::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Ekstrem Negatif dan Positif Sosok Haji dalam Novel Sunda

Selasa, 28 Agustus 2018 01:30 Daerah

Bagikan

Ekstrem Negatif dan Positif Sosok Haji dalam Novel Sunda
Bandung, NU Online
Budayawan Hawe Setiawan, menjelaskan ada dua penggambaran sosok haji dalam sastra Sunda. Pertama citra yang negatif dan kedua yang positif. Ia menyebut sangat ekstrem dalam penggambaran citra haji itu.  

“(Penggambaran) ekstrem haji itu buruk sekali. Saya ksih contoh dari Pak Sayudi terbitan tahun 83,” katanya pada diskusi rutin Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU Jawa Barat di kediaman Enjang AS Cibiru, Kota Bandung, Ahad (26/8). 

Baca: Lakpesdam NU Jawa Barat Bincang Serial NU Sunda
Baca: Pergumulan NU dan Kesundaan Belum Digali Mendalam
Menurut kolumnis yang gemar bersepeda ini, di dalam karya Sayudi tersebut, ada dua sosok haji yang sama-sama bertabiat buruk, Haji Umar dan Haji Syukur. 

“Taya dua Haji Umar katelahna nu boga adat fidunya, haji keling taya tanding, sarakah mamawa lurah, sakait jeung juru tulis,” pria kelahiran Subang mengutip novel tersebut, “jelek sekali kan? Dia (Haji Umar) kongkalikong dengan pejabat, terus materialistis,” lanjutnya. 

Penggambaran Haji Syukur, tambah pengamat sastra ini, meski namanya bagus, tapi berlainan dengan tabiatnya. 

Sambian maluruh catur, laku Ki Haji Syukur nu racak tapak pangupat, nu ledug tapak penyebut, anyar jegud benang munjung, pajar teu modalan, Kang Haji kaintip nyegik,” kutipnya. 

(Terjemah bebasnya: Haji Syukur seorang yang banyak digunjing orang, kaya mendadak dari memuja babi)

Menurut Hawe, penggambaran tersebut sangat kontradiktif karena Haji Syukur beribadah (berhaji, red.) dengan harta buah dari cara yang tidak islami. 

“Korupsi dulu terus umrah gitu kan sama saja polanya. Itu esktrem satu,” katanya.  

Menurut dia, citra buruk haji, bisa ditemukan di beberapa karya Pramudya Ananta Toer, terutama di novel Arus Balik. Di novel itu penulis menceritakan seorang keturunan Syahbandar yang berhidung melengkung. 

Kalau kita runut ke belakang, sambungnya, penggambaran haji yang demikian, muncul dalam karya-karya sastra Belanda, misalnya pada novel De Stille Kracht (Tenaga Tersembunyi) karya Louis Couperus. Penulisnya, sekitar tahun 30-an pernah ke Indonesia (waktu itu Hindia Belanda). 

“Di novel itu tokoh hantu haji; seperti ikut mencerminkan ketakutan kolonialisme terhadap Islam,” terangnya. 

Kemudian Hawe menjelaskan penggambaran yang sangat bagus tentang sosok haji, misalnya di karya Syarif Amin, berjudul Nyi Haji Saonah. 

“Ini cerita cinta ya sebetulnya. Di situ ada dua haji, Haji Saonah sendiri dan suaminya Haji Siroj. Saya kutip ada gambaran Haji Siroj: ‘Ari parung pasanggrok di jalan eta manehna dina sado, kuring leumpang, Haji Siroj meni sok dongko-dongko bae bari nyekelan ples teh. Jelema handap asor kasebut beungharna’,” ungkapnya.  

Pria berkacamata yang terampil membuat sketsa ini menjelaskan, di novel itu, Haji Siroj adalah sosok kaya raya yang nyantri. Kekayaannya merupakan hasil dari bisnis halal yang tidak membuatnya angkuh, melainkan rendah hati. (Abdullah Alawi)