::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Menelusuri Jagat Sufisme Ibnu Athaillah

Ahad, 23 September 2018 06:00 Pustaka

Bagikan

Menelusuri Jagat Sufisme Ibnu Athaillah
Dalam khazanah Islam, kitab kuning menempati posisi paling krusial sebagai wadah  tranformasi keilmuan dan pelestarian ajaran-ajaran Islam. Asas-asas agama semacam, ahlak, fiqih dan akidah tertampung dalam lembaran-lembaran kuning yang lumrahnya tanpa tanda baca dan harakat.

Bagi masyarakat pesantren, menekuri lembar demi lembar kitab kuning dan mempelajarinya bukanlah hal yang asing dan sulit. Tradisi pembelajaran ilmu alat seperti nahwu dan sharaf memiliki andil besar sebagai medium untuk memahami literatur-literatur klasik, semacam kitab Al-Hikam yang merupakan masterpiece Syekh Ibnu ‘Atha’illah As-Sakandari ini.

Di Indonesia sendiri, karya syekh Ibnu Athaillah tersebut begitu fenomenal, utamanya di lingkungan pesantren. Bahkan KH. Hasyim Muzadi menetapkannya sebagai nama pondok pesantrennya di Malang (al-Hikam). Untaian-untaian kata mutiara yang sangat menandakan kedalaman makrifat sang muallif, khususnya mereka yang tengah menempu jalan menuju Allah. Barangkali inilah alasan penerjemahan kitab ini, padahal secara isi dan materi, kitab ini cukup berat untuk dicerna nalar biasa. 

Hadirnya versi terjemahan yang diterbitkan oleh Qaf Media ini merupakan berita gembira bagi mereka yang gagap literasi klasik. Mereka bisa mereguk hikmah-hikmah menyejukkan tanpa perlu mengernyitkan dahi menelaah lembar kitab kuningnya terlebih dahulu. Di ranah pesantren, kedudukan kitab ini sangat spesial, bahkan di beberapa pesantren, seorang santri terlebih dahulu harus khatam kitab Sullamut taufiq dan Bidayatul hidayah sebagai pengantar demi membaca kitab ini.  

Sebagai seorang arif billah, Syaikh Ibnu ‘Atha’illah As-Sakandari telah mengenali proses terjal dan penuh liku-liku yang harus di tempuh seorang salik, dan kitab ini serupa buku panduan untuk melaluinya dengan baik, terlebih di zaman yang disesaki ontran-ontran duniawi dan hedonisme ini. Tentunya kita tidak perlu khawatir kitab ini akan melencengkan kita dari syariat, karena kitab ini ditulis dengan basis Al-quran dan sunnah, nyaris searah dengan mekanisme yang ditempuh Imam Al-Ghazali (hlm. 98) 

Kredibilitas Ibnu ‘Atha’illah sendiri tidak perlu diragukan. Ulama yang hidup sekitar 700 tahun lalu ini tergolong penulis yang produktif. Tidak kurang dari 20 karya lintas bidang pernah dita’lifnya, seperti tasawuf, tafsir, ushul fiqh dan lainnya. Di antaranya adalah Unwaan al-Taufiq fi ‘dab al-Thariq, latha’iful minan, dan Miftah al-Falah serta beragam kitab lain yang belum penulis ketahui dan konon, kitab Al-Hikam ini adalah magnum opus dari seluruh karya Beliau. Beliau juga mamiliki posisi sebagai syekh ke-3 dalam tarekat Syadziliyah.

Di masanya, tidak sedikit pihak yang antipati dan melancarkan berbagai kritik terhadap ajaran sufi, salah satunya adalah Ibnu Taimiyah. Sejarah telah mencatat dialog sengit yang pernah terjadi antara dua ulama ini. Menurut ibnu Taimiyah, ajaran tasawuf terlalu mengada-ada dan tanpa dasar, baik dari al-Quran atau pun Sunnah. Kritik-kritik ini ditanggapi dengan santun oleh Syekh Ibnu ‘Atha’illah melalui karyanya, yaitu Al-Qaul al-Mujarrad fi al-Ism al-Mufrad.

Guru Besar Psikologi UI, Prof. Dr. Ahmad Mubarak, MA, pernah menuturkan bahwa karya tasawuf model al-Hikam ini lahir dari penghayatan spiritual terhadap dinamika sosial yang cenderung menyimpang dari nilai-nilai akhlak Islam. Ketika umat lebih suka mengkoarkan argumentasi ‘aqly dan naqly, para sufi melalui makrifatnya lebih memilih merumuskan kaidah-kaidah agama dengan petikan-petikan hikmah yang menyejukkan. Ini mengindikasikan bahwa keluhungan etika adalah pondasi utama membangun ketentraman agama secara umum dan menyerukan eksistensi manusia yang sejati, yaitu sebagai Abdullah.

Selain Syarah al-Hikam yang ditulis oleh Dr. Ashim Ibrahim al-Kayyali ini, ada banyak ulama lain yang pernah menulis syarah atau komentar terhadap al-Hikam, diantaranya: Ibn Abbad, Ibn Ajibah, Syekh al-Syarnubi, Syekh Ahmad al-Zarruq dan Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati.

Sebenarnya terjemahan kitab ini pun sudah banyak beredar di Indonesia dengan pengulas yang berbeda pula, sebut saja al-Hikam yang diulas oleh syekh asy-Syarqawi al-Khalwati yang dialihbahasakan oleh penerbit Turos dan ditahbis sebagai “terlengkap yang pernah diterbitkan”.

Kendatipun berskala lebih kecil, terjemahan al-Hikam yang diulas oleh Dr. Ashim Ibrahim al-Kayyali ini, memiliki nilai tawar yang tidak bisa disepelekan. Pasalnya, dalam terjemahan kitab ini termaktub al-Hikam al-‘athaiyyah al-shugra yang selama ini masih berupa manuskrip dan belum tersentuh bahasa populer. Terdapat pula istilah-istilah penting dalam belantara tasawuf Syekh Ibnu ‘Atha’illah yang dikupas tuntas agar pembaca lebih mengenali spiritualitas Islam.

Kitab al-Hikam ini adalah semacam antitesis dari kehidupan umat yang telah mengalami disorientasi akibat desakan duniawi dari berbagai aspek kehidupan. Kekalutan politik, kehausan material, adalah sekilas potret kekacauan umat kekinian yang berakibat pada kegersangan spiritual. Dan kitab al-Hikam ini hadir di tengah-tengah kita laksana oase yang melebur kehausan dan menjernihkan qalbu dari segala anasir-anasir yang menghijab dari Allah. Wallahu a’lam, salam literasi dan selamat membaca!

Peresensi adalah Muhammad Faiz As, santri pegiat literasi yang bermukim di Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsa Selatan Guluk-guluk, Sumenep, Jawa Timur.

Identitas buku:
Judul Buku: Al-Hikam Ibnu ‘Atha’illah: Jalan Kebahagiaan 
Penulis: Ibnu ‘Atha’illah
Cetakan: I, Juli 2018
Penerbit: Qaf Media
Tebal: 332 Halaman.
ISBN: 978-602-5547-25-6