::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Fatayat NU Maroko Kupas Karya Nyai Hj Masriyah Amva

Jumat, 28 September 2018 21:00 Internasional

Bagikan

Fatayat NU Maroko Kupas Karya Nyai Hj Masriyah Amva
Jakarta, NU Online
Tak ada bosannya melihat orang sukses. Setiap kali hal itu terjadi, ada rasa “iri” yang hinggap di hati. Betapa rendahnya diri tidak bisa menggapai hal yang sama seperti yang orang tersebut telah capai.
 
Hal itulah yang tebersit oleh Fiyya Ismatul Maula, mahasiswi Universitas Imam Nafie, Maroko, saat membahas buku berjudul Menggapai Impian karya Nyai Hj Masriyah Amva Pengasuh Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin pada kegiatan One Month One Book yang digelar oleh Fatayat NU Maroko pada Kamis (28/9) malam waktu Maroko.
 
"Mungkin itu sebagai cambuklah agar Bu Masriyah Amva itu lebih baik," kata Fiyya pada kegiatan yang disiarkan langsung melalui akun Instagram @pcinumaroko.
 
Dari situlah, kata Fiyya, Pengasuh Pondok Pesantren Babakan, Ciwaringin, Cirebon itu merasa masih bodoh dan jauh dari orang-orang besar. Hal ini membuatnya terinspirasi untuk terus melakukan perbaikan-perbaikan dalam dirinya.
 
Fiyya menyebut KH Sahal Mahfudh dan Nyai Nafisah Sahal yang pernah mendidik Nyai Masriyah saat ia mondok di Mathaliul Falah, Kajen, Pati, Jawa Tengah, adalah dua sosok yang menginspirasi Nyai Masriyah.
 
Selain itu, ia juga menyebut Ustadzah Tuti Alawiyah Abdullah Syafii, sosok yang pandai nan kaya, suka berbagi dengan sesama.
 
"Melihat sosok Tuti Alawiyah kaya berilmu kharismatik dan loyal serta sering membagi-bagikan makanan," ceritanya.
 
Dalam bukunya tersebut, Nyai Masriyah juga menceritakan bahwa dirinya kerap kali menerima hinaan dan kesulitan-kesulitan. Namun, bagi sosok perempuan ulama ini, hal-hal demikian ia jadikan sebagai kekuatan. Semakin dihina, disalahkan, semakin ia memperbaiki diri. Menurut Fiyya, Nyai Masriyah dalam bukunya bercerita bahwa ia tidak melawan dan memilih diam untuk merenungi hal tersebut.
 
Fiyya juga melihat bahwa Nyai Masriyah Amva selalu mengedepankan berdoa dalam keadaan apa pun, baik sulit, maupun gembira. Hal itu dilakukannya karena melihat segala kehidupan ini memang milik-Nya.
 
Meskipun beberapa kali lampu mati, namun kegiatan tersebut berjalan lancar hingga usai. Kegiatan ini juga dilakukan dengan skype bersama anggota PCINU Maroko di kota lainnya. (Syakir NF/Abdullah Alawi)