::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Perlunya Gerakan Penulisan Sejarah dengan Kacamata Santri

Ahad, 02 September 2018 09:30 Nasional

Bagikan

Perlunya Gerakan Penulisan Sejarah dengan Kacamata Santri
Tangerang Selatan, NU Online
Khazanah intelektual di Nusantara begitu kaya. Para ulama sejak dahulu sudah menulis kitab dengan berbagai fan keilmuan. Namun, hal demikian belum banyak dikaji.

Ketua Program Studi Sarjana Islam Nusantara, Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta Ahmad Ginanjar Sya'ban mengatakan perlunya hal tersebut menjadi sebuah gerakan nasional untuk mencetak generasi baru. Yakni santri yang peneliti dan akademisi serta peneliti dan akademisi yang santri.

"Saya pikir harus menjadi gerakan nasional untuk mempertahankan warisan intelektual menjadi alam yang hidup di bawah kesadaran kita," ujarnya saat mengisi kajian di Islam Nusantara Center (INC) Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, pada Sabtu (1/9).

Bahkan, sampai saat ini, belum ditemukan kitab peninggalan Kerajaan Demak. Mengingat demikian, Direktur INC itu menyatakan harus ada pembentukan tim riset guna menelusuri keberadaannya.

"Harus dibikin tim riset untuk menggali bagaimana peninggalan-peninggalan Demak yang bersifat fisik. Bukan hanya artefak seperti masjid, tapi juga karya tulis intelektual," katanya.

Hal ini, menurutnya, bisa menjadi rekomendasi kepada Wakil Gubernur Jawa Tengah, H Taj Yasin MZ. "Kan orang santri. Tinggal bikin program," ujarnya. Pasalnya, hal tersebut merupakan bagian dari identitas bangsa yang mesti diketahui.

Ulil Abshar Abdalla memperkuat usulan tersebut. Menurutnya, kacamata santri perlu digunakan dalam penulisan sejarah.

"Perlu penulisan sejarah dalam kacamata santri," ungkapnya.

Diskusi rutin bertema Islam Nusantara dan Poros Studi Islam ini dihadiri puluhan orang dari berbagai kalangan. (Syakir NF/Ibnu Nawawi)