::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Pandangan Syekh Abdul Qadir al-Jilani Menyikapi Bencana Alam

Kamis, 04 Oktober 2018 15:30 Ubudiyah

Bagikan

Pandangan Syekh Abdul Qadir al-Jilani Menyikapi Bencana Alam
Ilustrasi (AFP)
Bencana alam melanda negari kita. Tidak berlangsung lama setelah gempa di Lombok, gempa kembali mengguncang warga Sulawesi Tengah, bahkan beberapa jam kemudian disusul dengan tsunami.

Beberapa kalangan mengaitkan bencana tersebut dengan kepentingan politikm Menurut mereka, bertubi-tubinya bencana dikarenakan rezim pemerintahan yang menyimpang dan zalim.

Bencana yang melanda warga negara kita disebut-sebut sebagai azab yang diturunkan oleh Allah. Betulkah anggapan demikian?

Berikut ini pandangan dari Syekh Abdul Qadir al-Jilani dalam menyikapi bencana alam yang melanda orang mukmin.

Menurut pandangan Syekh Abdul Qadir al-Jilani, bencana tidak datang sebagai azab bagi orang mukmin. Namun sebaliknya sebagai bentuk cobaan.

Beliau berkata:

واعلموا ان البلية لم تأت المؤمن لتهلكه وانما اتته لتختبره

"Ketahuilah bahwa cobaan tidak datang kepada seorang mukmin untuk merusaknya, namun datang untuk menguji keimanananya.” (Sayyid Ja’far al-Barzanji, al-Lujaini ad-Dani fi Manaqibis Syaikh Abdil Qadir al-Jilani, t.t, Kediri, Maktabah Pondok Pesantren Tahfidh wal Qiraat Lirboyo, h. 136)

Menurut pemilik julukan sulthânul auliyâ’ (pemimpin para wali) itu, mukmin diberi musibah oleh Allah, agar diuji sebatas mana tingkat keimanannya. Apakah ia semakin jauh dari Tuhan, apakah semakin dekat.

Banyak kita jumpai, orang yang terkena bencana, ia frustasi, pesimis, bahkan cenderung menyalahkan Tuhan.

Bagi kaum beriman, bencana yang melanda negara kita, hendaknya menjadi bahan introspeksi diri akan kesalahan-kesalahan kita. Mungkin, kita masih banyak melakukan kemaksiatan. Mungkin kita masih sering menyakiti orang lain, masih sering melalaikan kewajiban-kewajiban.

Sebagaimana disabdakan oleh Sayyidina Umar bin Khattab:

حاسبوا أنفسكم قبل أن تحاسبوا، وزنوها قبل أن توزنوا

"Introspeksilah diri kalian sebelum amal kalian diteliti, timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang." 

Fenomena bencana alam bukan justru menjadi ajang untuk mengintrospeksi amal orang lain atau mencari-cari kesalahannya. Apalagi mengambing-hitamkan terjadinya bencana atas perbuatan atau kebijakan pihak tertentu. Sungguh hal tersebut bukan merupakan sikap yang ideal bagi seorang mukmin.

Agama melarang seorang mukmin untuk mencari-cari kesalahan orang lain. Ditegaskan dalam firman-Nya:

وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا
 
“Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain.” (QS al-Hujurat: 12)

Terkait larangan dalam ayat tersebut, al-Imam al-Baghawi menjelaskan:

التجسس هو البحث عن عيوب الناس، نهى الله تعالى عن البحث عن المستور من أمور الناس وتتبع عوارتهم حتى لا يظهر على ما ستره الله منها

"Tajassus adalah meneliti aib-aib manusia. Allah melarang meneliti urusan yang samar dari orang lain, dan melarang meneliti aib-aib mereka. Sehingga ia tidak memperlihatkan aib orang lain yang telah ditutupi oleh Allah ﷻ.” (Al-Imam al-Baghawi, Tafsir al Baghawi, juz 4, h. 262)

Maka, sebagai orang yang beriman, hendaknya kita memahami bahwa bencana tersebut sesungguhnya merupakan cobaan bagi kita semua.

Bencana mengajarkan kepada kita untuk menjadi pribadi mukmin yang lebih berkualitas lagi, lebih dewasa menghadapi perbedaan-perbedaan, bukan justru sebaliknya.

Demikianlah sikap kita saat negara kita dilanda bencana menurut pandangan Syekh Abdul Qadir al-Jilani.

Semoga para korban bencana diberi tempat yang layak di sisi-Nya, diampuni segala dosa-dosanya dan diterima amalnya. Semoga keluarga korban diberi kesabaran dan ketabahan. 

Wallahu a'lam bish shawab.

(M. Mubasysarum Bih)