::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::  Kuliah Plus Ngaji? Ke UNSIQ Wonosobo aja, -Memadukan mutiara luhur tradisi pesantren dan keunggulan Universitas Modern- Kunjungi http//:pmb.unsiq.ac.id. 081391983830 (Latu Menur Cahyadi)::: 

Apa yang Sedang Dilakukan Allah saat Ini?

Kamis, 13 September 2018 19:30 Ilmu Tauhid

Bagikan

Apa yang Sedang Dilakukan Allah saat Ini?
Ilustrasi (Twitter.com)
Apa yang sedang dilakukan Allah saat ini? Untuk menjawab pertanyaan semacam ini, maka kita harus tahu tentang tindakan Allah. Dalam pembahasan aqidah, tindakan yang dilakukan oleh Allah dikenal sebagai sifat fi’l. Segala yang terjadi di dunia ini adalah hasil dari tindakan Allah. Dengan demikian, maka tindakan Allah tak terbatas jumlahnya. Selama sebuah tindakan tak mustahil secara rasional, maka bisa saja (jâ’iz) bagi Allah untuk melakukannya atau tak melakukannya. 

Secara global, tindakan-tindakan Allah disebutkan dalam Al-Qur’an dan Hadits, di antaranya adalah: khalaqa (mencipta), amâta (mematikan), razaqa (memberi rezeki), ja’ala (membuat), ghadaba (marah), radliya (rela/merestui), hakama (memutuskan), hadâ (memberi hidayah), dan banyak sekali lainnya. Intinya, semua kejadian di semesta alam ini adalah bagian dari irâdah (kehendak-Nya) dan qudrah (kekuasaan) Allah.

Demikian juga sifat-sifat khabariyah (yang tersebut dalam nash, red) yang sering diperselisihkan maknanya oleh kaum muslimin seperti misalnya istawayanzilujâ’aatâ, dan lain-lain yang tergolong Mutasyabihât (samar dan multi tafsir). Semua itu menurut Imam al-Asy’ari adalah sifat fi’l Allah. Seluruhnya yang disebutkan secara literal oleh Allah dan Rasulullah, maka harus ditetapkan dan tak boleh diganti redaksinya dengan redaksi lain. Sebagaimana dinukil oleh Ibnu Furak, Imam al-Asy’ari mengatakan:

فأما ما يوصف من ذلك من جهة الفعل كالإستواء والمجيء والنزول والإتيان فإن ألفاظها لا تطلق إلا سمعا ومعانيها لا تثبت إلا عقلا

“Adapun apa yang disifati dari segi tindakan, semisal istiwâ’, datang, turun, menghampiri, maka redaksi lafaznya tak digunakan sebagai istilah mutlak kecuali secara periwayatan. Adapun maknanya, tak ditetapkan kecuali secara rasional”. (Ibnu Furak, Maqâlât al-Imâm al-Asy’ary, halaman 41)

Seluruh sifat yang berupa tindakan ini dilakukan secara sekaligus oleh Allah tanpa kesulitan apa pun. Allah mencipta, merawat, mengatur,  mematikan, memberi rezeki, menakar rezeki, mengabulkan doa, menolak doa, menghukum, memberi pahala, mengampuni dan seterusnya tidaklah dilakukan bergantian satu persatu tetapi semuanya terjadi dalam waktu yang sama dengan cara yang hanya Allah yang tahu. 

Demikian juga seharusnya kita memahami teks semisal istawanazala, dan lain-lain di atas. Karena seluruhnya adalah suatu tindakan, maka seluruh hal itu dilakukan dalam waktu yang bersamaan dengan cara yang hanya Allah yang tahu sebab hakikat makna seluruh tindakan ini memang tak mungkin diketahui oleh manusia. Ketika Allah berfirman bahwa Diri-Nya istawa atas Arasy, maka yang mampu diketahui oleh manusia tentang istawa itu hanyalah seperti yang dikatakan oleh Imam al-Asy’ari berikut:

أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى جَلَّ ثَنَاؤُهُ فَعَلَ فِي الْعَرْشِ فِعْلًا سَمَّاهُ اسْتِوَاءً، كَمَا فَعَلَ فِي غَيْرِهِ فِعْلًا سَمَّاهُ رِزْقًا أَوْ نِعْمَةً أَوْ غَيْرَهُمَا مِنْ أَفْعَالِهِ… وَأَفْعَالُ اللَّهِ تَعَالَى تُوجَدُ بِلَا مُبَاشَرَةٍ مِنْهُ إِيَّاهَا وَلَا حَرَكَةٍ.

“Sesungguhnya Allah Yang Maha Agung melakukan suatu perbuatan di Arasy yang Dia sebut sebagai istiwa’, seperti halnya Dia melakukan di tempat lain suatu perbuatan yang disebut rezeki, nikmat atau tindakan lainnya. … Adapun tindakan-tindakan Allah terjadi tanpa adanya sentuhan dari Dzat Allah pada objeknya dan tak juga berupa pergerakan”. (Al-Baihaqi, al-Asmâ’ was-Shifât, juz II, halaman 308).

Dengan demikian, memahami seluruh sifat fi’l Allah akan jauh lebih mudah sebab tak perlu dipertentangkan antara sifat yang satu dengan sifat yang lain. Sifat fi’l ini sebenarnya hanyalah kesamaan nama saja dengan tindakan manusia sedangkan hakikatnya jauh berbeda. Kita meyakini bahwa Allah istawa atas Arasy, sekaligus nuzûl di daerah sepertiga malam terakhir, sekaligus menciptakan, merawat, memberi, menahan dan seterusnya. Seluruhnya dilakukan oleh Allah dalam satu waktu yang sama dengan cara yang tak bisa dibayangkan oleh manusia sebab sama sekali berbeda dengan makna dan tata cara yang terjadi pada manusia. 

Jangan sekali-kali membayangkan Allah sebagai jism (sosok fisikal yang mempunyai volume) yang melakukan seluruh tindakan itu dengan makna sebagaimana terdapat dalam kamus-kamus manusia. Turunnya Allah bukanlah bergerak dari atas ke bawah, istawa-Nya Allah bukanlah menetap atau duduk di atas Arasy, dan demikian seterusnya hingga seluruh makna leksikal (makna kamus) yang notabene hanya berlaku untuk makhluk itu tak diberlakukan juga kepada Allah Yang Maha Suci. Pemakaian makna leksikal ini adalah penyerupaan Allah dengan makhluk (tasybîh) dan penentuan cara (takyîf) yang sepakat dilarang oleh ulama Ahlussunnah wal Jama’ah. Kasus seperti ini terjadi pada keyakinan kaum Musyabbihah atau Mujassimah yang selalu menyematkan makna leksikal manusiawi pada sifat Allah.

Selain penyerupaan, mengkhayalkan Allah seperti ini hanya akan membuat seolah sifat-sifat Allah saling menafikan satu sama lain sehingga pelakunya akan terjerumus pada penafian sebagian sifat yang ditetapkan oleh Allah (ta’thîl) agar tak jatuh pada kontradiksi yang dibuatnya sendiri. Ini terjadi pada keyakinan kaum Jahmiyah-Muktazilah yang mengingkari istiwa’ dan nuzûl sebab menurutnya kontradiktif dengan keyakinan mereka bahwa Allah ada di mana-mana. 

Sikap tasybîh ataupun ta’thîl adalah sikap keliru yang muncul dari pemahaman yang keliru pula. Ahlussunnah wal Jama’ah sebagaimana direpresentasikan oleh Asy’ariyah-Maturidiyah mengambil jalan tengah antara keduanya, mereka menetapkan seluruh sifat Allah yang diajarkan oleh Al-Qur’an dan Hadits shahih tetapi dalam waktu yang sama, mereka sama sekali tak memberlakukan makna leksikal-jismiyah pada Allah. Wallahu a'lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember & Peneliti Aswaja NU Center Jember