::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Mati Belajar atau Hidup Puas dengan Kebodohan?

Kamis, 20 September 2018 09:30 Hikmah

Bagikan

Mati Belajar atau Hidup Puas dengan Kebodohan?
Ilustrasi (ibtimes.co.uk)
Suatu ketika Ibrahim al-Mahdi masuk ke dalam forum diskusi Khalifah al-Makmun, keponakannya sendiri. Orang-orang yang hadir di sana sibuk membicarakan persoalan fiqih.

Al-Makmun yang memang terkenal sebagai pemimpin Abbasiyah yang cinta pengetahuan bertanya kepada sang paman, "Wahai Paman, sumbangsih pikiran apa yang bisa Paman berikan dalam forum ini?"

Al-Ma'mun membuka kesempatan Ibrahim untuk berbicara. Sayangnya ia terlihat minder. Ia merasa telah melewatkan masa muda secara sia-sia.

"Kenapa kau tak belajar sekarang saja?" tanya Khalifah.

"Apa masih pantas orang sepuh seperti saya menimba ilmu?"

"Tentu. Demi Allah, engkau mati dalam kondisi sedang belajar ilmu adalah lebih baik ketimbang engkau hidup dalam keadaan puas dengan kebodohan," jawab al-Ma'mun memotivasi.

"Sampai kapan aku tetap pantas belajar ilmu?"

"Ketika nyawa tak lagi pantas bersemayam dalam dirimu."

Dialog singkat ini mengandung pesan utama tentang kewajiban belajar yang tak pandang batasan usia. Sebagaimana sabda Rasulullah, "Timbalah ilmu sejak dari tempat buaian hingga liang lahad." Kisah di atas bisa kita jumpai dalam kitab as-Samîr al-Muhadzdzib (I/9).

Terlepas dari beberapa kebijakan kontoversialnya sebagai penguasa, al-Ma'mun yang juga putra Khalifah Harun ar-Rasyid banyak berkontribusi pada kebangkitan intelektual peradaban Islam di zamannya. Dari tangannyalah lahir Baitul Hikmah, pusat riset, penerjemahan, kepustakaan paling moncer di masanya. (Mahbib)