::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Mengkaji dan Mengaji Semesta Raya

Selasa, 02 Oktober 2018 08:00 Pustaka

Bagikan

Mengkaji dan Mengaji Semesta Raya
Seiring menuanya zaman, diam-diam ada yang hilang dari kehidupan manusia, utamanya masyarakat kota, yaitu eksotisme langit. Kelap-kelip gemintang termanipulasi oleh gemerlap lampu perkotaan. Indahnya matahari terbit dan terbenam tertabiri deretan gedung tinggi menjulang.

Pergantian siang dan malam hanya dipahami sederhana sebagai isyarat untuk bekerja dan beristirahat. Padahal jika disimak dan direnungi lebih jauh, peristiwa-peristiwa tersebut bukan hanya formalitas dan kesia-siaan semata, tapi mengandung pesan dan pelajaran yang sangat berharga.

Dalam khazanah keilmuan, sains dapat berperan sebagai media untuk mengkaji sekaligus menafakuri gejala alam yang terjadi. Namun di ranah agama, beberapa kelompok seringkali memetak-pisahkan kesinambungan antara sains  dan al-Quran, lantaran fakta-fakta alam yang berhasil diungkap sains dinilai tidak searah dengan ayat-ayat kauniyah yang tertulis dalam kitab suci. Salah satu misal, perihal kepercayaan bumi datar yang kata penulis buku ini sebatas dongeng belaka.

Melalui “Semesta pun Berthawaf”nya, T. Djamaluddin menampilkan sudut yang berbeda untuk memandang posisi sains dalam agama. Menurutnya, asumsi yang menggaungkan bahwa sains menyalahi al-Quran, sebenarnya disandarkan pada penafsiran yang dicomot sembarangan terhadap ayat-ayat kauniyah sehingga tercerabut dari konteksnya.

Seperti kata Firasyan(hamparan) dalam QS. Al-Baqarah ayat 22 yang sejatinya bermakna “hamparan tempat istirahat”, bukan dalam makna keseluruhan bumi datar. Demikian pula term-term lain yang kerapkali diartikan terlalu sederhana dan jauh dari objektivitas tafsirnya, semacam kata Madadnaha(QS [15]: 19), Barizatan(QS [18]: 47), Mihadan(QS [78]: 6), dan Suthihat (QS [88]: 20). 
 
Di samping meluruskan ketimpangan antara sains dan agama,  Profesor Riset Astronomi Astrofisika LAPAN dan Tim Tafsir Ilmi Kemenag RI ini juga mengurai proses tata kerja benda-benda langit yang kaya hikmah dan permenungan. Allah adalah kreator terbaik yang menciptakan jagad raya, dengan keindahan, keharmonisan dan keteraturan dalam setiap mekanismenya. Namun, kreasi ini bukan sekedar konsumsi indrawi, Allah juga menyiratkan hikmah di balik penciptaan sebagai konsumsi batin manusia. 

Untuk kita yang masih enggan berdamai dengan kemajemukan bangsa ini, barangkali perlu belajar dari harmoni pelangi yang amat indah sekalipun terdiri atas aneka spektrum warna. Pelangi menggambarkan hakikat persatuan. Karakteristik masing-masing komponen tidak perlu ditonjolkan, dihilangkan atau diseragamkan, karena keanekaragaman adalah kekayaan. Masing-masing elemen memiliki perannya sendiri dan tidak saling mendominasi(hlm. 29).

Bintang juga menyimpan hikmah agung yang berkelindan langsung dengan kehidupan manusia. Bintang tidak selamanya di atas. Ada saatnya muncul, mencapai puncak, kemudian pada saatnya juga akan tenggelam. Bintang juga tidak selamanya cemerlang. Awan gelap, polusi cahaya dan polusi udara kadangkala usil menghalangi cahayanya.

Siklus bintang ini merupakan analogi dari seorang pemimpin, yang lahir, menggapai masa emasnya, kemudian wafat atau mundur teratur mengalami keruntuhan. Adakalanya kecemerlangan sang pemimpin meredup dan dilupakan orang karena tertutup “awan gelap” kondisi politik masanya. Terkadang pula, “polusi” berupa godaan duniawi mengganggu kecemerlangannya, dan akhirnya sinar sang pemimpin lenyap begitu saja (hlm. 23).

Sebenarnya tidak satu pun karya manusia yang mampu menuntaskan hikmah di balik penciptaan yang serupa mayapada tak berujung ini. Namun, setidaknya buku ini bisa menjadi salah satu media tafakur bagi kehidupan manusia kekinian, yang semakin enggan mengkaji dan mengaji semesta raya.

Dengan ilustrasi dan foto-foto serta gaya bahasa yang menarik dan menyenangkan. Sang penulis buku T. Djamaluddin menggiring kita untuk tidak sekedar melihat dan menikmati alam semesta dalam wujud an sichnya. Lebih jauh, pikiran kita diarahkan pada sejumlah pertanyaan: Apa, siapa, mengapa, kapan dan bagaimana wujud itu berada secara eksistensial dan menautkannya dengan fungsi-fungsi universal kehidupan manusia.

Sebuah upaya untuk mendekatkan diri pada Allah dan mencapai predikat “Ulul Albab”, yaitu para cendekia yang pandai menggunakan akalnya untuk membaca dan menyimak realitas alam semesta. Wallahu a’lam. Selamat membaca dan Salam Literasi!

Peresensi adalah Muhammad Faiz As, santri pegiat literasi yang bermukim di Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsa Selatan Guluk-guluk, Sumenep, Jawa Timur.

Identitas buku: 
Judul: Semesta pun Berthawaf
Penulis: T. Djamaluddin
Penerbit: Mizan
Cetakan: I, Maret 2018
ISBN: 978-602-441-051-3