::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Habib Utsman Rais Syuriyah PWNU Jabar 1960-1970

Senin, 01 Oktober 2018 04:00 Tokoh

Bagikan

Habib Utsman Rais Syuriyah PWNU Jabar 1960-1970
KH Habib Utsman bin Husein bin Utsman bin Abdurrahman Al-Idrus lahir di Kota Bandung pada tanggal l Ramadhan 1329 H bertepaten dengan (1911 M.) Ia adalah ulama dan tokoh masyarakat Jawa Barat yang dikenal tidak saja karena pemikiran-pemikirannya seperti yang tertuang dalam berbagai media, melainkan juga karena perhatiannya yang sangat besar kepada dunia kependidikan. 

Ia adalah pendiri Yayasan Assalaam yang bergerak dalam bidang pendidikan formal, mulai dari jenjang Taman Kanak-kanak sampai Sekolah Menengah Umum, maupun nonformal, serta dalam bidang sosial keagamaan. 

Ia juga perintis dan pendiri Universitas Nahdlatul Ulama (UNNU) yang merupakan cikal bakal Universitas Islam Nusanlara (Uninus) sekarang ini, dan anggola Dewan Kurator Universilas Islam Bandung (UNISBA) (1962-1985).

Pergaulannya luas. Ia dikenal dengan berbagai tokoh termasuk kalangan pemerintahan. Hal itu menjadikannya seorang tokoh masyarakat yang disegani. 

Dalam keluarga besar Nahdlatul Ulama, terutama di Jawa Barat, ia mendapatkan tempat tersendiri. Di kalangan NU sendiri tercipta kultur penghormalan tinggi kepada keturunan Nabi Muhammad (habaib). Namun, di kalangan NU, ia dihormati tidak saja karena kehabibannya, melainkan karea keulamaannya dan perjuangannya di organisasi itu. 

Habib Utsman tercatat Rais Syuriyah NU tingkat Kotamadya Bandung (1950-1955) dan kemudian Rais Syuriyah Pengurus Wilayah NU Jawa Barat (1960-1970). Pada tingkatan nasional, ia terpilih sebagai Ketua Panitia Muktamar NU ke-24 (1967) di Bandung. 

Di kalangan NU, ia dikenal dekat dengan tokoh-tokoh nasional seperti KH Idham Chalid, H. Subhan Z.E., KH Anwar Musyadad, KH Saifuddin Zuhri, KH Burhan, dan KH Moch. Dahlan. Juga H Mahbub Djunaidi, seorang kolumnis terkenal di samping tokoh NU. Bahkan Mahbub Djunaidi dikebumikan di pemakan keluarga sang habib.

Karena kecintaannya kepada NU, ia mengajak kiai di Jawa Barat untuk aktif di NU. Salah satu kiai yang pernah dimintanya adalah KH Ahmad Syuja’i Cianjur, salah seorang kiai yang banyak melahirkan tokoh NU di wilayah Sukabumi, Bogor dan Cianjur sendiri, saat ini.  

Beliau sendiri, bersama dengan KH Abdul Hamid dan KH Abdullatief Yasin dikenal sebagai tiga serangkai yang selalu bersama-sama dan seia sekata dalam melaksanakan tugas berdakwah dan berorganisasi di NU. 

Dekat dengan Kalangan Pesantren
Meski seorang habib, ia menuntut ilmu kepada kalangan pesantren Sunda. Pada masa mudanya, ia pernah nyantri di pondok pesantren terkenal, yaitu Gentur, Cianjur, yang diasuh Mama Ajengan KH Ahmad Syatibi. Sebuah pesantren yang melahirkan tokoh-tokoh besar, di antaranya KH Ahmad Sanusi (Sukabumi), pengarang Tafsir Raudlatul Irfan dan pendiri organisasi Al-Ittihadul Islamiyah (AII, yang kemudian bergabung dengan Perkumpulan Ulama menjadi Persatuan Umat Islam, PUI).

Sepulang menghabiskan waktu empat tahun mengaji kepada Gentur, Habib Utsman menjadi santri kelana. Ia kemudian berguru ke pesatren-pesantren lainnya. Ia melakukan tabaruk kepada para ulama pimpinan pesantren. 

Ia kemudian menjalin hubungan dekat dengan tokoh-tokoh pesantren di antaranya dengan KH Abdullah Falak, Pagentongan (tokoh NU Bogor), KH Sholeh Madani (Cianjur), Mama Ajengan Santang dan KH Abdumhman, KH Tubagus Bakri (Mama Sempur), ketiganya di Purwakarta, Mama Cibaduyut, Mama Cijawura (Bandung) dan lain-lain. 

Beliau dikenal sangat-istiqonmh dalam melaksanakan amaliah kesehatian. Beliau bangun pada sekilar pukul liga dini hnri, melaksanakan shalat malam, mengaji, memimpin shalat. Kemudian memberikan ceramah subuh, ceramah dluha, dan melaksanakan tugas-tugasnya di Yayasan Assalaam. Dengan naik sepeda, kemudian bertabligh.

Di tengah kesibukannya itu, ia menuangkan pemikiran dari keilmuannya melalui buletin yang rutin diterbitkan  1974-1985. Kemudian dikumpulkan menjadi sebuah buku yang diberi judul, Panggilan Selamat. Karyanya yang lain adalah Sumber Peradaban, Al-Muslih dan Tutungkusan. 

Secara garis besar, khazanah pemikirannya terbagi ke dalam beberapa topik antara lain, Islam sebagai agama yang haq, hakikat manusia, hakikat kehidupan, arkanul iman dan implikasinya dalam amal saleh, arkanul Islam berikut hikmah amaliahnya, akhlak dan tasawuf, peristiwa-peristiwa besar yang sarat makna, Asmaul Husna, dan kapita selekta tentang kehidupan sehari-hari. 

Menurut Habib Utsman, agama Islam adalah agama yang haq (benar), pembawa damai dan selamat. Agama Islam diperuntukan bagi manusia hidup, yang hidup akal pikirannya, perasaannya, kemauannya, dan tujuan hidupnya. Dengan agama manusia berbeda dengan binatang, dengan agama manusia menjadi makhluk yang mulia dibandingkan dengan makhluk lainnya. 

Kesempurnaan ilmu seseorang baru berarti apabila disertai agama. Tujuan agama adalah kebenaran dan sasaran ilmu juga kebenaran. Keduanya menuju kebenaran mutlak. Oleh karena itu, ilmu tidak boleh bertentangan dengan agama. Ilmu untuk mengetahui dan agama untuk merasakan, menghayati, dan mengamalkannya. Ilmu itu bendanya dan agama adalah jiwanya. 

Habib Utsman wafat pada 7 Maret 1985 di Bandung dalam usia 74 tahun. Meski dia telah tiada, warisan keilmuannya terwariskan kepada murid dan anak cucunya, yaitu lembaga pendidikan dan karya tulis. Perjuangannya di NU dilanjutkan salah seorang putranya, Habib Syarif yang pernah menjadi Ketua PWNU Jawa Barat dan kini menjadi mustasyar PCNU Kota Bandung. (Abdullah Alawi)