::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::  Kuliah Plus Ngaji? Ke UNSIQ Wonosobo aja, -Memadukan mutiara luhur tradisi pesantren dan keunggulan Universitas Modern- Kunjungi http//:pmb.unsiq.ac.id. 081391983830 (Latu Menur Cahyadi)::: 

Politik Hanya Momentum, Meneguhkan Kaderisasi PMII Setiap Waktu

Rabu, 08 Agustus 2018 05:00 Esai

Bagikan

Politik Hanya Momentum, Meneguhkan Kaderisasi PMII Setiap Waktu
Oleh M Aminullah RZ

Sudah sejak lama kita saksikan bersama bahwa polarisasi organisasi mahasiswa menguat tidak saja di kalangan mahasiswa, tetapi juga berimbas di tingkat birokrasi dan tenaga akademik. Kecurigaan tenaga akademik-mahasiswa terus mewarnai kegiatan akademik, terutama di kampus-kampus Islam. Sebuah label organisasi tertentu kadang menjadi tolak ukur penilaian akademik mahasiswa. Prestasi dan kemampuan mahasiswa dalam akademik terkadang tidak dipandang atau dinilai baik hanya karena faktor bendera organisasi yang berbeda. 

Saya menilai situasi semacam ini sangat berdampak negatif bagi pengembangan dunia akademik. Kondisi seperti demikian harus segera dihilangkan, agar tidak berkembang terus menerus dan biarkan yang berlalu menjadi sejarah yang jangan sampai terulang.

Salah satu ideologi yang diajarkan dalam PMII adalah Nilai Dasar Pergerakan, yakni mengedepankan sikap (tasamuh), yakni Hablumminannas, bersikap penuh toleransi dan kemanusiaan. Dengan ideologi ini, PMII mampu berinteraksi dengan berbagai kalangan dan latar belakang yang berbeda. Dalam PMII, tidak ada ajaran bahwa siapa kawan dan siapa lawan sebagaimana ajaran doktrin PKI. Sikap toleransi semacam ini juga berdampak pada lemahnya militansi kader. Perjuangan dalam kebersamaan 'Sahabat' semestinya terefleksikan dalam kehidupan nyata, namun banyak diantara  kader dan anggota PMII sendiri memiliki sikap suudzon.

Saya melihat situasi demikian adalah imbas daripada politik di internal PMII, antara senior satu dengan yang lainnya terjadi kesenjangan yang berkepanjangan sehingga menurun pada juniornya, dan pola seperti ini terus menerus dilestarikan. Inilah justru kelemahan dan rapuhnya persahabatan di antara kader PMII yang semestinya berjuang memperkuat satu dengan yang lainnya. Saya harus tegaskan, bahwa politik hanya momentum, sedangkan meneguhkan kaderisasi itu setiap waktu.

Maka PMII harus meneguhkan kembali sebagai organisasi pengkaderan dan perjuangan yang meliputi pembinaan kepemimpinan, intelektualisme dan profesionalisme, serta organisasi perjuangan yang terus menyampaikan ide-ide kritis terhadap kebijakan pemerintah yang kontekstual. PMII juga harus mengambil momentum untuk menanggapi isu-isu yang terjadi hari ini, melihat kondisi sikap intoleran kian mewarnai demokrasi sekarang ini. Saya melihat hanya NU yang menjadi garda terdepan dalam membendung isu-isu yang merebak saat ini, seperti penggembosan Islam Nusantara.

Kader PMII sekarang harus menyampaikan pikiran-pikiran kritis dengan didasari kemampuan intelektual yang tinggi. Perjuangan PMII sangat diperlukan hari ini dalam membina persatuan yang merupakan pancaran dari slogan 'Tangan Terkepal dan Maju ke Muka' mestinya terefleksikan dalam menanggapi isu-isu terkait fenomena yang menggerogoti ideologi bangsa sekarang ini.

Saat ini, saya merasakan banyak kader PMII yang melupakan AD organisasi PMII yang membawa bendera Ahlussunnah wal Jamaah, karenanya harus ada terobosan baru untuk meningkatkan eksistensi tradisi dzikir, fikir, amal shaleh, sehingga rumusan yang baik dalam perekrutan kader tidak kering, dan juga untuk menjaga generasi dari organisasi-organisasi Islam transnasional.

Penulis adalah alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Ciputat.