::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Resolusi Jihad Penentu Kemerdekaan Indonesia

Jumat, 05 Oktober 2018 08:30 Daerah

Bagikan

Resolusi Jihad Penentu Kemerdekaan Indonesia
Sumenep, NU Online
Sejumlah kegiatan diselenggarakan dalam rangkaian memperingati hari santri. Di Pragaan, Sumenep, Jawa Timur terhitung sejak awal Oktober panitia melakukan kunjungan ke sejumlah pesantren dan madrasah dengan menyelenggarakan berbagai kajian.

Kajian pertama dilaksanakan Kamis (4/10) di Pondok Pesantren Nurul Huda Pakamban Laok, Pragaan. Sejumlah pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Pragaan hadir menyemarakkan kajian terkait hari santri di hadapan pengurus, guru, santri dan pelajar setempat. 

Ach Fatihul Abror mengatakan bahwa hari santri adalah peristiwa sejarah paling monumental. Karenanya sudah sepatutnya kiprah santri mendapat pengakuan dan memperoleh posisi terhormat.

"Resolusi jihad yang dimotori Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945 adalah  pemantik semangat kepahlawanan para santri untuk mempertahankan NKRI dari sekutu yang mencoba merongrong kembali kemerdekaan,” kata ketua hari santri ini. Kaum santrilah yang bergerak di garda depan, lanjutnya saat sambutan.

Sementara Ketua MWC NU Pragaan KH Junaidi Muarif menegaskan kembali keberadaan NU sebagai rumah besar pesantren.

"NU itu rumah besar pesantren. Pesantren adalah NU kecil yg kemudian mewujud menjadi NU besar. Menghidupkan pesantren dengan kajian kesantrian sama artinya dengan menghidupkan NU,” jelasnya.

Menurutnya, tema kajian kesantrian Meneguhkan Nilai Kesantrian untuk Keutuhan NKRI diharapkan tidak berhenti di ruang kajian, tapi harus merasuk ke dalam pemikiran para santri. “Diwujudkan dalam tindakan nyata dengan membangun masyarakat dan bangsa,” ungkapnya.

"Sejak di pesantren dan madrasah, santri NU harus sudah terdidik menjadi kader ulama yang memahami Islam moderat, sehingga santri menjadi penyangga NKRI di tengah hantaman isu radikalisme dan terorisme," paparnya.

Sedangkan Kiai Zubairi Karim selaku pemateri pada kegiatan tersebut banyak menekankan pada identitas santri yang harus menjaga ketaatan pada guru dan negara.

Dalam pandangannya, niat santri dari dulu belajar di madrasah dan pesantren tak hanya untuk mendapatkan ilmu tapi juga barakah. “Sebab ilmu tanpa barokah tak makin makin mendekatkan diri pada Allah,” urainya. 

Menurutnya, ilmu didapat dari belajar, sedangkan berkah didapatkan dengan berkhidmah dan ketaaatan kepada gurunya. “Seberapa besar nilai ketaatan kita, seberapa besar itu pula barakah yang kita dapatkan," katanya.

Ketaatan kepada guru di pesantren akan melahirkan juga ketaatan kepada pemerintah. “Namun bukan berarti kita kehilangan nilai kritis kepada pemerintah jika harus menyuarakan kebenaran,” tegasnya.

Dakwah menyuarakan kebenaran dan ketidakadilan kepada pemerintah atau menegakkan nahi mungkar kepada pelaku maksiat harus dilakukan dengan cara yang makruf. “Yang menimbulkan efek kesadaran umat, bukan malah melahirkan kemungkaran baru yang berkepanjangan. Itulah model dakwah NU untuk mengutuhkan masyarakat dan NKRI,” katanya.

Pada kegiatan yang dilangsungkan di masjid pesantren setempat tersebut, Kiai Zubairi mengingatkan model dalam beramar makruf nahi munkar. “Amar makruf nahi munkar dalam pandangan NU tetap harus ditempatkan pada tiga hal, bilhikmah, walmauidzatil hasanah, baru wajadilhum billati hiya ahsan,” urainya.

Di ujung kajian, Kiai Zubairi mengurai rentetan perjuangan santri sejak proklamasi 17 Agustus 1945 sampai meletusnya perang besar 10 November 1945. "Tidak akan ada perang besar 10 November mempertahankan kemerdekaan RI, kalau tidak ada fatwa jihad Kiai Hasyim Asyari pada 22 Oktober,” katanya. 

Kalau tidak ada fatwa jihad, mungkin saja saat ini bangsa Indonesia tidak menikmati kemerdekaan. “Begitu besarnya peran kiai dan santri kepada NKRI," tandasnya.

Kajian diakhiri pembacaan doa oleh Kiai Badrut Tamam yang juga salah seorang pengasuh di Pondok Pesantren Nurul Huda Pakamban. (Ibnu Nawawi)