwat, berbeda-beda. Dalilnya apa? Ya cara memahami. Abu Hanifah mengatakan, Nabi pernah mencium istrinya menuju shalat tanpa wudlu lagi, berbeda. Ya seperti itulah. 

Bagaiman sikap pengikutnya ketika mengetahui perbedaan sesama ulama ? 

Ya harus memahami seperti itu. Jadi, jangan semena-mena. Jangan gampang menyalahkan orang lain. Apalagi mengkafirkan orang lain, apalagi memusyrikkan orang lain. Itulah yang menjadikan orang itu radikal.