::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Dua Virus Ini Berbahaya Bagi NU

Selasa, 07 Agustus 2018 10:00 Daerah

Bagikan

Dua Virus Ini Berbahaya Bagi NU
Ustadz Sayyidi Al-Manaf (kanan)
Bekasi, NU Online
Untuk menciptakan Kota Bekasi sebagai Kota Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja), tidak cukup hanya mengandalkan kepengurusan Nahdlatul Ulama di struktural organisasi, baik ranting hingga cabang.

Demikian diungkapkan Wakil Ketua Lembaga Dakwah (LD) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Bekasi, Ustadz Sayyidi Al-Manaf atau yang akrab dengan julukan Ustadz Jubah Ireng (Uji), kepada NU Online, Selasa (7/8) pagi.

"Kita bisa lebih mudah membedakan antara orang NU berpaham Aswaja dengan orang Wahabi. Akan tetapi, kita sangat sulit menghadapi dua virus berbahaya yang menjelma seperti siluman. Yakni Aswaja Rasa Wahabi (Asrabi) dan NU Rasa Wahabi (Nurabi)," katanya.

Terlebih, lanjut Uji, virus ini terkadang duduk sebagai pengurus NU yang bisa menjadi seperti duri dalam daging. Selain itu, ada pula beberapa pihak yang masuk ke struktural NU dengan membawa beragam kepentingan.

"Kepentingan itu seperti ingin membesarkan bisnisnya, mencari legalitas yayasan atau pondok pesantren pimpinannya, karena khawatir kalau tanpa NU mereka akan kehilangan jama'ah atau massanya," ungkap Pimpinan Padepokan Dakwah Sunan Kalijaga (Padasuka) Kota Bekasi ini.

Presiden Paguyuban Jubah Ireng (PJI) ini menyarankan, agar yang duduk di dalam kepengurusan PCNU Kota Bekasi bukan hanya dilihat dari keilmuan, gelar akademik, pemimpin sebuah pondok pesantren, dan pemilik yayasan saja.

"Tetapi hendaknya mereka itulah yang punya keberanian membela NU secara kaffah. Mampu memperjuangkan NU dengan sepenuh jiwa dan raganya," tandas Uji.

Menurutnya, sebuah organisasi apa pun jenisnya, jangan hanya bertumpu pasa kuantitas, karena yang lebih penting adalah soal kualitas. "Buat apa menang secara kuantitas tapi kualitasnya nol? Lebih baik itu kualitasnya teruji, walau dalam segi kuantitas tidak banyak," pungkas pria yang gemar berpakaian serba hitam dan berambut gondrong ini. (Aru Elgete/Muiz)