::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::  Kuliah Plus Ngaji? Ke UNSIQ Wonosobo aja, -Memadukan mutiara luhur tradisi pesantren dan keunggulan Universitas Modern- Kunjungi http//:pmb.unsiq.ac.id. 081391983830 (Latu Menur Cahyadi)::: 

Tuan Syekh Djalaluddin Pane Parsambilan dan Gerakan Aswaja di Tapanuli (5)

Jumat, 07 September 2018 07:00 Fragmen

Bagikan

Tuan Syekh Djalaluddin Pane Parsambilan dan Gerakan Aswaja di Tapanuli (5)
(Foto: reuters)
Menikah dengan Boru Tulang
Bertahun-tahun lamanya Djalaluddin di Paran Padang untuk mengajarkan agama Islam dan juga terus belajar untuk meningkatkan kapasitas diri. Pada tahun kelima, ia berniat berumah tangga. Namun sebelum menikah, walaupun belum jelas siapa perempuan yang akan ia nikahi, ia ingin berziarah ke makam ibunya dan bersilaturrahmi dengan keluarga ibunya di Sibadoar untuk meminta restu.

Awalnya, rencana Djalaluddin ke Sibadoar ditentang oleh saudara-saudara mendiang ayahnya di Paran Padang karena dikhawatirkan jika dendam lama itu akan terungkit kembali. Tetapi karena Djalaluddin tetap teguh pada keinginannya, akhirnya ia mendapatkan izin dari saudara-saudara ayahnya tersebut.

Namun ketika Djalaluddin sampai di Sibadoar, ia disambut dingin, hambar. Kelihatannya, semua sanak famili dari pihak ibunya ini kurang senang kepadanya. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh dendam lama yang masih ada dan belum terbalas.

Mengetahui hal tersebut, Djalaluddin ingin mendamaikan kedua keluarganya ini salah satunya dengan menikahi gadis dari Sibadoar yang pernah dikenalnya waktu kanak-kanak dulu, yaitu boru tulang (putri dari abang mendiang ibunya).

Menurut adat, perempuan yang mempunyai hubungan famili seperti itulah yang paling baik dipilih untuk djadikan istri. Kebetulan si gadis itu berhati polos, tidak turut campur tangan terhadap dendam orang tua. Si gadis itu juga menyukai Djalaluddin.

Djalaluddin kemudian melamar boru tulang itu, tetapi keluarga calon mertuanya keberatan. Secara tegas, lamaran tersebut ditolak karena alasan dendam yang belum terbalas. Tetapi, penolakan tersebut tidak membuat mundur Djalaluddin. Cinta kedua insan ini terlalu kuat untuk dihalangi. Keduanya kemudian kabur, melarikan diri ke Paran Padang.

Akhirnya pernikahan keduanya dilaksanakan juga di Paran Padang dengan cara yang sederhana, di mana sanak famili kedua belah pihak yang telah sekian lama saling mendendam itu secara terpaksa harus mencari jalan damai sehingga tujuan Djalaluddin untuk mendamaikan kedua sanak familinya ini berhasil.

Apalagi menjelang pernikahan, Djalaluddin telah berhasil mengislamkan calon istrinya yang sebelumnya berpaham pelbegu. Dengan adanya pernikahan ini, sampai sekarang, hubungan dua desa itu terjalin damai.

Ujian Rumah Tangga dan Ketegaran Berdakwah
Sejak pernikahan itu, Djalaluddin semakin matang. Sebagai seorang alim yang merangkap datu (tabib), membuat dirinya semakin dikenal masyarakat. Inilah mungkin bentuk pengabulan Allah SWT terhadap harapan ayahnya menjelang dieksekusi, dihukum pancung, “Mudana dengan do ugamo Silom na ro i, lehenma gogo dohot hasangapan tu anakku si sada-sada on.” (Kalau memang baik agama Islam yang datang itu, berikanlah kekuatan dan wibawa kepada putra tunggalku ini).

Djalaluddin pun terus berdakwah. Tanpa pamrih, ia terus berdakwah ke desa-desa yang berada di wilayah Sipirok. Ia berdakwah dengan keteladanan sehingga disukai masyarakat dan namanya pun semakin terkenal.

Namun, Allah SWT selalu menguji hamba-hamba-Nya untuk mencapai derajat yang lebih tinggi lagi dari derajat yang sudah dicapai sebelumnya. Istri tercinta Djalaluddin diwafatkan Allah SWT setelah mempunyai dua orang putri yang bernama Siti Rofah dan Renggana yang sedang menginjak remaja. Djalaluddin menerima ini sebagai ujian agar ia semakin bertawakkal.

Beberapa tahun setelah istrinya wafat, Djalaluddin menikah lagi dengan seorang gadis, boru Harahap, dari Paran Batu yang kemudian wafat setelah mempunyai seorang putri bernama Nurmia.

Setelah dua kali menikah dan ditinggal wafat istri-istrinya, Djalaluddin tetap tegar menjalankan hidupnya dan terus berdakwah sampai ke pelosok-pelosok tanah Sipirok. Ia selalu mendapat undangan dari segala penjuru desa untuk mengadakan upacara-upacara agama sampai mendapat panggilan untuk mengobati orang sakit atau orang yang kesurupan.

Namun semangat mengembara tetap membara di dalam diri Djalaluddin. Ia ingin mengembara lagi, pergi keluar dari kampung halamannya, Paran Padang, bahkan keluar dari wilayah Sipirok. Tujuan awalnya adalah ke Padang Lawas.

Keinginannya ini sempat tertunda-tunda karena Belanda telah menguasai penuh Mandailing, Angkola, dan Padang Lawas. Tidak ada lagi perlawanan dari penduduk pribumi.

Setelah situasi dianggap memungkinkan, Djalaluddin memantapkan diri untuk kembali mengembara. Disampaikanlah keinginannya itu kepada saudara-saudaranya di Paran Padang, terutama kepada amang tuanya, Ja Pattis.

Keberangkatan Djalaluddin kali ini ke Padang Lawas memiliki alasan kuat, yaitu wilayah tersebut sedang terjangkit wabah penyakit yang mengerikan.

”Saya terpaksa juga harus berangkat ke sana,” kata Djalaluddin kepada saudara-saudara sepupunya.

“Suka hatimu sendirilah. Tapi, jangan lagi dekati kerbau-kerbau milikku itu!” jawab Panongonan, salah satu sepupunya, anak dari Ja Moppo, yang masih teringat dengan perbuatan Djalaluddin meninggalkan kerbau-kerbau keluarganya di Padang Lawas untuk mengikuti Tuanku Tambuse.

“Kenapa abang masih menyinggung persoalan kerbau?” tanya Djalaluddin.

“Karena engkau dengan cara diam-diam telah meninggalkannya dulu!”

“Apakah ada yang hilang? Jangankan berkurang, kurasa kerbau-kerbau milik abang itu malah bertambah banyak sejak kutinggalkan. Tidakkah abang lihat sendiri bahwa jumlah kerbau itu semakin banyak semenjak kutinggalkan.”

”Ah, pandai bicara saja kau. Memang bertambah banyak karena dijaga secara teliti oleh orang lain,” balas Panongonan dengan nada yang melecehkan.

“Abang!” tiba-tiba Djalaluddin berseru karena tersinggung dan kembali berkata,”Baiklah kalau begitu. Peliharalah baik-baik semua kerbau-kerbau milikmu itu. Hanya pesanku, jika bala penyakit datang menimpa, kuharap agar abang janganlah sesombong itu lagi. Abang, jangankan kerbau, anak abang sendiri pun akan kujaga baik-baik, akan kudoakan agar tetap selamat.”

“Sudahlah, jangan perpanjang lagi, bikin naik darahku saja nanti!” potong Panongonan dengan wajah merah padam.

“Kalau begitu, baiklah. Lihatlah suatu masa kelak, salah seorang dari anak abang akan datang menemuiku minta pertolongan!” ujar Djalaluddin sambil beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan tempat pembicaraaan tersebut.

Setelah Djalaluddin kepada semua amang tuanya dan udanya, Ja Galanggang II, dan juga kepada saudara sepupunya, Tahuru, maka di siang hari ia meninggalkan tanah kelahirannya, Paran Padang, menuju Padang Lawas.

Kehadiran Djalaluddin kembali ke Padang Lawas disambut meriah dan gembira oleh masyarakat setempat. Sambutan itu bukan tanpa alasan. Selain Djalaluddin memang sudah mereka kenal dan dianggap menjadi bagian dari keluarga Padang Lawas, juga karena sedang mewabahnya suatu penyakit yang menyerang peternakan. Sebagian besar kerbau dan lembu telah mati, termasuk kerbau milik Panongonan.

Djalaluddin berusaha mengatasi wabah penyakit yang dahsyat itu dengan cara yang unik. Pertama kali yang dilakukan adalah dengan memasang bendera atau panji-panji di tengah-tengah padang rumput yang luas. Kemudian ia mengadakan pemeriksaan tempat-tempat ternak berada. Tidak lama kemudian, wabah penyakit itu hilang dari Padang Lawas. (bersambung...)


*) Rakhmad Zailani Kiki. Penulis adalah sekretaris RMI NU DKI Jakarta. Ia juga diamanahi sebagai Kepala Divisi Pengkajian dan Pendidikan Jakarta Islamic Centre (JIC).