::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Manuskrip Eyang Hasan Maolani Lengkong Didigitalkan

Jumat, 14 September 2018 13:00 Nasional

Bagikan

Manuskrip Eyang Hasan Maolani Lengkong Didigitalkan
Kuningan, NU Online
Sejumlah naskah Eyang Hasan Maolani Lengkong berhasil didigitalkan oleh tim Digital Repository of Endagered Manuscript of South East Asia (Dreamsea) di Al-Fattah Institute, Lengkong, Kuningan, Jawa Barat, pada Jumat (14/9).

Faiq Ihsan, salah satu keturunannya, menuturkan naskah tersebut terdiri dari berbagai bidang ilmu agama, antara lain fiqih, tafsir, hizib, dan kitab Tarekat Syatariyah.

"Mayoritas Tarekat Syattariyah. Sayrussalikin karya Syekh Abdus Shomad Al-Falimbani dan Talqin Baiat Syattariyah," imbuhnya mencontohkan.

Menariknya, meskipun dalam keseharian masyarakat Lengkong, Kuningan menggunakan bahasa Sunda, tetapi semua naskah Eyang Hasan Maolani tidak ada yang berbahasa Sunda. Adib Misbahul Islam, ketua tim Dreamsea, menuturkan bahwa bahasa yang digunakan dalam manuskrip tersebut terdiri dari bahasa Arab dan Jawa.

Saat ditanya perihal penggunaan bahasa Jawa sebagai bahasa pendidikan saat itu, dosen Pascasarjana Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta itu menyatakan perlu penelitian lebih lanjut.

"Saya gak berani memastikan. Perlu penelitian untuk memastikannya," kata ahli filologi itu, meskipun ia juga pernah menemukan manuskrip berbahasa Jawa di daerah Tasikmalaya.

Adapun kondisi mayoritas naskah cukup memprihatinkan. Selain lapuk dimakan usia, beberapa naskah juga rusak karena serangga dan lembabnya tempat penyimpanan. Manuskrip yang berkertas eropa dan daluwang itu beberapa di antaranya sudah tak berjilid. Tak sedikit dalam satu jilidan, terdapat beberapa kitab.

Meskipun demikian, ada beberapa naskah yang masih cukup baik karena masih terus dibaca oleh pemiliknya. KH Mansur Yunus, pemilk naskah, mengaku saat membaca kitab tersebut, ia lebih mudah memahaminya. Pengasuh salah satu pondok pesantren di Windujanten itu kerap kali membersihkan naskahnya menggunakan kemoceng sehingga kondisi naskah sangat terjaga.

"Membaca kitab itu berbeda dengan membaca kitab lain. Selalu mendapatkan futuh, atau petunjuk pemahaman yang dituju. (Ini) semacam berkah dari leluhur," katanya.

Selain mendigitalkan manuskrip Eyang Hasan Maolani, tim Dreamsea juga mendigitalkan naskah dari Desa Ciwedus, Timbang, Kuningan.

Eyang Hasan Maolani merupakan ulama kenamaan Kuningan yang diasingkan oleh Belanda di Kampung Jawa, Tondano, Sulawesi Utara, karena dianggap berani melawan kepentingannya. Ia merupakan keturunan kedua belas dari Sunan Gunung Djati. (Syakir NF/Fathoni)