::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::  Kuliah Plus Ngaji? Ke UNSIQ Wonosobo aja, -Memadukan mutiara luhur tradisi pesantren dan keunggulan Universitas Modern- Kunjungi http//:pmb.unsiq.ac.id. 081391983830 (Latu Menur Cahyadi)::: 

O. Hulaemi, Ajengan Kuntet dari Garasi

Rabu, 22 Agustus 2018 06:00 Tokoh

Bagikan

O. Hulaemi, Ajengan Kuntet dari Garasi
Kehadiran majalah ini menjadi penting karena di Tasikmalaya pada saat itu terdapat pula kumpulan para ulama yang didukung oleh pemerintah yaitu Perkumpulan Guru Ngaji (PGN) yang didirikan oleh Bupati Tasikmalaya yaitu R.A.A. Wiratanuningrat. Ulama yang ada dalam organisasi ini dikenal juga dengan sebutan ulama Idhar. Ulama Idhar menerbitkan pula majalah yang bernama Al-Imtisal.

Antara ulama NU dan ulama Idhar menujukkan adanya persaingan. Kedua kelompok ulama sering berpolemik dalam hal masalah keagamaan dan politik khususnya dalam kaitan dengan sikap terhadap pemerintah. Persaingan ini nampak dari isi majalah Al-Mawa’idz dan Al-Imtisal yang kadang-kadang terjadi polemik. Dalam majalah Al-Mawaidz nama Pak Emi disamarkan menjadi nama K. Kuntet dari Garage (garasi).

Beberapa orang menyangka nama itu adalah Kiai Buntet dari Cirebon. Padahal nama itu adalah nama samaran yang diberikan oleh Sutisna Senjaya kepada Pak Emi yang berarti kiai pendek, kecil yang ngantor di garasi (garage bahasa Belanda)” karena Al-Mawaidz berkantor menyewa di garasi.

Pak Emi, ketika Sutisna Senjaya diminta para kiai untuk menjadi ketua NU, ia meminta Pak Emi untuk mendampinginya. Ia kemudian menjadi Sekretaris NU Cabang Tasikmalaya di samping mengurusi Majalah Al-Mawaidz. 

Ayah Pak Emi lahir di Beber, Cirebon setelah keluar. Setelah keluar dari Verpoleng (SD zaman Belanda, ayahnya menginginkan dia untukk menjadi pegawai pemerintah. Hal itu berbeda dengan ibunya yang menginginkan Pak Emi menjadi seorang ajengan. 

Keluar dari sekolah pernah bekerja sebagai juru tulis di pabrik pad Cikampek dengan gaji f 15 (lima belas ferak) sebulan, tambah bonus 1 sen saru dacin. Tiap hari bisa mengahasilkan 50 SM 100 dacm. Penghasilannya untung untuk ukuran waktu itu sebab harga beras waktu itu hanya 4 sen/kg, daging 6 sen/kg dan ikan 4 sen/kg. 

Baru beberapa bulan jadi juru tulis di sana kemudian ditarik oleh orang tua lalu dimasukkan ke Pesantren Cihaur, Ciawi Gebang, Kuningan dari tahun 1922 sampai tahun I925. Pindah ke Pesantren Ciwaringin disana sampai tahun 1928. Bulan Rayagung pindah lagi ke Pesantren Cikalang, Tasikmalaya, bulan Jumadil awal menikah di Cikalang tanpa memberitahu orang tua di Cirebon.

Ayahanda agak “bendu” sebab ayahnya sudah punya janji dan akan dikawinkan dengan putri Ajengan Amin, kepada adik yang menikah dengan A. Sanusi Catayan, Sukabumi. 

Waktu pondok di Ciwaringin H. Maemunah IH. Irsyad pemah menitipkan anaknya dan beliaupun membcri bekal. Temyata tahu belakangan beliau ada maksud mengambil mantu kepada Pak Emi, Pak Emi panjang lebar menerangkan tentang istrinya yang besar jasanya dalam meniti karier beliau selanjutnya. (Abdullah Alawi)