::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Syarat-syarat Khutbah dan Penjelasannya (II-Habis)

Ahad, 12 Agustus 2018 15:00 Jumat

Bagikan

Syarat-syarat Khutbah dan Penjelasannya (II-Habis)
Di tulisan sebelumnya telah kami sampaikan bahwa syarat sah pelaksanaan khutbah Jumat ada 12. Pada tulisan tersebut, telah kami jelaskan enam syarat. Pada tulisan ini akan kami lanjutkan syarat berikutnya hingga syarat ke dua belas. Berikut ini penjelasannya.

Baca: Syarat-syarat Khutbah dan Penjelasannya (I)
Syarat ketujuh, khutbah harus dilakukan dengan berdiri.

Khutbah Jumat harus dilakukan dengan berdiri bagi orang yang mampu. Tidak sah dilakukan dengan duduk. Bila tidak mampu berdiri, misalkan karena sakit atau faktor usia, maka boleh dilakukan dengan duduk. Bila tidak mampu duduk, maka boleh dengan cara tidur miring.

Bagi khatib yang tidak mampu berdiri, tetap sah bertindak sebagai khatib meski ditemukan orang lain yang mampu melaksanakan khutbah dengan berdiri. Namun yang lebih utama adalah digantikan orang lain yang mampu berdiri.

Syekh Nawawi Banten mengatakan:

 وقيام قادر ) فيهما جميعا فإن عجز عنه خطب جالسا ولو مع وجود القادر والأولى للعاجز الاستنابة

“Dan disyaratkan berdiri bagi yang mampu di keseluruhan kedua khutbah, jika tidak mampu berdiri, maka cukup berkhutbah dengan duduk, meski ditemukan orang yang mampu berdiri. Dan yang lebih utama bagi yang tidak mampu adalah menggantikannya dengan orang yang mampu berdiri”. (Syekh Nawai Banten, Nihayah al-Zain, juz 1 hal. 141).

Syekh Habin Muhammad bin Ahmad al-Syathiri mengatakan:

فإن عجز خطب جالسا فإن عجز اضطجع والأولى له الاستخلاف

“Jika tidak mampu berdiri, maka cukup berkhutbah dengan duduk, jika tidak mampu duduk, maka berkhutbah dengan posisi tidur miring. Yang lebih utama bagi yang tidak mampu adalah menggantikan dirinya dengan orang yang mampu berdiri”. (Syekh Muhammad bin Ahmad al-Syathiri, Syarh al-Yaqut al-Nafis, hal. 241).

Syarat kedelapan, disertai duduk di antara dua khutbah.

Khutbah jumat yang dilaksanakan sebanyak dua kali, di antara kedua khutbahnya harus dipisah dengan duduk. Standar minimal duduk di antara dua khutbah adalah kadar minimal thuma’ninah dalam shalat, yaitu diam sekira cukup untuk membaca subhanallah.

Bagi khatib yang tidak mampu berdiri, memisah dua khutbah baginya adalah dengan cara diam sejenak melebihi durasi diam untuk mengambil nafas dan tersengal-sengal. Demikian pula bagi khatib yang mampu berdiri, namun tidak mampu duduk untuk memisah di antara dua khutbahnya.

Disunnahkan kadar pemisah di antara dua khutbah, sekiranya cukup membaca surat al-Ikhlash. Demikian pula dianjurkan bagi khatib membacanya saat duduk atau berhenti sejenak (bagi yang tidak mampu) untuk memisah dua khutbah jumat.

Syekh Nawawi Banten mengatakan:

 وجلوس بينهما ) بطمأنينة في جلوسه وجوبا ومن خطب قاعدا لعذر أو قائما وعجز عن الجلوس أو مضطجعا للعجز فصل بينهما بسكتة وجوبا فوق سكتة التنفس والعي ويسن أن تكون الجلسة أو السكوت بقدر سورة الإخلاص وأن يقرأها في ذلك

“Dan disyaratkan duduk di antara dua khutbah disertai thumaininah. Orang yang berkhutbah duduk karena uzur, atau mampu berdiri namun tidak mampu duduk, atau berkhutbah dalam posisi tidur miring karena tidak mampu, ia memisah di antara dua khutbahnya dengan diam sejenak melebihi durasi diam untuk mengambil nafas dan tersengal-sengal. Disunnahkan duduk atau diam sejenak tersebut dengan kadar durasi membaca surat al-ikhlas dan bagi khatib disunnahkan membacanya saat kondisi tersebut”. (Syekh Nawai Banten, Nihayah al-Zain juz 1 hal. 141).

Syarat kesembilan, terus-menerus di antara rukun-rukun khutbah.

Rukun-rukun khutbah harus dibaca secara berkesinambungan, tidak boleh ada jeda atau pemisah berupa pembicaraan lain yang menyimpang dari isi khutbah. Tidak termasuk pemisah yang merusak keabsahan khutbah, materi yang masih berkaitan dengan khutbah, meski panjang dan lama, karena hal tersebut tergolong kemashlahatannya khutbah.

Syekh Sulaiman al-Bujairimi mengatakan:

  وولاء ) بينهما وبين أركانهما وبينهما وبين الصلاة
 قوله وبين أركانهما ) ولا يقطعها الوعظ وإن طال لأنه من مصالح الخطبة فالخطبة الطويلة صحيحة كما قرره شيخنا

“Dan disyaratkan terus menerus di antara dua khutbah, di antara rukun-rukunnya dan di antara dua khutbah dan shalat jumat. Ucapan di antara rukun-rukunnya, maksudnya tidak dapat memutus syarat berkesinambungan, mauizhah khutbah meski panjang karena termasuk kemashlahatan khutbah, maka khutbah yang panjang hukumnya sah sebagaimana ditegaskan oleh guru kami”. (Syekh Sulaiman al-Bujairimi, Hasyiyah al-Bujairami ‘ala Fath al-Wahhab, juz 4, hal. 94).

Syarat kesepuluh, terus menerus antara khutbah dan shalat Jumat

Yang dimaksud terus menerus di sini adalah jarak antara khutbah dan shalat Jumat tidak boleh terlalu lama, sekiranya setelah khutbah kedua selesai, takbiratul ihramnya shalat jumat dilakukan sebelum melewati masa yang cukup untuk melakukan shalat dua rakaat dengan standar umum yang paling ringan (tidak terlalu panjang dan lama). 

Syekh Muhammad bin Ahmad al-Syathiri mengatakan:

والموالاة بينهما وبين الصلاة بأن يحرم بالصلاة قبل أن يمضي بعد انتهاء الثانية ما يسع ركعتين بأخف ممكن 

“Dan disyaratkan terus menerus antara kedua khutbah dan shalat jumat, dengan sekira takbiratul ihram shalat jumat dilaksanakan sebelum melewati masa yang cukup untuk melakukan dua rakaat shalat dengan standar umum yang paling ringan”. (Syekh Muhammad bin Ahmad al-Syathiri, Syarh al-Yaqut al-Nafis, hal. 242).

Syarat kesebelas, khutbah harus berbahasa Arab.

Yang dimaksud dengan syarat berbahas Arab di sini adalah hanya rukun-rukun khutbah saja, meliputi bacaan hamdalah, shalawat, pesan bertakwa, bacaan ayat suci al-Quran dan bacaan doa untuk kaum muslimin muslimat.

Sedangkan untuk selainnya, diperbolehkan menggunakan bahasa non Arab, seperti yang terlaku di Negara kita, penjelasan isi khutbah biasanya menggunakan bahasa Indonesia. Hal tersebut diperbolehkan dan tidak termasuk memutus kewajiban muwalah (terus menerus) di antara rukun-rukun khutbah.

Al-Syaikh Abu Bakr bin Syatha’ mengatakan:

  و ) شرط فيهما ( عربية ) لاتباع السلف والخلف
 ( قوله وشرط فيهما ) أي في الخطبتين والمراد أركانهما كما في التحفة الى أن قال وكتب سم ما نصه قوله دون ما عداها يفيد أن كون ما عدا الأركان من توابعها بغير العربية لا يكون مانعا من الموالاة اه قال ع ش ويفرق بينه وبين السكوت بأن في السكوت إعراضا عن الخطبة بالكلية بخلاف غير العربي فإن فيه وعظا في الجملة فلا يخرج بذلك عن كونه في الخطبة اه

“Disyaratkan dalam dua khutbah memakai bahasa Arab, maksudnya hanya rukun-rukunnya saja seperti keterangan dalam kitab al-Tuhfah, karena mengikuti ulama salaf dan khalaf. Syaikh Ibnu Qasim menulis, kewajiban memakai bahasa Arab terbatas untuk rukun-rukun khutbah memberi kesimpulan bahwa selain rukun-rukun khutbah yaitu beberapa materi yang masih berkaitan dengan khutbah yang diucapkan dengan selain bahasa Arab tidak dapat mencegah kewajiban muwalah di antara rukun-rukun khutbah. Syaikh Ali Syibramalisi mengatakan, Hal ini dibedakan dengan diam yang lama yang dapat memutus muwalah karena di dalamnya terdapat unsur berpaling dari khutbah secara keseluruhan. Berbeda dengan isi khutbah dengan selain bahasa Arab yang di dalamnya terdapat sisi mau’izhah secara umum, sehingga tidak mengeluarkannya dari bagian khutbah”. (Syaikh Abu Bakr bin Syatha, I’anah al-Thalibin, juz 2, hal. 117, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut, cetakan ketiga, tahun 2007).

Syarat keduabelas, khutbah dilakukan di waktu zhuhur.

Khutbah harus dilaksanakan di waktu zhuhur, sebagaimana keberadaan shalat jumat sendiri. Karena posisinya khutbah menempati tempatnya dua rakaat shalat.

Demikian penjelasan terkait syarat sah pelaksanaan khutbah Jumat. Semoga bermanfaat dan dipahami dengan baik. Kami terbuka untuk menerima saran dan kritik. (M. Mubasysyarum Bih)