::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::  Kuliah Plus Ngaji? Ke UNSIQ Wonosobo aja, -Memadukan mutiara luhur tradisi pesantren dan keunggulan Universitas Modern- Kunjungi http//:pmb.unsiq.ac.id. 081391983830 (Latu Menur Cahyadi)::: 

Derita Pemutusan Kerja Sepihak PT Freeport terhadap Keluarga Pekerja

Jumat, 03 Agustus 2018 17:30 Nasional

Bagikan

Derita Pemutusan Kerja Sepihak PT Freeport terhadap Keluarga Pekerja
Jakarta, NU Online
Pemutusan hubungan kerja PT Freeport terhadap 8300 pekerja secara sepihak berdampak besar terhadap kehidupan keluarga. Banyaknya anak yang putus sekolah menjadi satu masalah besar bagi mereka. Pasalnya, anak-anak tersebut merupakan generasi penerus bangsa.

“Banyak sekali anak putus sekolah,” ujar salah satu pekerja, Julius Mairuhu, Jumat (3/8). 

Keluhan tersebut disampaikan kepada Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang diwakili Ketua PBNU H Robikin Emhas, Wakil Sekretaris Jenderal PBNU Ulil Abshar Hadrawi,  dan Wakil Sekretaris Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum (LPBH) PBNU Syamsuddin Siawat Pesilette. Pertemuan berlangsung di Kantor PBNU lantai 5, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta.

Lebih dari itu, Julius mengungakpkan bahwa pernah suatu ketika saat masyarakat Muslim sedang shalat Maghrib, mereka diberondong water canon. “Teman Muslim diberondong dengan water canon saat shalat Maghrib,” kenangnya.

Pria Nasrani itu juga mengungkapkan bahwa sudah dua tahun, masyarakat Muslim tidak mendapatkan Tunjangan Hari Raya (THR) sebagai hak mereka dari perusahaan. “Perusahaan sudah menghentikan hak-hak kami,” ungkapnya.

Selain itu, karena jaminan kesehatan diputus dan perekonomian tidak menemui kejelasan, masyarakat pun kesulitan untuk berobat. Bahkan Labai, salah satu pekerja, menceritakan bahwa ada yang diusir dari rumah sakit karena ketiadaan biaya akibat kanker yang diderita. Urunan masyarakat pun, kata warga NU Timika itu, tak cukup untuk mendanai kebutuhan pengobatannya.

Di samping itu, Nurkholis, pendamping para pekerja, mengungkapkan bahwa mereka diintimidasi, diteror, dan dipaksa menerima kesepakatan sepihak yang tidak menghadirkan perwakilan.

Oleh karena itu, para pekerja Freeport tersebut meminta PBNU untuk dapat menyuarakan keluhan kepada pemerintah. Pasalnya, mereka telah menempuh berbagai cara, dari pengadilan, pemerintah kabupaten, hingga pusat pun belum menemui hasil.

“Kita tidak bisa ke mana-mana kecuali ke bapak-bapak (pimpinan) agama,” kata Julius.

Sementara itu, Robikin menyampaikan bahwa pihaknya akan berusaha membuka komunikasi dengan beberapa pihak terkait. “Kita insyaallah akan mengomunikasikan (kepada pemerintah) agar bisa dicapai solusi yang paling bermaslahat untuk semuanya,” tandasnya. (Syakir NF/Ibnu Nawawi)