::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Polri: Radikalisme Bisa Terjadi pada Semua Agama

Rabu, 03 Oktober 2018 19:30 Nasional

Bagikan

Polri: Radikalisme Bisa Terjadi pada Semua Agama
Jakarta, NU Online
Wakil Kepala Badan Intelijen dan Keamanan Polri  Suntana menegaskan, radikalisme dan terorisme  terjadi bukan hanya pada satu agama tertentu namun juga pada agama yang lainnya. Dengan kata lain, terorisme bisa dilakukan oleh semua agama. 

Suntana menepis anggapan yang menyebut tindakan radikalisme dan terorisme identik dengan Islam. ia kemudian memaparkan beberapa kejadian radikalisme dan terorisme di beberapa negara seperti Bosnia dan Serbia. 

“Radikalisme tidak identik dengan Islam. Di Bosnia, orang-orang Serbia yang beragama Katolik Ortodoks berusaha menguasai Bosnia dengan cara membunuh Muslim di sana,” kata Suntana dalam sebuah diskusi yang digelar MUI di Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (3/10).

Suntana menambahkan, setidaknya ada tiga pemicu yang menyebabkan radikalisme dan terorisme berkembang pesat. Pertama, semakin merebaknya berbagai penafsiran satu ajaran agama tertentu tanpa membandingkan dengan penafsiran yang lainnya. Misalnya, mereka meyakini bahwa makna jihad adalah berperang saja. Sementara jika dibandingkan dengan tafsir-tafsir yang lain, jihad memiliki makna yang beragam. 

Kedua, ketidakpuasan suatu kelompok terhadap politik, sosial, ekonomi, dan budaya yang ada. Mereka berusaha melakukan tindakan-tindakan radikal untuk mengubah ketidakpuasannya tersebut.

Ketiga, konflik sosial bernuansa intra dan antar agama juga menjadi pemicu berkembangnya tindakan radikalisme dan terorisme.

Sementara Ketua Badan Penanggulangan Ekstremisme dan Terorisme Majelis Ulama Indonesia (BPET MUI) Zainut Tauhid Sa'adi juga mengatakan kalau terorisme dan radikalisme tidak berafiliasi dengan agama tertentu. Menurutnya, setiap orang –tidak memandang apa agama dan pendidikannya- memiliki potensi untuk terpapar radikalisme yang berujung pada terorisme.

“Terorisme tidak berafiliasi dengan agama tertentu, tapi mereka bertujuan menciptakan ketakutan dan kecemasan,” katanya.

Oleh sebab itu, lanjutnya, pemahaman tentang nilai-nilai Islam wasathiyah (moderat) harus terus disosialisasikan kepada mereka yang sudah terpapar radikalisme atau pun yang belum sehingga mereka menjadi tercerahkan bahwa Islam adalah agama yang moderat, damai, dan penuh kasih sayang.

“Islam adalah agama yang penuh rahmah, mengajarkan kepada umatnya untuk berbuat baik dan memberikan rasa aman kepada sesama,” paparnya. (Muchlishon)