::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Tak perlu Pedulikan Kalangan Pembenci Shalawat

Rabu, 12 September 2018 09:00 Daerah

Bagikan

Tak perlu Pedulikan Kalangan Pembenci Shalawat
Majalengka, NU Online
Warga NU Kelurahan Cicenang dan Kecamatan Cigasong, Kota Majalengka, Jawa Barat bersama Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor setempat menyelenggarakan Festival Shalawat Nusantara Piala Presiden tingkat kecamatan. Kegiatan yang berlangsung Senin hingga Selasa (10-11/9) tersebut untuk menyambut tahun baru Islam 1 Muharram 1440 H. 

Dikonfirmasi media ini, Ahmad Cece Ashfiyadi selaku Ketua GP Ansor Majalengka menyatakan bahwa kegiatan ini untuk menyambut tahun baru Islam. 

Menurut Kang Cece, sapaan akrabnya, Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing. “Hal tersebut dapat dilihat dari tradisi pembacaan shalawat,” ungkapnya, Selasa (11/9). 

Baginya, bershalawat dianjurkan Allah SWT, bahkan para malaikat juga bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW. “Tapi saat ini sebagian kelompok sangat rajin meneriakkan bidah syirik dan sesat kepada kalangan yang rajin shalawatan, tahlilan, dan ziarah kubur,” sergahnya. 

Para pengikut ulama NU dianggap orang asing yang melakukan bidah dan kesyirikan. “Padahal semua amalan kita itu memiliki landasan, dalil dan argumentasi baik dari Al-Qur'an maupun sunnah serta qaul alim ulama,” ungkapnya.

Terhadap hal tersebut, dirinya berharap tidak terlampau peduli terhadap para penentang shalawat dan tradisi para salafusshalih. Dalam pandangannya, ini adalah fenomena yang dihadapi para pencinta Rasulullah SAW.

“Tapi kita harus ingat, bahwa beruntunglah bagi yang terasing,” urainya. Mereka selalu membenahi kerusakan yang ada di muka bumi dan selalu menciptakan islah di kalangan umat dunia khususnya di Nusantara. (Tata Irawan/Ibnu Nawawi)