::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::  Kuliah Plus Ngaji? Ke UNSIQ Wonosobo aja, -Memadukan mutiara luhur tradisi pesantren dan keunggulan Universitas Modern- Kunjungi http//:pmb.unsiq.ac.id. 081391983830 (Latu Menur Cahyadi)::: 

Tentang Qashwa, Unta yang Ditunggangi Rasulullah saat Hijrah ke Madinah

Selasa, 11 September 2018 19:00 Hikmah

Bagikan

Tentang Qashwa, Unta yang Ditunggangi Rasulullah saat Hijrah ke Madinah
Ilustrasi: iexplore.com
Qashwa. Nama unta yang ditunggangi Rasulullah ketika hijrah dari Makkah ke Madinah. Seekor unta yang dimiliki Abu Bakar as-Siddiq. Awalnya, unta tersebut diberikan cuma-cuma kepada Rasulullah, tapi ditolak. Hingga akhirnya Rasulullah membeli unta itu dari tangan Abu Bakar. Seekor unta yang nantinya menjadi kesayangan Rasulullah. Sebagaimana keterangan dalam buku Muhammad: Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik.

Qashwa dilahirkan di kampung Bani Qusyair. Ketika Rasulullah membelinya dari Abu Bakar dengan harga 400 dirham, Qashwa baru berumur empat tahun. Ia mati dalam usia 15 tahun. Sehingga Qashwa ‘menemani’ Rasulullah selama kurang lebih 11 tahun. 

Rasulullah pertama kali ‘ditemani’ Qashwa ketika beliau hendak hijrah ke Madinah. Bahkan, sejak beliau keluar dari rumah Abu Bakar untuk meninggalkan Makkah. Rasullullah menunggangi Qashwa menuju arah sebuah gua di Gunung Tsur, sebuah rute ke selatan atau jalan ke arah Yaman. Ini untuk mengelabuhi musuh. Karena apabila Rasulullah langsung menuju rute Madinah, ke arah utara, maka sudah pasti kafir Quraish menemukannya.

Ketika tiba di Gua Tsur, Rasulullah dan Abu Bakar –tentunya Qashwa juga- tinggal selama kurang lebih tiga hari. Hal ini untuk memantau situasi terkini di Makkah usai kabar kepergian Rasulullah. Setelah situasinya dianggap mereda, Rasulullah kembali menaiki Qashwa menyusuri rute yang tidak biasa dilalui para pedagang ketika hendak menuju Madinah. Setelah keluar Makkah, Rasulullah dan Abu Bakar menuju ke barat dan agak ke selatan hingga mereka sampai di Pantai Laut Merah. Mereka menempuh rute barat laut dan menghabiskan beberapa hari untuk sampai ke Madinah. 

Mereka terus ke arah utara hingga melewati sepanjang seberang Gurun Nubian. Berjalan menyusuri pedalaman dan pantai, lalu ke timur laut hingga sampai di Lembah Aqiq. Untuk mencapai Madinah, perjuangan mereka masih panjang. Mereka harus menaiki satu lembah ke lembah lainnya, satu bukit ke bukit lainnya. Hingga akhirnya mereka tiba di Quba dan tiga hari berselang sampai di Madinah. Sebuah tempat yang dinanti-nantikan.

Senin, 22 September 622 M menjadi hari yang bersejarah bagi umat Islam. Iya, pada hari itu Rasulullah tiba di Madinah. Masyarakat Madinah menyambutnya dengan penuh suka cita. Semua orang menghendaki agar Rasulullah bersedia tinggal di rumahnya. Namun, Rasulullah menyatakan akan tinggal di rumah yang dipilih Qashwa, unta kesayangannya. 

Sambil menaiki Qashwa, Rasulullah menyusuri jalan kota Madinah. Ketika sampai di ruangan sempit yang dijadikan As’ad –orang yang berbaiat kepada Rasulullah pada tahun sebelum Aqabah Pertama- sebagai tempat shalat, Qashwa tiba-tiba berhenti dan berlutut. Namun demikian, Rasulullah tidak turun. 

Qashwa kembali berjalan kembali, tapi tidak lama kemudian ia kembali ke tempat pertama ia berlutut. Kali ini, Qashwa tidak hanya berhenti berlutut. Ia juga merapatkan dadanya ke sebidang tanah itu. Rasulullah yakin bahwa itu lah tempat yang dipilih Qashwa dan akan dijadikan sebagai tempat tinggalnya di Madinah. 

Setelah ditanyakan, ternyata tempat itu milik Sahl dan Suhail, dua orang anak yatim piatu yang diasuh As’ad. Mulanya, Sahl dan Suhail hendak memberikan tanah tersebut kepada Rasulullah sebagai hadiah. Tapi, Rasulullah menolaknya. Hingga kemudian, tanah itu dibeli Rasulullah dengan harga yang telah disepakati.

Selain menaiki untuk hijrah ke Madinah, Rasulullah juga menunggangi Qashwa dalam beberapa peristiwa penting lainnya seperti Perang Badar, Fathu Makkah, Perdamaian Hudaibiyah, dan Haji Wada’. (A Muchlishon Rochmat)