::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Uniknya Pemilihan Pengurus di SMA 3 Bilingual Pesantren Rejoso

Senin, 03 September 2018 17:30 Daerah

Bagikan

Uniknya Pemilihan Pengurus di SMA 3 Bilingual Pesantren Rejoso
Suasana pemilihan Ketua OSIS di SMA 3 Darul Ulum.
Jombang, NU Online
Sekolah Menengah Atas (SMA) 3 Bilingual Pesantran Darul Ulum Rejoso, Peterongan, Jombang, Jawa Timur punya hal unik dalam pergantian pengurus Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). Hal uniknya yaitu kepala sekolah, guru, staf sekolah dan peserta didik semuanya ikut nyoblos di Tempat Pemungutan Suara (TPS).

Menurut guru SMA 3 Darul Ulum Mohamad Erlangga Bicky Hananta, pemilihan pengurus OSIS di sekolahnya dibuat layaknya pemilihan kepala daerah yang dilakukan Komisi Pemilihan Umum (KPU).

"Ya, di sini hampir sama seperti pemilu pada umumnya, para guru dan staf juga ikut nyoblos. Biasanya di sekolah lain siswa-siswi saja, tapi di sini beda," jelasnya, Senin (4/8).

Pria yang akrab disapa Rangga ini menceritakan dalam pemilihan ketua OSIS  di SMA 3 Darul Ulum diikuti oleh tujuh calon. Mereka akan melalui tahap pendaftaran, debat kandidat, kampanye dan pemilihan langsung. Syarat menjadi ketua OSIS harus siswa-siswi kelas X dan XI.

Calon ketua OSIS yang pria dihiasi dengan blangkon, baju hitam, celana hitam dan batik yang melilit di pinggang. Untuk calon ketua OSIS perempuan, lebih sederhana dengan hanya menggunakan baju rapi dan jilbab. Semua kandidat berada di atas panggung yang disediakan panitia.

"Debatnya dibuat konsep seperti pemilihan gubenur, asyik dan menarik. Panitia pemilihannya atau yang bertindak jadi KPU adalah pengurus OSIS yang akan diganti. Sekalian latihan organisasi dan mengelola sebuah acara," tambahnya.

Menurut Rangga, pemilihan ketua OSIS juga dihiasi pentas seni dari para peserta didik seperti Flash Mob Asian Games 2018, tari kipas, drama dan musik. Hal ini digunakan untuk menarik minat para siswa-siswi dan antisipasi adanya golongan putih atau Golput.

Pembelajaran demokrasi harus dibiasakan sejak dini agar generasi bangsa tidak menjadi individu kaku dan takut berbeda. “Dengan memiliki sikap demokrasi seseorang akan berkompetensi secara sehat dan jujur,” ujarnya.

Menurutnya banyak ilmu yang dapati siswa-siswi dari kegiatan ini. Seperti belajar public speaking, membuat sebuah acara, mempengaruhi orang lain dan belajar manajemen organisasi. “Makanya setiap tahun kita buat acara ini," pungkas Rangga. (Syarif Abdurrahman/Ibnu Nawawi)