::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Kisah Heraclius, Muawiyah, dan Sejumlah Pertanyaan Tersulit

Rabu, 03 Oktober 2018 06:00 Sirah Nabawiyah

Bagikan

Kisah Heraclius, Muawiyah, dan Sejumlah Pertanyaan Tersulit
Ilustrasi: Shutterstock
Nama lengkapnya Flavius Heraclius Augustus. Seorang putra dari pasangan Constan II dan Fausta. Ia menjadi penguasa tertinggi Kekaisaran Romawi Timur atau Bizantium pada sejak 5 Oktober 610 M hingga 11 Februari 641 M. Tercatat, beberapa kali Heraclius bersitegang dengan kaum Muslim. Salah satunya pada saat Perang Yarmuk, pertempuran yang terjadi empat tahun setelah Nabi Muhammad saw. wafat.

Setelah mengetahui Damaskus dan Emesa jatuh lepas dari kekuasaan Bizantium, Heraclius memimpin langsung puluhan hingga ratusan ribu pasukan melawan kaum Muslim. Hingga akhirnya terjadi lah Pertempuran Yarmuk yang terjadi di sekitar Sungai Yarmuk, Yordania. Meski menang dalam jumlah pasukannya, namun peperangan dimenangkan pihak kaum Muslim.

Dalam bukunya The History of the Decline and Fall of the Roman Empire, Edward Gibbon menilai bahwa Heraclius adalah salah seorang pemimpin yang luar biasa. Namun sayangnya, ia tidak konsisten. Di akhir pemerintahannya, Heraclius menjadi kemalasan, takhayul, dan tidak berdaya melawan malapetaka.

Dikisahkan bahwa suatu ketika Heraclius mengajukan beberapa pertanyaan kepada Muawiyah bin Abi Sufyan, Khalifah pertama Dinasti Umayyah. Entah apa maksud pengajuan pertanyaan tersebut. Apakah untuk mengujinya atau betul-betul ingin mendapatkan jawaban. Namun yang pasti, sederet pertanyaan tersebut sangat sulit hingga membuat Muawiyah mengernyitkan dahi. 

Berikut pertanyaan-pertanyaan yang terdapat dalam surat Heraclius untuk Muawiyah sebagaimana yang tertera dalam buku Islamic Golden Stories: Para Pemimpin yang Menjaga Amanah:

Salam Sejahtera kami sampaikan kepada Anda. Mohon kiranya Anda memberitahukan kepada kami, ucapan apa yang paling disenangi Tuhan, kedua, ketiga, keempat, dan kelima? Siapa hamba yang paling mulia? Siapa perempuan yang paling mulia? Ada empat hal yang di dalamnya terdapat ruh, tetapi tidak bersemayam dalam rahim? Kubur apa yang berjalan membawa penghuninya?

Muawiyah bin Abu Sufyan langsung memanggil para ulama penasihatnya. Namun sayang, tak satu pun dari mereka yang bisa menjawab sederet pertanyaan dari Heraclius tersebut. Lalu satu dari mereka ada yang usul agar sang khalifah menanyakannya kepada Abdullah bin Abbas. Seseorang sahabat Nabi Muhammad yang sangat cerdas, alim, dan memiliki kekuatan hafalan yang kuat. Saudara sepupu Nabi Muhammad ini dikenal sebagai seorang ahli tafsir Al-Qur’an.

Muawiyah bin Abu Sufyan mengirimkan utusan ke Abdullah bin Abbas dengan membawa beberapa pertanyaan dari Heraclius tersebut. Abdullah bin Abbas kemudian membalas surat Muawiyah dengan menyertakan jawaban. Ucapan yang paling disukai Allah adalah La ilaha illa Allah (Tiada Tuhan selain Allah). Alasannya, kalimat tersebut menjadi dasar atas diterimanya semua amal perbuatan. Ucapan kedua adalah Subhanallah (Maha Suci Allah). Menurut Abdullah bin Abbas, semua makhluk di alam semesta ini shalat dengan cara mengucapkan lafal  Subhanallah.

Selanjutnya adalah Alhamdulillah (Segala puji bagi Allah). Keempat adalah Allahu Akbar (Allah Maha Besar). Dan terakhir La haula wala quwwata illa billah (Tidak ada daya dan upaya selain dengan daya dan upaya Allah).

Abdullah bin Abbas menjawab, Adam as. adalah hamba yang paling mulia. Mengapa? Karena Nabi Adam as. diciptakan langsung Allah dan diajarkan beberapa nama. Sementara Maryam adalah perempuan yang paling mulia di dunia ini. 

Untuk pertanyaan Ada empat hal yang di dalamnya terdapat ruh, tetapi tidak bersemayam dalam rahim?, Abdullah bin Abbas menjawab Nabi Adam as., Hawa, tongkat Nabi Musa as., dan domba korban Nabi Ibrahim. Adapun pertanyaan terakhir; kubur yang membawa penghuninya adalah perut ikan paus yang menelan Nabi Yunus as.

Muawiyah bin Abi Sufyan merasa puas dengan jawaban-jawaban yang diperoleh dari Abdullah bin Abbas tersebut. Jawaban itu kemudian dikirim ke Heraclius yang berada di Konstantinopel. (Muchlishon)