::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Hukum Mendengarkan Khutbah di Luar Masjid

Jumat, 14 September 2018 11:30 Jumat

Bagikan

Hukum Mendengarkan Khutbah di Luar Masjid
Dalam pelaksanaan shalat Jumat, khutbah disyaratkan didengar oleh minimal 40 jamaah. Jamaah yang mendengarkan khutbah disyaratkan orang yang mengesahkan Jumat, yaitu muslim yang berakal, baligh dan penduduk yang bertempat tinggal tetap di daerah pelaksanaan Jumat.

Terkadang, jamaah yang rumahnya berdekatan dengan masjid, mendengarkan khutbahnya di rumah sendiri, bahkan dalam kondisi belum siap berangkat Jumatan. Dalam kasus yang lain, daya tampung masjid yang tidak memadai, memaksa sebagian jamaah mendengarkan khutbah di luar masjid.

Dalam pandangan fiqh, bagaimana hukum mendengarkan khutbah di luar masjid? Apakah terhitung jamaah yang mengesahkan pelaksanaan Jumat?

Dalam fiqh mazhab Syafi’i, Jumat tidak harus dilaksanakan di masjid. Boleh dilakukan di lapangan, surau atau tempat lainnya. Demikian pula pelaksanaan khutbahnya, tidak wajib dilakukan di masjid. 

Syekh Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali mengatakan:

وَلَا يُشْتَرَطُ أَنْ يُعْقَدَ الْجُمُعَةُ فِي رُكْنٍ أَوْ مَسْجِدٍ بَلْ يَجُوْزُ فِي الصَّحْرَاءِ إِذَا كاَنَ مَعْدُوْداً مِنْ خِطَّةِ الْبَلَدِ فَإِنْ بَعُدَ عَنِ الْبَلَدِ بِحَيْثُ يَتَرَخَّصُ الْمُسَافِرُ إِذَا انْتَهَى إِلَيْهِ لَمْ تَنْعَقِدْ اَلْجُمُعَةُ فِيْهَا

“Jum’at tidak disyaratkan dilakukan di surau atau masjid, bahkan boleh di tanah lapang apabila masih tergolong bagian daerah pemukiman warga. Bila jauh dari daerah pemukiman warga, sekira musafir dapat mengambil rukhshah di tempat tersebut, maka jum’at tidak sah dilaksanakan di tempat tersebut.” (al-Ghazali, al-Wasith, juz 2, hal. 263, Kairo, Dar al-Salam, cetakan ketiga tahun 2012)

Oleh sebab itu, mendengarkan khutbah Jumat boleh dilakukan di luar masjid. Di halaman masjid, di jalan, di rumah sendiri atau di tempat manapun, asalkan dapat mendengar khutbah, maka sah. Jamaah yang mendengarkan khutbah di luar masjid terhitung dari 40 orang yang dapat mempengaruhi keabsahan Jumat asalkan dari kelompok yang dapat mengesahkan Jumat. 

Syekh Ibnu hajar al-Haitami ditanya, apakah orang yang mendengarkan khutbah saat ia sedang berada di kamar mandi atau tempat lainnya, apakah tergolong 40 orang yang dapat mengesahkan Jumat. Dalam fatwanya, beliau menjawab:

فأجاب بأن الذي يصرح به كلامهم أن يعتد بسماع من بالخلاء ونحوه فقد قالوا لا بد من سماع أربعين من أهل الكمال والمراد بهم من تلزمهم الجمعة فتنعقد بهم ولا شك أن من بالخلاء ونحوه تلزمه الجمعة وتنعقد به
 
“Bahwa sesungguhnya pendapat yang dijelaskan oleh para ulama, mendengar khutbahnya jamaah yang berada di kamar mandi dan tempat lainnya adalah sesuatu yang sah. Ulama mengatakan khutbah wajib didengar 40 jamaah yang sempurna, mereka adalah jamaah yang wajib dan mengesahkan Jumat. Tidak diragukan lagi bahwa orang yang tengah berada di kamar mandi atau tempat lainnya tergolong orang yang wajib dan mengesahkan Jumat.” (Syekh Ibnu hajar al-Haitami, al-Fatawa al-Kubra, juz 1, hal. 234).

Lebih lanjut beliau menjelaskan, orang yang mendengarkan khutbah dalam kondisi yang tidak siap melaksanakan shalat, tidak mempengaruhi kebolehan dan keabsahan pelaksanaan khutbah. Beliau menegaskan:

وكونه حالة السماع على هيئة تنافي الصلاة لا أثر له لأن القصد من اشتراط سماعهم اتعاظهم بما يسمعون في الجملة وهذا المقصود حاصل بسماع من بالخلاء ونحوه

“Dan keberadaan orang di kamar mandi tersebut dalam kondisi yang bertentangan dengan shalat tidak mempengaruhi dampak apapun. Sebab tujuan dari syarat mendengarkan khutbah oleh jamaah jumat adalah mereka menerima pesan khutbah yang mereka dengar secara umum. Dan tujuan ini dapat dihasilkan dengan mendengar khutbah di kamar mandi dan tempat lainnya.” (Syekh Ibnu hajar al-Haitami, al-Fatawa al-Kubra, juz 1, hal. 234).

Bila melihat pertimbangan keutamaan, mendengarkan khutbah di masjid tentu lebih memiliki pahala yang besar, sebab  ada nilai lebih seperti pahala I’tikaf. Demikian penjelasan mengenai hukum mendengarkan khutbah di luar masjid. Saran kami, meski hal tersebut diperbolehkan, namun usahakan agar datang di masjid lebih awal dan mendengarkan khutbah di dalamnya, karena memiliki nilai keutamaan yang tidak didapatkan saat mendengarkan khutbah di luar masjid. (M. Mubasysyarum Bih)