::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Gelar Konfercab, NU Majalengka Diingatkan Bahaya Wahabi

Ahad, 09 September 2018 20:30 Daerah

Bagikan

Gelar Konfercab, NU Majalengka Diingatkan Bahaya Wahabi
Majalengka, NU Online
Warga NU diminta mewaspadai ajaran Wahabi yang saat ini sudah merangsek masuk ke dalam sendi kehidupan seperti sekolah, pondok pesantren, gerakan radikal dan sejenisnya. Salah satu solusi melawan itu yakni membentengi nadliyin dengan mengamalkan akidah Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

Hal itu disampaikan KH Yusuf Karim pada pembukaan Konferensi Cabang (Konfercab) VII, Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, Ahad (9/9). Kegiatan dipusatkan di Pondok Pesantren Manba'ul Huda, Desa Cisambeng Kecamatan Palasah Kabupaten Majalengka. 

Rais PCNU Kabupaten Majalengka ini menuturkan, ajaran Wahabi saat ini sudah berkembang pesat dan jika dibiarkan akan berbahaya bagi umat Islam. “Karena dapat merusak akidah umat, dan memecah belah persatuan dan kesatuan serta merongrong keberadaan Negara Kesatuan Republik Indonesia atau NKRI,” katanya."

Dan dalam sejarahnya, NU selalu berada di garda terdepan dalam melawan ajaran Wahabi. “Seperti contoh di Arab Saudi dulu, ulama NU melakukan protes ketika makam Nabi Muhammad SAW akan dipindahkan oleh kelompok Wahabi. Dan alhamdulilillah sampai saat ini batal dilaksanakan," katanya saat sambutan. 

Pafa Konfercab, pihaknya berharap kegiatan ini mendapatkan keberkahan dan kelancaran serta ridha dari Allah SWT. Serta misi NU yang paling utama menjaga mazhab Aswaja tidak sampai ternodai oleh kelompok ajaran apapun.  

KH Yusuf Karim bersyukur karena Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) telah melakukan seleksi terhadap para pengurus. "Saat ini ada program dari PBNU dalam menyeleksi setiap pengurus dan anggotanya melalui Madrasah Kader NU,” ungkapnya.

Tujuan madrasah kader agar paham tentang NU. “Sedangkan bagi calon pengurus NU harus lulus madrasah kader, dan jika tidak, maka tidak layak menjadi pengurus," ungkapnya.

Kiai Muhamad Umar mengatakan mulanya pesimistis ketika ditunjuk menjadi ketua panitia. Namun seiring berjalannya waktu, dukungan pelaksanaan Konfercab mengalir dari berbagai kalangan. 
Hal itu dibuktikan dengan semua orang bangga menjadi warga NU."Orang yang berjuang untuk membesarkan NU, sesuai dengan amanat pendiri NU yakni KH M Hasyim Asy'ari, maka akan diakui sebagai santrinya sampai anak cucunya, dan didoakan hidupnya husnul khatimah," papar pengasuh Pesantren Manba'ul Huda ini.

Ketua Pengurus Cabang Nahdlatu Ulama Majalengka KH Harun Bajuri menambahkan Konfercab merupakan musyawarah tertinggi yang dilakukan setiap lima tahun sekali. Agenda ini digelar untuk meminta pertanggungjawaban pengurus sebelumnya dan menentukan kepengurusan yang akan duduk masa khidmat 2018  hingga 2023.

"Kami juga mengucapkan banyak terima kasih kepada panitia Konfercab dan semua pihak yang telah mendukung acara ini hingga dapat berjalan dengan lancar dan sukses,” katanya. Dirinya juga memohon maaf apabila dalam kepengurusan selama lima tahun banyak kekurangan, lanjutnya. 

Bupati Majalengka H Sutrisno mengatakan, diakui atau tidak bahwa dirinya saat ini merupakan warga NU dengan mengamalkan segala bentuk amaliahnya."NU itu merupakan Ormas terbesar di Indonesia. Memiliki pengaruh yang luar biasa di tanah air ini. Sehingga harus bangga menjadi kader NU," ujarnya. 

Sutrisno menambahkan, hadirinya NU di tengah masyarakat Indonesia ini di antaranya sebagai bentuk jawaban atas keperihatinan, ketertinggalan, dan tekananan penjajah terhadap golongan pribumi. "Dan yang utama hadirnya NU guna menegakkan ajaran Islam menurut paham Ahlussunnah waljamaah di tengah kehidupan masyarakat, di dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia," tuturnya. 

Ketua Pengurus Wilayah NU Jawa Barat KH Hasan Nuri Hidayatullah mengatakan ada tradisi yang tidak pernah dilupakan oleh para pendiri NU ketika ingin melakukan aktivitas apapun. Yakni meminta nasihat dan saran serta masukan. Hal itu seperti dilakukan KH Hasyim As'ari ketika ingin mendirikan NU meminta pendapat KH Kholil Bakalan Madara."Tradisi semacam ini yang harus kita jaga dan lestarikan di kalangan NU,"tandasnya.

Hadir pada kesempatan itu Ketua PWNU Jawa Barat KH Hasan Nuri Hidayatullah, Bupati Majalengka H Sutrisno, Ketua MUI Majalengka KH Anwar Sulaeman, anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Nasir dan Surahman, para alim ulama, pengurus PCNU, badan otonom NU, serta ratusan tamu  undangan lain. (Tata Irawan/Ibnu Nawawi)