::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Tiga Model Kiai Menurut Ketua PCNU Kota Bekasi

Jumat, 10 Agustus 2018 10:00 Daerah

Bagikan

Tiga Model Kiai Menurut Ketua PCNU Kota Bekasi
Ketua PCNU Kota Bekasi, KH Zamakhsari A. Majid
Bekasi, NU Online
Dalam tradisi keulamaan di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU), Ketua Pengurus Cabang (PC) NU Kota Bekasi, KH Zamakhsyari Abdul Majid menyebutkan ada tiga model kiai. Yakni kiai sembur, kiai tandur, dan kiai catur. 

Hal tersebut diungkapkan saat berdiskusi santai di Kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bekasi, Komplek Islamic Centre KH Noer Ali, Jalan Ahmad Yani, Margajaya, Bekasi Selatan, pada Kamis (9/8) siang.

Menurutnya, kiai sembur adalah tokoh ulama di kampung yang berkenaan dengan praktik klenik. Membacakan mantra-mantra atau ajian agar hidup menjadi berkah. Bahkan tak jarang, kiai sembur ini memiliki keahlian di bidang ilmu kebatinan dan kanuragan.

"Itu kiai sembur, membacakan dengan doa-doa di air putih dan kemudian bisa menyembuhkan orang sakit atas seizin Allah. Kerjanya lebih kepada mengurusi santri dan masyarakat di rumah atau pondok pesantren," jelas Kiai Zamakhsyari.

Sementara kiai tandur, lanjutnya, merupakan sosok ulama yang memiliki banyak usaha. Namun sayang, kiai tandur ini seringkali menjadi pengemis harta dan kedudukan karena penguasaan ilmu pengetahuan. "Tapi kiai tandur ini adalah sosok ulama yang memiliki ekonomi yang cukup," lanjut Ketua Umum MUI Kota Bekasi ini.

Sedangkan kiai catur merupakan tokoh panutan ulama yang lintas sektoral. Kemampuannya adalah menguasai lapangan, dan memiliki mobilitas yang tinggi.

Kiai Zamakhsyari menambahkan, kiai catur inilah yang dibutuhkan oleh NU. Yakni sosok yang berkeinginan untuk selalu bekerja dalam rangka menghidupi organisasi. Karena menurutnya, kiai catur selalu rela berkorban dan berjuang untuk NU.

"Kiai catur ini ya seperti di dalam permainan catur. Dia rela berhadapan dengan siapa pun. Tapi tetap punya jiwa kepemimpinan. Itu yang penting. Di samping mobilitas yang tinggi, leadership tetap terjaga," jelas Kiai Zamakhsyari.

Untuk menjaga marwah NU dari kepungan para pembenci, maka NU secara organisasi membutuhkan sosok atau figur kepemimpinan. Kiai catur itulah yang bisa membawa NU pada kemuliaan, menjadikan NU sebagai organisasi Islam kemasyarakatan yang disegani.

"Selama ini, NU itu disegani karena sosok ketuanya. Jiwa kepempinan dan mobilitas dari pimpinan NU itu penting untuk menunjang NU ke depan menjadi lebih baik," katanya.

Sebagai informasi, pada Desember 2018 mendatang, PCNU Kota Bekasi akan melaksanakan Konferensi Cabang (Konfercab) IV, sedangkan Kiai Zamakhsyari sudah tiga periode, sejak 2003, memimpin NU di Bumi Patriot ini.

"Kita butuh regenerasi yang punya jiwa kepemimpinan dan mobilitas ke-NU-an yang tinggi," tutup Kiai Zamakhsyari. (Aru Elgete/Muiz)