::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::  Kuliah Plus Ngaji? Ke UNSIQ Wonosobo aja, -Memadukan mutiara luhur tradisi pesantren dan keunggulan Universitas Modern- Kunjungi http//:pmb.unsiq.ac.id. 081391983830 (Latu Menur Cahyadi)::: 

Kapolda Keturunan Sunan Muria Silaturahim ke NU Jatim

Rabu, 12 September 2018 20:00 Daerah

Bagikan

Kapolda Keturunan Sunan Muria Silaturahim ke NU Jatim
Surabaya, NU Online
Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur KH Marzuki Mustamar menerima langsung kunjungan Inspektur Jenderal Polisi Luki Hermawan selaku Kapolda Jatim yang baru dilantik. Ia mengaku baru hari Senin tiba di Surabaya dan Selasa langsung silaturahim ke Ormas Islam, salah satunya NU.

Pada pertemuan singkat tersebut, Kiai Marzuki mendoakan Kapolda Jatim yang ditemani Wakapolda Jatim dan Kapolrestabes Surabaya. “Barakallahu laka wa baraka alaika wa jama'a bainakuma fi khair, ini doa kemanten anyar,” kata Kiai Marzuki di kantor PWNU Jatim, Selasa (11/9).

Saat pertemuan berjalan dengan hangat, Sekretaris PWNU Jatim Akh Muzakki mengungkap garis keturunan Kapolda Jatim. “Kami menerima informasi kalau Kapolda ini ternyata keturunan Sunan Muria. Berarti beliau ini seorang habib, Habib Luki,” ujar Muzakki disambut tawa para kiai yang hadir. 

Mantan Wakabaintelkam Mabes Polri ini hanya tersenyum mendengar itu dan tidak menampik. Luki mengatakan, kakeknya adalah keturunan kesembilan dari Sunan Muria. Dengan demikian, dirinya adalah keturunan kesepuluh dari waliyullah yang makamnya berada di Puncak Colo Gunung Muria, Kudus, Jawa Tengah, itu. "Kakek saya keturunan kesembilan," ujarnya. 

Luki enggan menjelaskan tentang runtutan nasab Sunan Muria itu. “Saya asli Jawa Tengah, istri saya yang asli dan lahir di Surabaya. Saya pernah tugas di Malang sebagai Kasat Intel tahun 1992. Saya juga pernah tugas di Madiun,” katanya. 

Luki mengatakan, silaturahim dengan ulama dan tokoh agama dilakukan pada hari kedua. Sebab, dirinya sadar bahwa Jawa Timur pusatnya pesantren dan santri. "Memang kami sebagai umara dan ulama harus bersatu. Harus paham bahwa Jawa Timur ini pusatnya santri," ujarnya. 

Apalagi sebentar lagi memasuki tahun politik. “Karena memang di tahun 2018 dan 2019 semua paham. Ini tahun politik perlu perhatian khusus untuk menciptakan suasana yang kondusif,” ungkapnya. 

Di ujung pembicaraan, Luki meminta bantuan berbagai kalangan untuk member masukan dalam menjaga suasana di jatim. “Kami mohon bantuan dan masukan agar kami tidak salah langkah,” pungkas Luki. (Rof Maulana/Ibnu Nawawi)