::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Ketidakpuasan pada Kondisi yang Ada, Pemicu Radikalisme

Rabu, 03 Oktober 2018 18:30 Nasional

Bagikan

Ketidakpuasan pada Kondisi yang Ada, Pemicu Radikalisme
Jakarta, NU Online
Ketua Badan Penanggulangan Ekstremisme dan Terorisme Majelis Ulama Indonesia (BPET MUI) Zainut Tauhid Sa'adi mengatakan, perilaku radikal tidak hanya berbentuk tindakan, tapi juga ucapan atau verbal. 

Radikal yang berbentuk tindakan merupakan segala perilaku yang menyerang dan mengandung unsur kekerasan. Sementara radikal yang bersifat verbal berwujud segala bentuk pemikiran radikal yang mengandung unsur ujaran kebencian, intoleransi terhadap kelompok yang berbeda, atau pun hoaks.

Menurut laki-laki yang juga menjabat Wakil Ketua Umum MUI ini, mereka yang melakukan perilaku radikal verbal kerap kali menyalahkan orang lain yang tidak sepaham dengannya secara verbal, intoleran terhadap yang berbeda, dan menyebarkan informasi yang bermuatan ujaran kebencian serta hoaks.   

“Kondisi demikian dipicu di antaranya oleh ketidakpuasan pada kondisi yang ada, sehingga menuntut adanya perubahan segera. Padahal perubahan secara alamiah dilakukan melalui suatu tahapan, sehingga prosesnya dapat berjalan secara natural," kata Zainut dalam sebuah diskusi yang digelar MUI di Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (3/10).

Senada dengan Zainut, Wakil Kepala Badan Intelijen dan Keamanan Polri Suntana juga menyatakan bahwa salah satu penyebab radikalisme berkembang adalah karena ketidakpuasan suatu kelompok terhadap politik, sosial, ekonomi, dan budaya yang ada. Mereka berusaha melakukan tindakan-tindakan radikal untuk mengubah ketidakpuasannya tersebut.

Sukanta juga menjelaskan bahwa radikalisme berkembang juga karena semakin merebaknya berbagai penafsiran satu ajaran agama tertentu tanpa membandingkan dengan penafsiran yang lainnya. Misalnya, mereka meyakini bahwa makna jihad adalah berperang saja. Sementara jika dibandingkan dengan tafsir-tafsir yang lain, jihad memiliki makna yang beragam. 

Selain itu, lanjutnya, konflik sosial bernuansa intra dan antar agama juga menjadi pemicu berkembangnya tindakan radikalisme dan terorisme. (Muchlishon)