::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Tahun Baru Hijriah Ajang Mulai Mawas Diri

Kamis, 13 September 2018 04:19 Daerah

Bagikan

Tahun Baru Hijriah Ajang Mulai Mawas Diri
Bekasi, NU Online 
Segala hal yang berkaitan dengan pergantian, berarti melangkah untuk sebuah perubahan. Tentunya menjadi pribadi ke arah yang lebih baik. Tidak bisa tidak, semuanya harus bergeser pada kebaikan.

Demikian diungkapkan Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Bekasi KH Zamakhsyari Abdul Majid saat memberikan pernyataan, pesan, dan nasihat di Tahun Baru Hijriyah, 1 Muharam 1440, pada Rabu (12/9).

“Di tahun baru ini, kita harus hijrah. Hijrah itu berarti pindah; berpindah dari berbagai kondisi untuk yang lebih baik; menjadi seorang yang lebih berguna bagi masyarakat. Berubah, hingga mampu memfungsikan diri sebagai bagian yang tak terpisahkan dari pelaku kebaikan,” katanya.

Namun, Ketua MUI Kota Bekasi ini melanjutkan, hijrah bukan hanya dilakukan dalam bentuk fisik yang tampak pada permukaan saja. Lebih jauh dari itu, merupakan bagian paling inti dari segala yang dilakukan, yakni akhlak yang mulia, adab yang baik, dan perilaku yang terpuji.

Kemudian, Kiai Zamakhsyari mengajak kepada seluruh umat Islam dan Nahdliyin, terutama di Kota Bekasi, untuk sama-sama merunduk dalam rangka menginsyafi dan mengintrospeksi diri. Sebab menurutnya, pergantian tahun ini haruslah menjadi ajang untuk mawas diri.

“Selama setahun kemarin, berapa banyak dosa yang telah diperbuat? Dari mulai bangun tidur, hingga kembali tidur. Sejak dalam pikiran, hingga tiba pada perbuatan,” katanya.

Kini, lanjut Kiai Zamakhsyari, saatnya melakukan spionase diri. Karena disadari atau tidak, telah banyak dosa yang bertumpuk. Berdosa pada zaman, pada peradaban, dan pada keadaan yang menjadi ruang kemaksiatan selama ini.

“Mari kita instrospeksi diri. Sudahkah kita hidup rukun dengan tetangga? Sudahkah menjalin kekerabatan yang lebih karib kepada mereka yang berbeda pandangan? Sudahkah meminta maaf kepada orang-orang yang telah kita perlakukan secara tidak manusiawi? Atau sudahkah kita memaafkan mereka yang berbuat salah? Ayo kita jujur kepada diri kita masing-masing,” tuturnya.

Di Indonesia, tradisi yang telah mengakar kuat dalam merayakan dan memperingati malam pergantian Tahun Baru Hijriyah adalah Pawai Obor. Menurut Kiai Zamakhsyari, obor-obor yang dibawa berkeliling seraya melafalkan kalimat tayyibah dan salawat nabi tersebut menjadi simbol dari pelita kehidupan di masa depan.

“Bahwa hidup harus terus mengobarkan api semangat, karena selalu ada cahaya yang tergenggam. Cahaya itu dekat, berjarak hanya sepersekian sentimeter di hadapan. Merengkuhnya, sangat mudah. Itulah optimisme yang harus kita bangun dalam menyongsong masa depan,” pungkasnya. (Aru Elgete/Abdullah Alawi)