::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::  Kuliah Plus Ngaji? Ke UNSIQ Wonosobo aja, -Memadukan mutiara luhur tradisi pesantren dan keunggulan Universitas Modern- Kunjungi http//:pmb.unsiq.ac.id. 081391983830 (Latu Menur Cahyadi)::: 

Ali bin Abi Thalib, Pendeta Yahudi, dan Pertanyaan Matematika Tersulit

Jumat, 14 September 2018 18:00 Hikmah

Bagikan

Ali bin Abi Thalib, Pendeta Yahudi, dan Pertanyaan Matematika Tersulit
"Aku adalah pintunya ilmu, dan Ali adalah kuncinya". Kata Rasulullah kepada Ali bin Thalib dalam sebuah hadits.

Ali bin Abi Thalib memang memiliki banyak keistimewaan, selain sebagai keponakan Rasulullah. Ia adalah pemeluk Islam pertama dari generasi pemuda. Ketika dewasa ia menjadi menantu Rasulullah, usai menikah dengan Fatimah az-Zahra. Di samping itu semua, kecerdasan adalah keistimewaan lain yang dimiliki Ali bin Abi Thalib. Bahkan, Rasulullah sendiri pun mengakui kecerdasan Ali bin Abi Thalib dan menjulukinya sebagai kuncinya ilmu.

Oleh sebab itu, banyak orang yang bertanya kepada Ali bin Abi Thalib dengan berbagai macam motif. Ada yang ingin sekedar mengetes, ada yang yang ingin menjatuhkan, tapi ada pula yang ingin benar-benar mendapatkan jawaban atas persoalan yang dihadapi. 

Cerita tentang kecerdasan Ali bin Abi Thalib banyak beredar. Salah satunya tentang seseorang yang masuk Islam setelah bertanya tentang matematika. Kisah tersebut terekam dalam buku Menggali Nalar Saintifik Peradaban Islam. Dikisahkan, suatu ketika seorang pendeta Yahudi –sebelum meninggal dunia- berpesan kepada muridnya agar mencari dan menemui orang yang mendapatkan gelar ‘kuncinya ilmu’ (Ali bin Abi Thalib).  

Ketika bertemu dengan ‘kuncinya ilmu’, sang murid diminta untuk mengajukan satu pertanyaan matematika, sebuah pertanyaan yang sampai pada saat itu tak seorang pun dapat menjawabnya.

“Bilangan mana yang yang habis dibagi satu sampai sepuluh?” kata seorang pendeta Yahudi kepada muridnya agar ditanyakan kepada sang ‘kuncinya ilmu.’

Tidak sampai di situ, pendeta Yahudi tersebut juga memberikan wejangan yang aneh dan nyeleneh. Jika  sang ‘kuncinya ilmu’ bisa menjawab pertanyaan itu, maka sang murid disuruh untuk mengikutinya. Sebaliknya, jika sang ‘kuncinya ilmu’ tidak dapat menjawabnya maka sang murid harus meninggalkannya dan terus mencari orang yang bisa menjawabnya.

Hari demi hari telah berlalu. Akhirnya sang murid dari pendeta Yahudi itu berhasil bertemu dengan Ali bin Abi Thalib. Segera saja ia menanyakan pertanyaan tersulit tersebut. Mendengar pertanyaan itu,  Ali bin Abi Thalib langsung menjawab tanpa hambatan yang berarti. 

Ali bin Abi Thalib lalu menyuruh murid pendeta Yahudi itu untuk mengalikan jumlah hari dalam seminggu dengan jumlah hari dalam sebulan dengan jumlah bulan dalam setahun; yakni 7 x 30 x 12. Setelah dihitung, hasilnya adalah 2520. Itulah jawaban Ali bin Thalib atas pertanyaan “Bilangan mana yang yang habis dibagi satu sampai sepuluh?” yang diajukan murid pendeta Yahudi tersebut.

Murid pendeta Yahudi itu terkejut dengan jawaban Ali bin Abi Thalib. Setelah dihitung beberapa kali, ternyata 2520 adalah bilangan terkecil yang bisa dibagi habis bilangan satu sampai sepuluh. Sesuai pesan sang guru, akhirnya murid pendeta Yahudi itu mengikuti Ali bin Abi Thalib, masuk Islam. (A Muchlishon Rochmat)