::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::  Kuliah Plus Ngaji? Ke UNSIQ Wonosobo aja, -Memadukan mutiara luhur tradisi pesantren dan keunggulan Universitas Modern- Kunjungi http//:pmb.unsiq.ac.id. 081391983830 (Latu Menur Cahyadi)::: 

Sungguh Aneh Orang Mengaku Hijrah, Tapi Akhlaknya Tidak Mulia

Kamis, 13 September 2018 05:00 Nasional

Bagikan

Sungguh Aneh Orang Mengaku Hijrah, Tapi Akhlaknya Tidak Mulia
Semarang, NU Online
Di tahun baru Hijriah, banyak orang memaknai sendiri-sendiri arti hijrah. Di lini masa media sosial, berseliweran status atau statemen tentang makna hijrah. Sayangnya, atau sedihnya, banyak di antara status atau statemen itu tidak sesuai yang semestinya. Bahkan ada yang keliru dan berpotensi menyesatkan. 

Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Tengah (PWNU Jateng) H Mohamad Muzamil termasuk orang yang suka memperhatikan literasi masyarakat di media sosial. Ketika ditemui NU Online di kantor PWNU Jateng kemarin ia mengajak semua pihak untuk memaknai hijrah sesuai tuntuntan para ulama. 

Dikatakannya, arti hijrah secara bahasa memang “pindah”; mengacu pada peristiwa pindahnya Nabi Muhammad dari Makkah ke Yatsrib yang kemudian diganti nama menjadi Madinah. 

“Peristiwa hijrahnya Rasulullah itu mari kita maknai yang tepat menurut konteks sekarang,” ujarnya. 

Muzamil menjelaskan, yang paling penting dari pemaknaan hijrah untuk umat sekarang adalah tekad meninggalkan akhlak yang buruk lalu menjadi pribadi yang mulia sebagaimana Kanjeng Nabi Muhammad. 

Yaitu hijrah dengan menjauhi segala larangan, bertaubat dan membersihkan diri sampai menjadi hamba yang dicintai Allah dan Rasulnya. 
“Hijrah kita haruslah menempa diri menjadi hamba yang takwa,” ujarnya. 

Disebutkan alumnus Fakultas Tarbiyah IAIN (sekarang UIN) Walisongo Semarang ini, orang yang hijrah dengan benar, maka dia akan secara otomatis menjadi dai. Menjadi orang yang mempromosikan Islam. Membuat agama Islam menjadi menarik sesuai misinya, yakni menebar kasih sayang, rahmat bagi semesta. Karena yang tampak pada setiap Muslim adalah pribadi yang mulia akhlaknya. 

“Jadi, sungguh aneh dan menyesatkan kalau mengaku hijrah tapi akhlaknya tidak mulia,” tandasnya. 

Ia sebutkan, upaya hijrah adalah dengan selalu bersandar kepada Allah. Selalu mengingat Allah dalam segala hal. Menempa jiwanya menjadi pribadi yang mantab imannya. Sehingga tidak terombang ambing oleh keadaan. Puncaknya adalah menjadi manusia yang berjiwa tenteram. Muthmainnah. Yang diridhoi Tuhannya, yang damai hidupnya hingga matinya. 

“Sungguh bahagia orang yang menyucikan jiwanya. Dan sungguh rugi orang yang mengotori hatinya,”ucapnya seraya menyirit dua ayat terakhir dari surat Al-Syams. 

Untuk bisa seperti itu, kata dia, tidak ada cara lain kecuali dengan dibimbing oleh guru. Oleh ulama. Dan yang dimaksud ulama adalah yang memiliki sanad tersambung sampai kepada Rasulullah.

“Rasulullah membaiat para sahabatnya sebelum berhijrah. Kita yang ingin hijrah juga perlu berbaiat kepada guru kita, yaitu ulama yang merupakan pewaris Nabi. Serta memiliki sanad yang tersambung kepada Rasulullah,” terangnya. 

Lebih lanjutkader NU yang pernah berkhidmah di PMII, GP Ansor dan PKB ini menyatakan, ulama tidak pernah mengajarkan merasa benar sendiri, apalagi menyalahkan orang lain. Maka orang yang hijrah menurut bimbingan ulama, dijamin benar alias tidak kesasar.

Sebaliknya jika ada orang mengaku telah hijrah tetapi suka menyalahkan dan merasa benar sendiri, bisa dipastikan dia tidak belajar kepada ulama. Dan dia pasti akan sesat dan menyesatkan. Oleh karena itu, kata dia, setiap muslim harus belajar kepada sumber yang benar, yaitu ulama. 

“Mari kita berhijrah menurut ajaran ulama. Dari situlah kita bisa meniru makna hijrahnya Kanjeng Nabi,” pungkasnya. (Ichwan/Abdullah Alawi)