::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Perjuangan Kiai Bisri Membangun Pesantren Mambaul Ma'arif

Ahad, 30 September 2018 18:30 Balitbang Kemenag

Bagikan

Perjuangan Kiai Bisri Membangun Pesantren Mambaul Ma'arif
Asrama putra Pesantren Mambaul Ma'arif (denanyar.or.id)
Jakarta, NU Online
Artikel Jejak-jejak Perjuangan KH Bisri Syansuri Jombang yang ditulis Subhan Ridlo dan dimuat dalam buku Khazanah Islam Jawa terbitan Balai Litbang Semarang, menyebut sangat menarik untuk dikaji bagaimana Kiai Bisri Syansuri menghadapi berbagai tantangan dengan pendekatan yang sangat lentur dalam sikap tetapi tegar dalam pendirian. 

Bantuan yang diberikan kepada mereka yang lemah, bukannya dalam bentuk pemberian harta benda dan sejenisnya, melainkan dengan memperlakukan semua orang yang berurusan dengan dirinya sesuai dengan hak-hak dan kewajiban masing-masing. Lambat laun akhirnya usaha itu dapat mengubah pandangan orang terhadap diri Bisri, terutama kalangan elit di desa itu.

Kiai Bisri bukanlah orang yang dengan tiba-tiba datang lalu menjungkir-balikan semua nilai kehidupan yang dianut secara umum, melainkan seorang warga masyarakat yang tidak memisahkan diri dari jalur umum kehidupan. Kalaupun ada perbedaan antara moralitas atau nilai yang dianutnya dengan apa yang terjadi di sekelilingnya, itu diupayakan dengan tidak menghadapkan moralitas dan nilainya itu secara frontal.

Kiai Bisri melakukannya dengan memberikan contoh bagi mereka yang mau mengikutinya. Kiai Bisri tidak berdakwah keluar, melainkan hanya berdakwah di tempat sendiri. Dengan begitu, mereka berkeinginan mengubah diri mereka sendiri secara pelan-pelan.

Pendekatan ini menghasilkan dua hal sekaligus, yaitu mengubah pola hidup masyarakat sekeliling secara berangsur-angsur, dan mengundang datangnya orang luar desa untuk belajar ilmu-ilmu agama darinya. Murid pertama Kiai Bisri datang dari anak tetangga desa, di samping Abi Darda yang datang dari desa tetangga, sekitar empat kilometer arah selatan Denanyar. 

Murid awal sebanyak empat orang, tinggal di surau yang didirikan Kiai Bisri pada tahun 1917 M dengan jalan menyekat sebagian ruang suarau itu untuk kamar tempat tinggal mereka. Sistem pendidikan yang digunakan masih bersifat sorogan, yaitu bimbingan individual untuk menguasai teks-teks lama secara bertahap. Pendidikan dengan sistem itu dilakukan Kiai Bisri secara tekun selama dua tahun tanpa ada tanda-tanda akan dilakukannya cara lain untuk mendidik para santrinya.

Pada waktu itu KH Bisri Syansuri hanya menyediakan tempat untuk santri putra. Karena, santri putra dianggap sangat vital untuk digembleng secara fisik. Kala itu, penjajah tidak hanya dianggap telah menjajah secara ekonomi tapi juga secara kultur. Penjajah telah membawa budaya barat yang berbeda dengan budaya setempat yang lambat laun dapat mempengaruhi masyarakat setempat. Secara moral masyarakat setempat dianggap telah bobrok akhlaknya, kekejaman di mana-mana, moral para wanita menjadi rusak, wanita menjadi binal,dan tak mau menerima bimbingan ulama. 

Oleh karena itu pondok pesantren berusaha membentengi santrinya dari pengaruh budaya yang dapat merusak akhlak. Pembinaan akhlak santri ditanamkan bahkan sampai cara berpakaianpun para santri harus berbeda dengan penjajah dan pengikut-pengikutnya. Kemudian semakin hari pembinaan akhlak di pesantren semakin dapat dirasakan oleh masyarakat dan PP Mambaul Ma’arif semakin di kenal oleh masyarakat luas.

Madrasah di Pesantren Mambaul Ma’arif

Pendidikan Pesantren Mambaul Ma’arif semakin lama semakin di tuntut untuk mengikuti perkembangan zaman. Untuk itu pada tahun 1923, KH Bisri Syansuri mendirikan madrasah salafiyah yang pelajarannya dikhususkan pada pelajaran agama. Lama pelajaran enam tahun dengan nama Madrasah Mabai’ul Huda. Model madrasah tersebut hanya diberikan kepada santri putra. Adapun kurikulum bagi santri putri tetap seperti sediakala. 

Setelah berdiri madrasah putri pada tahun 1930, dengan menyediakan empat kelas, ternyata keberadaan madrasah putrid ini banyak mendapatkan kritikan dari masyarakat. Hal itu karena masyarakat kurang memahami duduk persoalan secara jelas.

Sejak tahun 1930, Pesantren Mambaul Ma’arif beserta madrasahnya semakin maju sampai datang penjajah Jepang. Ketika Jepang datang, Mambaul Ma’arif beserta madrasahnya dibuka kembali, setelah ditutup setengah tahun lamanya. Selama perang berkecamuk Mambaul Ma’arif tetap dibuka, kecuali waktu bergeloranya agresi Belanda yang kedua, madrasah ini terpaksa ditutup selama satu tahun, karena keluarga besar Mambaul Ma’arif turut mengambil bagian dalam perang melawan penjajah Belanda.

Saat perang tersebut, tenaga-tenaga yang dikirim oleh Pesantren Mambaul Ulum untuk belajar di lembaga-lembaga pendidikan Islam di berbagai tempat berangsur-angsur kembali pulang. Mereka diberi tugas untuk membina dan mengelola pesantren yang sebelumnya dipikul oleh KH Bisri Syansuri. Pelimpahan tugas dilakukan mengingat semakin banyaknya aktivitas baik di pondok pesantren maupun di madrasah, di samping bertambahnya tugas-tugas kemasyarakatan yang harus dilakukan oleh KH Bisri Syansuri di luar lingkungan pondok pesantren.

Walaupun sibuk, ia tetap melakukan pengawasan secara aktif pada perkembangan pondok pesantren. Ia menunjuk KH Ahmad Bisri sebagai penanggungjawab terlaksananya proses kegiatan pendidikan di madrasah dan pondok pesantren sehari-hari.

Perkembangan pondok pesantren Mambaul Ma’arif semakin lama semakin meluas. Pimpinan dituntut untuk mengubah bentuk madrasah, yang semula salafiyah menjadi madrasah modern. Pada kurikulum salafiyah yang khusus mengkaji pelajaran agama kemudian disesuaikan dengan menambah pelajaran umum. Setelah ia berjuang bersama istrinya di pondok pesantren selama 38 tahun (1917-1955), istrinya dipanggil pulang ke pangkuan-Nya.

Beberapa bulan meninggalnya sang istri, ia kemudian menikah dengan Nyai Maryam Mahmud dari Jember. Pada tahun 1956 atas prakarsa KH Achmad Bisri dibukalah madrasah tsanawiyah putra yang memiliki pelajaran setara dengan SLTP. Pada tahun 1958 berdiri madrasah tsanawiyah putri. Pekembangan selanjutnya tahun 1962, pimpinan pondok pesantren Mambaul Ma’arif bermufakat untuk mendirikan lembaga lanjutan, berupa madrasah aliyah putra dan putri, dengan kurikulum setara dengan SLTA. Tahap demi tahap madrasah berjalan sampai akhirnya, kedua madrasah tersebut diajukan permohonan untuk penegerian.

Perubahan status dari madrasah swasta menjadi negeri dikabulkan pemerintah. Sejak tahun 1969, madrasah yang sebelumnya bernama Madrasah Tsanawiyan menjadi Madrasah Tsanawiyah Agama Islam Negeri dan madrasah yang semula Madrasah Aliyah menjadi Madrasah Aliyah Agama Islam Negeri dengan SK. Menteri Agama R.I. No. 24/1969 tertanggal 4 Maret 1969.

Sejak ada penegerian itu, hubungan kerja sama antara pondok pesantren Mambaul Ma’arif dengan Departemen Agama tampak semakin erat. Proses penegerian lembaga-lembaga pendidikan bukanlah menjadi tujuan pondok pesantren Mambaul Ma’arif. Proses itu akan diusahakan terlaksananya, jika ada jaminan bahwa proses seperti itu tidak akan mengganggu kepentingan pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan agama Islam yang menjadi pandangan hidupnya sendiri.

Setelah selesai meletakkan sendi-sendi pendidikan di Pesantren Mambaul Ma’arif dari tingkat ibtidaiyah sampai dengan tingkat aliyah, rupanya masih belum cukup. Hal itu terjadi karena pendidikan berkembang semakin pesat, dan perguruan tinggi bermunculan di sana sini bagaikan tumpukan jamur di musim hujan. Dengan segala usaha dan upaya, pondok pesantren Mambaul Ma’arif bermaksud menampung mereka yang sudah tamat dari madrasah swasta maupun negeri, agar bisa meneruskan belajar ke tingkat yang lebih tinggi sampai perguruan tinggi. 

Atas dasar konsensus antara pimpinan pondok pesantren Mambaul Ma’arif dengan pimpinan Universitas Hasyim Asy’ari Jombang, akhirnya pada tanggal 19 Desember 1973, dibuka Fakultas Ushuluddin Unhasy dalam lingkungan Pesantren Mambaul Ma’arif.

Karena beberapa pertimbangan, pada tahun 1075, Fakultas Ushuluddin diganti menjadi Fakultas Tarbiyah. Pada tahun 1978, pemerintah Indonesia dengan S.K. Menteri Agama R.I. No. 27 tanggal 11 Maret 1978, mengakui persamaan ijazah Fakultas Tarbiyah Unhasy dengan ijazah IAIN. (Kendi Setiawan)