::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Pesantren Besongo Semarang Inginkan Santri Peka Tantangan Zaman

Jumat, 14 September 2018 19:30 Daerah

Bagikan

Pesantren Besongo Semarang Inginkan Santri Peka Tantangan Zaman
Semarang, NU Online
Pondok Pesantren Darul Falah Besongo (DFB) yang berada di Ngaliyan, Kota Semarang, Jawa Tengah dalam perkembangannya, terus melakukan inovasi utamanya dalam hal kurikulum. 

Hal tersebut sebagaimana disampaikan lurah DFB, Ustadz Muizzatus Sa'adah pada rapat pengurus, Kamis (13/9). Selain mengajarkan kitab kuning karya ulama salafussalih, saat ini pesantren telah mengajarkan pembelajaran bahasa dan kepenulisan. Menurutnya, pesantren harus terus berinovasi sesuai dengan kebutuhan.

"Inovasi harus dilakukan pesantren, sebagai bentuk adaptasi dengan perkembangan zaman," kata Ustadz Muiz, sapaan akrabnya. 

Mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang ini menyatakan, pesantren memiliki kelebihan dibanding dengan pendidikan formal. Ada yang terus bertahan dengan gaya klasik dan bahkan menjadi ciri khas tersendiri, dan ada pula yang terus berinovasi. “Semua memiliki ciri khas dan tetap marketable,” ungkapnya.

Adanya program tersebut, menurut Ustadz Muiz, akan didukung dengan pendampingan bagi santri yang tengah mengerjakan tugas akhir atau skripsi. Hal ini menjadi pertimbangan pengembangan pesantren yang memiliki santri yang umumnya dengan latar belakang mahasiswa.

"Program ini sudah berjalan dengan baik selama tiga tahun terakhir dan terbukti efektif membantu kelulusan," kata mahasiswa di jurusan tafsir hadist ini. Menurutnya, nilai tambah tersebut belum tentu didapatkan mahasiswa yang bermukim di luar pesantren Besongo. 

Mengutip Sayyidina Ali bin Abi Thalib bahwa jangan memaksakan anak sesuai pendidikan diri, karena mereka diciptakan untuk zaman yang bukan zaman saat ini. “Pesantren Besongo terus bergerak secara dinamis seiring perkembangan zaman,” jelasnya. 

Pengasuh Pesantren Besongo, KH Imam Taufiq menuturkan, menjadi santri sekaligus mahasiswa yang lulus tepat waktu dinilai menjadi salah satu kunci awal untuk mulai menata masa kehidupan selanjutnya. 

Banyak pilihan yang bisa dikembangkan usai kuliah. “Prinsip santri yang selalu kami ingatkan yakni menjadi santri yang anfa'uhum linnas dan mampu menjadi pelopor perdamaian di masyarakat,” tegasnya.  

Terkait bila ada ingin melanjutkan para santri studi ke jenjang lebih tinggi tentu menggunakan bahasa Arab atau Inggris sebagai syarat mutlak. 

Kiai Imam menginginkan santrinya tidak hanya berhenti di UIN Walisongo. Harus punya niatan untuk terus melanjutkan studi lanjut. “Bahasa menjadi kunci penting untuk membuka pengetahuan. Itu wajib,” tandasnya. (Rifqi/Ibnu Nawawi)