::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Aneka Keunikan Istighotsah Alam Sambut Tahun Baru di Mimika

Senin, 17 September 2018 14:00 Nasional

Bagikan

Aneka Keunikan Istighotsah Alam Sambut Tahun Baru di Mimika
Mimika, NU Online
Umumnya kegiatan istighotsah itu diadakan di rumah, masjid, mushala, atau lapangan. Namun pada hari Ahad (16/9) bakda Zuhur, jamaah istighotsah an-Nahdliyah Mimika, Papua membuat kegiatan unik, berbeda dari umumnya. Istighotsah tersebut dilangsungkan di Pantai Pomako, Mimika.

Memilih pantai sebagai lokasi istighotsah bukannya tanpa risiko. Yang pasti jamaah akan langsung dihadapkan dengan pilihan apakah kehujanan atau kepanasan. Uniknya juga terlihat dari sifat kegiatan yang mandiri, membawa makanan sendiri, alat ibadah dan mobil sendiri, namun bisa saling tukar dan merasakan bawaanya jamaah lain. 

Dua bus dan lima mobil berjalan beriringan menuju Pantai Pomako dari km14, sementara dari SP6 meluncur satu mobil dengan keceriaan lewat komunikasi di WA grup istighotsah. Sesampainya di lokasi berfoto ria dan mengatur lokasi dan tempat untuk melakukan istighotsah.

H Sukarji selaku ketua panitia mengucapkan terima kasih atas kekompakan jamaah. "Kita bisa kumpul ini luar biasa. Bawa makanan sendiri dan nanti bisa saling mencicipi, kebersamaan yang bagus,” katanya. 

Sementara itu, Wakil Ketua PCNU Mimika, Sugiarso, menyampaikan tujuan istighotsah alam ini. "Hari ini kita mencoba menikmati apapun yang Allah berikan. Hujan disyukuri, panas kita syukuri. Badai sekalipun kita syukuri,” ungkapnya. 

Baginya, menderita atau tidaknya manusia bergantung sikap dan penerimaan atas apa yang diberikan Allah SWT. “Alam bisa bersahabat dan bersatu dengan kita pun bisa mengusahakan jika salah dalam menyikapi. Istighotsah alam melatih kita untuk berpikir tidak ada ciptaan Allah yang sia-sia," urainya.

Ustadz Hasyim Asy'ari dalam ceramahnya menyampaikan pentingnya keseimbangan. "Barangsiapa yang ingin menjadi orang yang saidun fi dinni wadunya wal akhirah tentunya adalah senang mendatangi majelis dzikir, majelis ilmu, majelis istighotsah,” jelasnya. Banyak hikmah yang bisa diambil terutama menjalin ukhuwah dan silaturahim, lanjut Ketua JQH MWCNU Tembagapura ini. 

Sensasi Menikmati Alam
Kegiatan ditutup doa oleh Ustadz Fadlan. Usai istighotsah dilanjut shalat Asar berjamaah. Sensasinya alam kembali didapat ketika wudhu dengan air payau yang asin dan tidak sebening air kran.

Jamaah selanjutnya membuka bekal makanan minuman masing masing dijajar di tengah kumpul jadi satu. Aneka kuliner tersedia dengan melimpah. Ikan bakar, ayam bakar, belut goreng, rujak manis, semangka, jagung rebus, sayur kulit sapi, lontong, udang, pentol bakso, pizza dan kuliner lainnya.
Mereka saling berbagi, mencicipi, saling merasakan sesansai kuliner Nusantara khas jamaah istighotsah. 

Tidak ketinggalan tas kresek besar disediakan untuk tempat sampah. Menjaga lingkungan dan memberikan contoh menjadi jadi prinsip kuat jamaah.

Acara dilanjutkan pembukaan istighotsah an-Nahdliyyah di Masjid Al-Haq Pomako. Rahmat Allah kembali turun ketika acara ini kedatangan Ketua MUI Papua yang juga putra daerah, KH Syaiful Islam Al-Payage. Ia adalah putra angkat dan santri almarhum KH Fawaid Syamsul Arifin dan lulusan Darul Mustofa Yaman asuhan Habib Umar bin Hafidz. 

Dalam tausiyah menekankan pentingnya silaturahim. "Barangsiapa yang memutuskan silaturahim, maka tidak berhak atasnya surga," demikian urainya

Sugiarso dalam pembukaan menjelaskan alasan pentingnya istighotsah. "Kita semua punya hajat dan masalah. Doa sendirian kalah dengan berjamaah. Doa istiqamah beda dengan tak istiqamah. Inilah urgensi istighotsah," urainya.

Jamaah punya kesan yang luar biasa atas secara ini. Hj Asmawati dari SP2 menyikapi panasnya cuaca dengan positif. "Panas menjadi obat berkat istighotsah," ungkapnya. 

Apresiasi juga disampaikan jamaah lain. "Alhamdulillah setelah istighotsah alam selesai, bisa berjumpa dengan Ustadz Payage di masjid Al-Haq," girang Musmin dari Soponyono.

"Alhamdulilah seneng banget mudah-mudahan berkah. Meskipun capek tapi terbayarkan dengan keseruan kebersamaan kekompakan dan kerukunan istighotsah alam," kesan Maryamah dari km14. 

"Ikan, air, batu dan ada yang di sini semua berdzikir kepada Allah,” ucap Ustadz Wawan dari Km10. 

Ibu Bukhori dari SP6 menyampaikan kesannya, "Alhamdullilah istighotsah alam di Pomako berkah sekali yang hari hari hujan panas terik. Biar panas kalau  kumpul untuk kebaikan panasnya terasa hilang apa lagi makanan  yang ada terasa nikmat dan berkah. Kita berharap lain kali kita bisa kumpul kumpul lagi. Keseruan itu tak akan hilang dalam ingatan,” ungkapnya.

Jamaah yang hadir adalah orang pilihan, yang dipilih langsung Allah SWT sebab tidak mungkin hadir tanpa anugerah Tuhan yang Maha Esa karena medan yang dilalui selain jauh juga terdapat risiko yang fatal. 

Dari mulai banyaknya tikungan tajam, jalan sempit, lampu di jalan terbatas, dan banyak masyarakat asli Papua yang lalu lalang di pinggir jalan dan kadang ada yang mabuk. “Saya pribadi yakin tidak semua orang mau mengambil risiko," tandas Ustadz Hariyanto dari SP3. (Red: Ibnu Nawawi)