::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

PBNU Nilai Lembaga dan Banom NU Berkhidmah dengan Baik

Senin, 24 September 2018 18:00 Wawancara

Bagikan

PBNU Nilai Lembaga dan Banom NU Berkhidmah dengan Baik
PBNU menggelar Rapat PLeno di Gedung PBNU, Jakarta, Sabtu (22/9). Rapat yang dipimpin Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj ini dimulai dengan pengunduran diri Rais Aam KH Ma’ruf Amin yang kemudian ditetapkan menjadi muastasyar serta penetapan Wakil Rais KH MIftachul Akhyar menjadi Penjabat Rais Aam. 

Selepas itu, PBNU menerima laporan seluruh lembaga dan badan otonom di lingkungan NU di tingkat pusat. Laporan itu berisi khidmah selama ini. Bagaiamana penilaian PBNU terhadap laporan lembaga dan banom NU belakangan ini? Abdullah Alawi dari NU Online berhasil mewawancarai Sekretaris Jenderal PBNU H Helmy Faishal Zaini. Berikut petikannya: 

Secara umum, bagaimana laporan kinerja lembaga dan banom sejak 2015? 

Sejak 2015, alhamdulillah mengalami peningkatan-peningkatan, terutama kita kan menggunakan KPI, Key Performance Indicators ya. Jadi, KPI-nya kita bagi di dalam tiga, dengan indikator tiga. Pertama, dalam konteks konsolidasi organisasi, yaitu apakah mereka  mengorganisasi lembaga ini secara baik atau tidak. Kemudian yang kedua, berbasis kepad output dan outcome-nya. Jadi, satu kegiatan ini misalnya menghasilkan apa, kemudian memberikan dampak apa. Misalnya kerja sama mendapatkan mitra kerja untuk pemberdayaan ekonomi, itu outputnya, outcome-nya itu adalah terbentuknya adanya sekian ratus ribu warga NU yang mendapatkan manfaat dari program ini sehingga mereka, dari yang miskin, kemudian sekarang menjadi lebih sejahtera. 

Jadi, pertama dari konsolidasi organisasi. Kedua, dari output dan outcome. Kemudian yang ketiga, diukur berdasarkan juga kesesuaian. Kesesuaian itu harus tepat dengan tupoksinya; tugas pokok dan fungsinya. Jadi, enggak bisa operlap (tumpang-tindih), misalnya kayak LAZISNU, ya sifatnya fundraising (penggalangan dana), kalau sudah pengelolaan tanggap darurat, kemudian pasca bencana, kemudian, ya itu kita serahkan ke LPBINU. Kemudian madrasah darurat, kita serahkan ke Ma’arif. Kalau asal kerja, bisa aja kan LAZISNU mengerjakan semuanya. Itu kan tidak tepat sasaran. 

Sebetulnya ada lima ya, yang keempat itu pertanggungjawaban dalam bentuk pelaporan. Yang kelima itu peningkatan kerja. Jadi, harus terukur. Kalau kemarin misalnya dapat seratus program, sekarang harus nambah programnya. Ada akselerasi, ada capaian-capaian. 

Berdasarakan KPI itulah kita memberikan penilaian kinerja lembaga dan banom. Ya ada juga lembaga yang kalau diukur dengan lima itu, tapi secara keseluruhan, saya dapat katakan bahwa lembaga-lembaga di lingkungan ini dapat berkhidmah di organisasi dengan baik.

Capaian itu kan menggembirkan, faktor apa bisa berjalan seperti itu? 

Koordinasi. Korrdinasi. Misalnya kalau ada tuntutan membantu Lombok, itu harus rapat koordinasi. Itu kan sampai 9 miliar kan. Koordinasi. Lembaga dan banom yang bisa terkait dengan satu hal, dikoordinasikan. Semua bekerja berdasarkan tupoksinya, tapi begitu keluar semua melakukan gerakan menjadi satu, NU Peduli. Kemudian, lembaga dan banom, egosektoralnya harus dihilangkan. 

Nah, Rapat Pleno tadi juga menegaskan ulang soal apa yang menjadi mandat dalam muktamar NU, yaitu tiga hal, menegakkan ajaran Islam menurut paham Ahlussunah wal Jamaah an-nahdliyah. Yang kedua adalah komitmen kita untuk mengawal Pancasila dan NKRI. Yang ketiga, peningkatan kualitas hidup warga NU, terutama dalam tiga bidang, pendidikan, kesehatan dan perekonomian. 

Nah, yang pertama, tadi sudah saya sampaikan risetnya kan, hasil Alvarra, 90 persen Maulid Nabi, sekian persen ziarah kubur. Itu kan berarti salah satu mengukur bagaimana pelaksanaan ajaran amaliah NU di Indonesia itu seperti apa. Kalau sampai seluruh ajaran amaliah NU itu di bawah 50 persen, atau tinggal 10 persen, itu sudah darurat. 

Dengan data seperti itu NU akan mempertahankan seperti itu bagaimana? 

Jangan berbangga, itu sebagai acuan saja. itu kan amaliah, tapi belum berafiliasi dalam jamiyah, tugas kita melakukan transformasi bagaimana seluruh yang melaksanakan amaliah itu berjamiyah NU, gitu lho. Kalau warga NU 36, 3 ya berarti ada potensi memperbesar yang maulid nabi itu. 

Apa lagi yang dibahas? 

Kita bahas sinergi program sekaligus membaca tantangan-tantangan NU di luar seperti apa, dan seperti apa pula kita mengantisipasinya. Tadi kan saya katakan, di era milenial ini berarti kan dakwah melalui sosmed, di era milenial ini kan berarti ekonomi digital. Itu sudah harus mulai. 

Bagi lembaga agak kendor, akan dilakukan seperti apa? 

Terus kita lakukan pendampingan, melakukan revitalisasi program, penyegaran pengurus. 

Dari amanat muktamar ke-33 di Jombang, yang belum dikerjakan, atau yang muskil dikerjakan itu apa atau yang masih kurang diperkuat? 

Ya, kesehatan dan ekonomi. Yang paling lumayan itu ya pendidikan. 

Upaya PBNU? 

Ya, terus melakukan upaya pendampingan, menggandeng pihak lain karena kita juga tidak bisa bekerja sendirian. 

Apa imbauan PBNU kepada lembaga dan banom mdengan capaian saat ini? 

Imbauan kita ya, untuk segeralah melaksanakan program. Kita mendapatkan amanah ini tidak main-main, harus dikerjakan sebaik mungkinlah. Jangan mengecewakan amanah yang diberikan kepada kita.