::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::  Kuliah Plus Ngaji? Ke UNSIQ Wonosobo aja, -Memadukan mutiara luhur tradisi pesantren dan keunggulan Universitas Modern- Kunjungi http//:pmb.unsiq.ac.id. 081391983830 (Latu Menur Cahyadi)::: 

Patuh Guru dan Orang Tua, Modal Utama Kembangkan Pesantren

Ahad, 29 Juli 2018 19:30 Halaqoh

Bagikan

Patuh Guru dan Orang Tua, Modal Utama Kembangkan Pesantren
Ada ungkapan yang terkenal di kalangan para santri, menimba ilmu itu susah, sementara mengamalkan ilmu itu lebih susah. Tak sedikit santri cerdas, mudah paham kitab-kitab kuning, tapi ketika pulang ke rumah, ia tak mampu mengamalkannya. 

Ya, ilmu yang bermanfaat atau berkah itu lebih susah mendapatkannya karena terkait beragam faktor. Bagi kalangan pesantren, pertolongan Allah, restu guru dan orang tua merupakan faktor kunci. Jika itu tidak didapat, akan susah melakukannya, kalau tidak dikatakan mustahil.  

KH Hasan Nuri Hidayatullah merupakan salah seorang contoh santri yang berhasil memanfaatkan ilmunya. Ia mengakui, hal itu merupakan pertolongan Allah, doa, dan ridha guru berikut orang tuanya. Semuanya itu adalah modal utama. 

Bagaimana kisah KH Hasan Nuri Hidayatullah yang juga Ketua PWNU Jawa Barat mengamalkan ilmunya melalui Pondok Pesantren Asshiddiqiyah di Karawang?  Abdullah dari NU Online berhasil mewawancarai kiai kelahiran Banyuwangi itu di kediamannya, Kompleks Pondok Pesantren Asshiddiqiyah 3, Cilamaya, Karawang, 14 Juli lalu. 

Berikut petikannya: 

Bisa cerita bagaimana seorang kiai memulai mengembangakan pesantren di kampung orang?

Modal utamanya doa dari orang tua dan guru. Kalau itu sudah didapat, pintu-pintu yang akan kita lalui itu akan dimudahkan keterbukaan oleh Allah karena kadang-kadang dihitung dengan logika, di sini, saya 2001. Kalau sampai hari ini 17 tahun, kalau dibilang relatif singkat, ya singkat, kadang-kadang saya melihat hal yang ada sekarang ini, saya berpikir, apa iya, gitu. 

Ketika pertama datang ke sini, apa saja yang ada? Kondisinya bagaimana? 

Abah menyuruh saya ke sini, kalau dibilang perusahaan, ya perusahaan yang sudah collaps. Keppercayaan masyarakat drop. Santri ketika itu hanya ada kurang lebih, tak jauh dari 30 atau 40 mungkin. Bangunan-bangunan semuanya tripleks-tripleks. Bangun permanen hanya ada satu yang di putri, di putra hanya ada dua kobong kecil dengan satu masjid. Alhamdulillah sekarang, kalau ditotal, sekarang santri ada 1200 santri. 

Itu hanya Asshiddiqiyah 3? 

Semuanya, saya diamanati yang di sini. Saya kembangkan menjadi ada Asshiddiqiyah 4 untuk sekolah tinggi. Setahun ke belakang saya mengembangkan di Jonggol

Perguruan tinggi tahun berapa berdiri? 

Tahun 2010 . Asshiddiqiyah 3 ada dua, putri dan putra, Asshidiqiyah 4 hanya putra saja dan mahasiswa. Mahasiswanya 170 sampai 200. 

Oh ya, tadi menyebut ridha guru dan orang tua. Bagaimana cara mendapatkannya? 

Pada dasarnya manut. Mohon maaf, pesantren ini ada sejak 1992. Itu sudah orang yang diamanati abah di sini ini  yang kelima. Banyak enggak betah. Karena kondisina di kampuung. Secara lahir, tidak menariklah. Orang berkarir di organisais di sini, tidak mendukung, bisnis juga tidak menarik, jauh di mana-mana, repot jangkauannya. Makanya banyak tak kuat di sini. Belum lagi dinamika kehidupan di pedasaan dan di kota kan berbeda. Kalau di kota mungkkin hdupnya individualis ya sehingga apa yang dilakukan oleh orang itu cuek. Nah, kalau di kampung itu, kiai dinilai. Harus agak ekstra hati-hati karena masyarakat kampung ini masih mempunyai kepeduliaan sehingga apa yang terjadi pada tokohnya itu selalu diperhatikan. Kadang-kadang seseorang yang dikatakan kiai atau haji atau ustadz, Shalat Jumat tidak di depan aja menjadi bahan, kok pak haji tidak di depan. Ini di kampung itu jadi hati-hati. 

Apa pesan yang paling dipegang dari guru dan orang tua? 

Saya cuma manut saja. Guru nyuruh wiridan ini, ya dikerjain. Kalau tidak disuruh berhenti, ya terus.  Gitu saja. Kalau orang tua ya, pesan mereka kan sederhana, jadi wong sing jujur, amanah. Normatif sebenarnya. Hanya mungkin saya menerima pesan orang tua itu sebagai hal istimewa buat saya. Psan orang tua dan guru normatif sebenarnya. 

Tadi disebutkan sebagai kiai yang kelima. bagaimana supaya tidak mengulang kegagalan kiai sebelumnya? 

Saya dengan sederhana saja. Saya dulu dengar katanya kalau kita dekat dengan masayarakat A, manyarakat B ini tidak senang. Saya dengar berita itu, justru saya jadikan bahan. Keduanya saya datangi. Saya ajak diskusi, saya mintai saran. 

Justru yang pertama itu bersama masayarakat dulu?

Saya rangkul semunya. Saya kadang-kadang, bawa apa, bawa ke kampung makan bareng-bareng di  sana. Sama orang-orang sehingga menghilangkan sungkan dululah.

Awal-awal, saya tidak masuk PCNU. Waktu itu belum masuk PCNU. Waktu itu saya hanya dekat dengan teman-teman NU karena sering saya silaturahim. Jadi, masyarakat dikunjungi, tokoh-tokoh, termasuk di NU. Lalu menyapa masyarakat dengan pengajian umum.

Pengajiian untuk masyarakat umum mulai kapan? 

Pada 2002 saya langsung mengadakan pengajian. Sambil silaturahim ya sambil mengaji. 

Mula-mula ada berapa orang?

Dua, tiga, awal-awal di teras rumah ngajiinya. 

Tapi terus berjalan?

Tetap jalan. 

Sekarang per minggu berapa orang yang ngaji? 

Ya kalau cuacanya bagus, orang-orang banyak yang kosong kegiatan, tidak ada hajatan, kadang sampai seribu. Di depan itu full itu. Apalagi pas maulid. Semuanya allah. Kita ini, tanpa pertolongan allah tidak apa-apa. 

Kembali ke masalah pesantren, bagaimana meningkatkan santri? 

Ya, mulai tahun itu juga menambah sedikit, itu mulai banyak agak membludak, itu ketika saya mau mempunya anak kedua, sekitar tahun 2007. Santri yang ada sekarang 1200. 

Karena kita pesantren ini. sama saja, sekolah formal, sore ngaji, malam ngaji, berjamaah wajib, anak-anak diajak baca Ratib. Sama saja. Karena saja tidak punya hal yang istimewa, jadi tak ada yang istimewa yang bisa saya ceritakan. Jadi, paling tidak, mengurangi membebani pikiran, punyanya SDM ya itu, punya teman-teman mampunya ya itu. Kira-kira teman mampu, kita perjuangkan. 

Lembaga pendidikannya apa saja? 

Tsanwiyah ada, Aliyah ada, SMK ada, SMA ada, MI ada. 1200 semuanya. Yang tidak ngobong hanya MI saja. semuanya tinggal di sini.

Santri kalong? 

Santri kalong yang ngaji malam kamisi itu saja. orang tua. Saya tingkatkan kemudian karena semakin sedikit waktu bersama teman-teman, bersama masyarakat, saya bikin kegiatan yang bersifat massal. Pesantren melakukan kegiatan bedah mushala. Jadi saya kirim orang, cari mushala yang kira-kira doyong, kita perbaiki. Pas peresmian kira ngumpul bersama masyarakat. Kita biayai mushalanya sampai selesai. Itu alhamdulillah sudah berjalan, kurang lebih 18 mushala. 

Sejak kapan? 

Dua tahun belakang ini.  dulu bedah rumah, tapi karena hanya mmanfaatkan satu orang, kalau banyak kan berat, kalau mushala kan satu, tapi dimanfaatkan banyak orang. 

Biayanya? 

Bareng-bareng saja. para jamaah iuran, ditambahin dari kita, teman-teman dari donatur, punya toko matrial, yang punya semen, tukangnya yang bekerja orang kampung. Mushala-mushala sekitar sini. Yang jauh-jauh ada di Subang ada, satu. 

Ohya, melakukan itu mulai pada usia berapa? 

Saya 2001 berusia 23 tahun dan saya belum menikah. Saya diambil mantu oleh Kiai Nur setelah saya setahun setengah di sini. Saya ditaroh di sini, yang penting iya, karena yang nyuruh guru. Saya juga tak pernah mikir diambil mantu apa enggak, yang penting ngikuti guru saja. 

Dulu saya saya sekolah Tsnawiyah dan Aliyah di sana, mesantren di Jakarta, tahun lulus 1992. Tamatan 1999. Setelah itu saya ke Madinah 4 tahun. Mesantren tidak kuliah, Habib Zen bin Smith, ia ipar-iparan dengan Habib Umar Al-hafidz. Istrinya Habib Zen dengan istrinya Habib Umar itu kakak beradik. Banyak orang Indonesia ada 60-an satu angkatan. Banyaknya para habaib.