::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Santri Nurul Yaqin Aswaja Dikenalkan Pentingnya Menulis

Ahad, 07 Oktober 2018 21:30 Daerah

Bagikan

Santri Nurul Yaqin Aswaja Dikenalkan Pentingnya Menulis
Pelatihan jurnalistik bagi santri Nurul Yakin Padang Pariaman
Padang Pariaman, NU Online
Santri sudah saatnya memiliki kemampuan menulis yang baik dalam menyampaikan ide dan gagasannya kepada masyarakat. Apalagi santri dipersiapkan menjadi calon ulama, calon pendakwah atau calon mubalig, sehingga kemampuan menulis semakin dibutuhkan di era informasi dan teknologi sekarang.

Demikian diungkapkan Kontributor NU Online Armaidi Tanjung, Sabtu (6/10) malam, di hadapan santri/santriwati Nurul Yaqin Aswaja, Padang Nonang, Sungai Sarik, Kecamatan VII Koto  Kabupaten Padangpariaman, Provinsi Sumatera Barat.  

Armaidi Tanjung tampil sebagai narasumber di hadapan santri/santriwati yang  mengikuti taqarrubun nafsiyah (masa pengenalan diri). Juga tampil sebagai narasumber Pengurus Pesantren Nurul Yaqin Aswaja MTaher Datuk Rajo Mudo terkait dengan penanaman nilai-nilai adat Minangkabau.

"Santri/santriwati yang sudah didik di pesantren, belajar kitab-kitab klasik, kitab kuning, yang berisikan ilmu pengetahuan agama dari ulama-ulama terdahulu. Ini bekal bagi santri untuk berdakwah melalui tulisan," ujar Armaidi. 

Disampaikan, tulisan yang dihasilkan santri nantinya bisa menembus waktu dan ruang yang dibaca banyak orang. Menulis juga merupakan bagian dari perintah agama. Karena ayat pertama yang diturunkan adalah perintah baca (Iqra'). Jadi dengan adanya perintah baca tersebut, berarti ada yang dibaca, yakni tulisan yang dihasilkan dari aktifitas menulis. Dengan demikian, orang yang menulis untuk kebaikan juga merupakan kegiatan ibadah.

"Para ulama terdahulu yang menulis ilmu agama melalui kitab-kitab, meski sudah wafat ratusan tahun lalu, tapi hingga kini masih bisa dipelajari ilmu dan ajaran dari ulama tersebut. Begitu kuatnya pengaruh menulis dalam melestarikan dan menjaga ilmu agama, maka santri sejak dini harus mulai menumbuhkan semangat menulis," kata Armaidi Tanjung.

Pimpinan Pesantren Nurul Yaqin Aswaja Aswir Tuanku Sidi Ibrahim Pamansiangan mengatakan, taqarabun nafsyiah berlangsung selama dua hari, Sabtu-Ahad (6-7/10). Taqarabun nafsyiah ini merupakan yang pertama kali diadakan di Pesantren Nurul Yaqin Aswaja.

Menurut Aswir, pesantren Nurul Yaqin Aswaja mulai dirintis tahun 2006 dan mulai menerima santri tahun 2014. Saat ini terdapat 50 santri, 1 bangunan asrama dan lokal belajar, 1 sarana ibadah di atas tanah seluas 875 m2. 

"Alhamdulillah, sudah tersedia tanah seluas 3.000 m2 untuk pengembangan lanjutan yang berjarak 300 meter dari lokasi sekarang," kata Aswir alumni Ponpes Nurul Yaqin Ringan-Ringan, Pakandangan, Padang Pariaman. (Red: Muiz)