::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Orang Tuanya Penentang Rasulullah, Anaknya Pejuang Islam (Bagian II)

Jumat, 03 Agustus 2018 09:00 Hikmah

Bagikan

Orang Tuanya Penentang Rasulullah, Anaknya Pejuang Islam (Bagian II)
Rasulullah tidak pernah dendam terhadap apa yang dilakukan para penentangnya. Meski apa yang mereka lakukan sudah keterlaluan. Tidak seperti pendahulunya, Rasulullah tidak pernah berdoa kepada Allah agar membinasakan siapa-siapa yang menentang agama-Nya saat itu juga. Sebaliknya, Rasulullah berdoa agar mereka yang menentang Islam mendapatkan hidayah atau anak-anak mereka nanti yang masuk Islam.

Doa Rasulullah itu betul-betul dikabulkan Allah. Dari banyak penentang Islam, ada beberapa yang anak-anaknya masuk Islam dan menjadi pejuang terdepan dalam menegakkan agama Allah sebagaimana yang tertuang dalam buku Para Penentang Muhammad saw. 


Keempat, Al-Aswad bin Abd Yaghuts. Al-Aswad masih memiliki garis saudara dengan Rasulullah. Akan tetapi, ia sangat menentang Rasulullah. Ia sering kali menebar kabar yang tidak benar atau fitnah tentang Rasulullah kepada para peziarah yang datang ke Mekkah. Ia juga dikenal sebagai orang yang suka menyiksa umat Islam yang lemah. 

Abdurrahman dan Khalidah adalah anak-anak Al-Aswad yang masuk Islam. Abdurrahman hidup dalam generasi tabiin tingkat pertama. Dia dikenal banyak meriwayatkan hadist dari para sahabat Rasulullah. Sementara Khalidah hidup bersama sahabat lainnya di Madinah. Dia diketahui sebagai seorang sahabat yang shalehah. Selain keduanya, anak angkat Al-Aswad yang bernama Miqdad bin Amr juga menyatakan diri masuk Islam pada awal-awal dakwah Rasulullah.

Kelima, Al-Harits bin Qais al-Sahmi. Sama seperti Al-Aswad, Al-Harits juga merupakan orang yang suka mengolok-olok Rasulullah dan mengintimidasi sahabat yang lemah. Ia menolak Islam karena khawatir karirnya sebagai penanggung jawab urusan berhala di Mekkah berakhir.  

Meski Al-Harist sangat menolak Islam, tapi semua anaknya merupakan orang yang pertama menerima Islam. Bahkan, anak-anak Al-Harist tercatat sebagai pahlawan Islam yang gugur di medan perang. Mereka adalah Abu Qais bin Harist meninggal pada Perang Yamamah, Al-Harist dan Tamim bin Harist wafat saat perang melawan Romawi Bizantium, dan Abdullah Al-Harist gugur saat Perang Hunain. 

Anaknya yang lain Al-Hajjaj danAl-Sa’ib bin Harist gugur dalam perang melawan penduduk Thaif, Sa’id bin Harist wafat dalam Perang Yarmuk melawan Romawi. Begitu pun dengan Bisyr dan Ma’mar. Semua anak Al-Harist wafat di medan perang.

Keenam, Abdullah bin Ubay bin Salul. Abdullah adalah orang yang munafik. Dia pura-pura masuk Islam dan menghancurkan Islam dari dalam. Ia kerap kali menghasut, memfitnah, dan mengadu domba antara satu sahabat dengan yang lainnya. Salah satu kasus yang diciptakannya adalah memfitnah Aisyah telah melakukan serong dengan Shafwan. Peristiwa ini dikenal dengan peristiwa hadist al-Ifki.

Kisah Abdullah bin Ubay berbeda dengan anak-anaknya. Mereka semua masuk Islam dan menjadi sahabat Rasulullah yang setia. Hubab atau Abdullah adalah salah satu anak Abdullah bin Ubay yang paling menonjol. Ia ikut dalam Perang Badar, Uhud, dan lainnya. 

Suatu ketika Hubab atau Abdullah sangat kesal dengan kemunafikan bapaknya, Abdullah bin Ubay. Sehingga Hubab atau Abdullah meminta izin Rasulullah untuk memenggal kepala bapaknya itu. Namun, Rasulullah melarangnya dan menyuruh Hubab atau Abdullah untuk tetap berbuat kepada bapaknya.

Ketujuh, Abu Amir bin Rahib. Berbeda dengan teman-temannya yang pura-pura masuk Islam, Abu Amir terang-terangan menolak Islam. Ia menolak tegas ajakan Rasulullah untuk masuk Islam. Menurutnya, agama yang dianutnya lah –ada yang menyebut dia penyembah berhala dan ada yang menyebut dia seorang pendeta Nasrani- yang benar dan hanif. Adapun Islam tidak. Abu Amir pula adalah orang yang berada pada baris terdepan pasukan kafir dalam perang Uhud. 

Hanzhalah adalah anak Abi Amir yang memeluk Islam. Hanzhalah tercatat sebagai sahabat yang setia dan ikut berjihad demi tegaknya panji Islam. Bahkan satu hari setelah menikah dengan Jamilah binti Abdullah bin Ubay, Hanzhalah -yang belum sempat mandi jinabat karena malam harinya bergumul dengan istrinya- berangkat ke medan perang. Bersama Rasulullah dan sahabat lainnya, ia ikut dalam Perang Uhud. Naasnya, Hanzhalah gugur dalam peperangan tersebut. 

Itulah beberapa penentang Rasulullah yang anak-anaknya memeluk Islam dan menjadi pejuang terdepan untuk menyebarkan Islam. Pepatah “Buah jatuh tak jauh dari pohonnya” tidak selamanya benar. Nyatanya, anak-anak para penentang Rasulullah di atas tidak juga menentang Rasulullah, tapi malah menjadi pembela terdepan Islam. (A Muchlishon Rochmat)