::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::  Kuliah Plus Ngaji? Ke UNSIQ Wonosobo aja, -Memadukan mutiara luhur tradisi pesantren dan keunggulan Universitas Modern- Kunjungi http//:pmb.unsiq.ac.id. 081391983830 (Latu Menur Cahyadi)::: 

TWEET TASAWUF

Kriteria Pemimpin dalam Pandangan Tasawuf

Senin, 13 Agustus 2018 09:30 Nasional

Bagikan

Kriteria Pemimpin dalam Pandangan Tasawuf
KH M. Luqman Hakim (istimewa)
Jakarta, NU Online
Pakar Tasawuf KH M. Luqman Hakim memberikan penjelasan terkait kriteria pemimpin yang pantas menakhodai orang banyak. Ia memaparkan bahwa seorang pemimpin harus berdiri di atas kepentingan rakyat banyak. Bahkan seorang pemimpin mampu melihat satu per satu kepentingan rakyatnya.

“Seorang pemimpin berdiri di hadapan 200 juta lebih rakyatnya. Ia pandang satu persatu bola matanya hingga ke matahatinya. "Rakyatku...oh rakyatku..." sembari bersujud di hadapan Tuhannya,” ujar Kiai Luqman dikutip NU Online, Senin (13/8) lewat twitternya.

“Sementara pemimpin lain berkata, "Oh nasibku...nasibku..." Siapkah anda seperti yang pertama?” imbuh penulis buku Jalan Ma’rifat ini.

Pengasuh Pondok Pesantren Raudhatul Muhibbin Caringin, Bogor, Jawa Barat ini juga menguraikan tentang sifat ksatria seorang pemimpin. Pemimpin tidak hanya harus membela rakyatnya di dunia, tetapi juga di akhirat.

“Seorang Pemimpin yang Kesatria akan selalu membela rakyatnya, bahkan di depan Tuhannya. Bukan membela dirinya, bukan harga dirinya, bukan keluarganya juga bukan golongannya,” jelas Kiai Luqman.

Pemimpin besar, menurutnya, melihat dunia hanya sebesar bola pingpong. Bahkan sebesar biji lada. Siang hari bagai ksatria membela negeri dan bangsanya. 

“Malam hari tersungkur remuk redam dalam sunyi gulita dirinya. Hatinya menangis merderu di hadapan Tuhannya. Bukan aktor sandiwara,” tandas Kiai Luqman mengumpakan. (Fathoni)