::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::  Kuliah Plus Ngaji? Ke UNSIQ Wonosobo aja, -Memadukan mutiara luhur tradisi pesantren dan keunggulan Universitas Modern- Kunjungi http//:pmb.unsiq.ac.id. 081391983830 (Latu Menur Cahyadi)::: 

Orang Tuanya Penentang Rasulullah, Anaknya Pejuang Islam (Bagian I)

Kamis, 02 Agustus 2018 10:00 Hikmah

Bagikan

Orang Tuanya Penentang Rasulullah, Anaknya Pejuang Islam (Bagian I)
“Jangan, jangan! Aku bahkan berharap dan berdoa Allah akan mengeluarkan dari tulang sulbi mereka keturunan yang akan menyembah Allah.” Demikian doa Rasulullah ketika malaikat penjaga gunung hendak mengubur hidup-hidup penduduk Thaif karena menolak dan menyakiti Rasulullah.

Selama mendakwahkan Islam, Rasulullah dan umat Islam generasi awal (assabiqunal awwalun) mengalami berbagai macam tekanan, siksaan, tentangan, dan bahkan upaya-upaya pembunuhan. Mulanya, Rasulullah menyebarkan Islam dengan cara-cara sembunyi-sembunyi  untuk menghindari para penentang atau musuh Islam. 

Namun setelah Umar bin Khattab masuk Islam dan barisan Islam semakin kuat, Rasulullah mulai berdakwah dengan cara terang-terangan. Hal ini malah membuat para elit kafir Quraisy penentang Islam semakin 'menggila.' Mereka rela melakukan apapun demi menghentikan dakwah Islam. Termasuk membunuh Nabi Muhammad saw Rasulullah, sang utusan Allah.

Rasulullah tidak pernah dendam terhadap apa yang dilakukan para penentangnya. Meski apa yang mereka lakukan sudah keterlaluan. Tidak seperti pendahulunya, Rasulullah tidak pernah berdoa kepada Allah agar membinasakan siapa-siapa yang menentang agama-Nya saat itu juga. Sebaliknya, Rasulullah berdoa agar mereka yang menentang Islam mendapatkan hidayah atau anak-anak mereka nanti yang masuk Islam.

Doa Rasulullah itu betul-betul dikabulkan Allah. Dari banyak penentang Islam, ada beberapa yang anak-anaknya masuk Islam dan menjadi pejuang terdepan dalam menegakkan agama Allah sebagaimana yang tertuang dalam buku Para Penentang Muhammad saw. 

Pertama, Al-Walid bin Al-Mughirah. Al-Walid merupakan seorang bangsawan terpandang dan kaya raya dari Bani Makhzum. Dia juga merupakan seorang hakim di Darun Nadwah pada masa Jahiliyah. Kekayaan dan kehormatan membuat Al-Walid menjadi buta mata dan buta hati, utamanya ketika Islam datang. Ia khawatir kalau masuk Islam maka kehormatan dan pamornya hilang di kalangan masyarakat Arab.

Ditambah, ia adalah orang yang angkuh. Ia merasa kalau dirinya lah yang pantas menerima risalah kenabian itu, bukan Muhammad saw. Itulah yang menyebabkan Al-Walid menolak Muhammad hingga akhir hayatnya. Atas segala kiprahnya itu, Al-Walid disebut sebagai orang yang ingkar, keras kepada, dan keras hati. 

Namun demikian, empat dari tiga belas anak Al-Walid masuk Islam. Mereka bahkan menjadi pengikut setia Rasulullah. Yaitu Al-Walid bin Al-Walid, Khalid bin Al-Walid, Hisyam bin Al-Walid, dan Najiyah binti Al-Walid. Khalid bin Al-Walid merupakan panglima perang yang paling perkasa dan hebat dalam sejarah Islam. Maka tidak heran jika ia mendapatkan gelar Pedang Allah yang Terhunus (Saifullah al-Maslul).

Kedua, Umayyah bin Khalaf al-Jumahi. Ia dikenal sebagai penentang Rasulullah yang suka menganiaya umat Islam yang lemah. Bilal bin Rabbah adalah salah seorang yang pernah merasakan betapa kejamnya Umayyah. Sama seperti elit kafir Quraisy, Umayyah menolak Islam karena persoalan kedudukan sosial dan ekonomi. Ia khawatir jika masuk Islam maka apa yang dimilikinya akan hilang.

Shafwan adalah anak Umayyah bin Khalaf yang masuk Islam. Ia bersedia membaca dua kalimat syahadat usai Perang Hunain Untuk melunakkan hatinya, Rasulullah kerap kali memberi Shafwan pemberian. Sehingga Shafwan, yang dulu sangat membenci Rasulullah, menjadi orang yang sangat mencintainya. Selain Shafwan, anak Umayyah yang masuk Islam adalah Tau’amah. 

Ketiga, Al-Ash bin Wail. Al-Ash adalah orang yang tidak percata dengan akhirat, sehingga ia menganggap apa yang dibawa Rasulullah adalah khayalan belaka. Ia juga menilai kalau agama yang dibawa Rasulullah bertentangan dengan agama nenek moyang.

Berbeda dengan orang tuanya, semua anak Al-Ash masuk Islam. Mereka adalah Hisyam dan Al-Amr bin Al-Ash. Hisyam merupakan generasi awal (assabiqunal awwalun) dari kalangan pemuda yang masuk Islam. Ia memegang teguh Islam meski orang tuanya menyiksanya agar meninggalkan Islam. Hisyam adalah salah satu sahabat yang ikut hijrah ke Habasyah. Hisyam dikenal sebagai pejuang Islam yang sangat pemberani. Dia berhasil mengalahkan Romawi dan mengusirnya dari tanah Syam. (A Muchlishon Rochmat)