::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Ciri-ciri Ulama dalam Kajian Tafsir Al-Qur’an

Senin, 17 September 2018 19:45 Tafsir

Bagikan

Ciri-ciri Ulama dalam Kajian Tafsir Al-Qur’an
Kata “ulama” tersebut di dalam Al-Qur’an, yaitu Surat Fathir ayat 28. Ayat ini menyebut ulama sebagai hamba Allah yang takut kepada-Nya. Siapakah ulama yang dimaksud dalam ayat ini?

Sebelum melihat salah satu tafsir yang kami kutip, ada baiknya kita kutip Surat Fathir ayat 28.

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

Artinya, “Hanya saja yang takut kepada Allah dari sekian hamba-Nya adalah ulama,” (Fathir ayat 28).

Ayat ini tidak memberikan keterangan apapun perihal kriteria ulama. Tetapi ulama tafsir seperti Al-Qasimi mencoba menjelaskan siapa ulama yang dimaksud dalam Surat Fathir ayat 28 ini.

إنما يخشاه تعالى بالغيب، العالمون به عز وجل، وبما يليق به من صفاته الجليلية, وأفعاله الجميلة؛ لما أن مدار الخشية معرفة المخشي والعلم بشؤونه، فمن كان أعلم به تعالى، كان أخشى منه عز وجل. كما قال عليه الصلاة والسلام أنا أخشاكم لله وأتقاكم له

Artinya, “Ulama adalah mereka yang takut kepada Allah meskipun tidak melihat-Nya. Mereka juga memahami sifat keagungan dan perbuatan baik yang layak bagi-Nya karena titik tumpu dari rasa takut ini adalah pengenalan atas Zat yang ditakuti dan mengerti ‘kondisi’-Nya. Orang yang lebih mengenal-Nya, maka ia yang paling takut kepada-Nya sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam Shahih Bukari, ‘Aku orang yang paling takut di antara kamu kepada Allah, dan aku yang paling bertakwa di antara kalian’,” (Lihat Syekh M Jamaluddin Al-Qasimi, Tafsirul Qasimi atau Mahasinut Ta‘wil, [tanpa catatan kota dan tahun], cetakan pertama, juz XIV, halaman 4983).

Syekh M Jamaluddin Al-Qasimi juga mengutip Al-Qasyani. Menurutnya, ulama memiliki banyak tingkatan. Ulama yang dimaksud pada ayat ini adalah ulama yang sampai pada derajat makifatullah.

Al-Qasyani juga menambahkan bahwa takut yang dimaksud pada ayat ini bukan takut dalam arti kengerian dari siksa. Rasa takut yang dimaksud di sini adalah sebentuk perasaan tunduk dan menyerah ketika membayangkan keagungan Allah dan melalui pengalaman batin secara sadar.

Mereka yang tidak memiliki kesadaran akan keagungan-Nya, tidak mungkin memiliki rasa takut. Oleh karenanya, ketika Allah tampak pada seseorang melalui keagungan-Nya, maka orang yang bersangkutan akan mengalami rasa takut yang sesungguhnya.

“Rasa takut” ini memiliki banyak tingkatan sesuai dengan kadar ilmu dan makrifat yang “dimiliki” oleh seseorang. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)