::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Netizen Palu Kecam Pengusiran Terhadap Relawan

Selasa, 09 Oktober 2018 23:10 Nasional

Bagikan

Netizen Palu Kecam Pengusiran Terhadap Relawan

Jakarta, NU Online

Ada fenomena yang tak patut yang terjadi di tengah-tengah suasana berkabung akibat bencana gempa bumi di Palu Sulawesi Tengah. Sejumlah relawan Badan nasional Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang datang dari sejumlah kota seperti Tangerang Selatan, Bone, Mamuju, dan Sulawesi Utara diminta angkat kaki dari halaman kantor Bappeda Sulawesi Tengah.

"Saya dengar-dengar banyak baran-barang di kantor Bappeda ini yang hilang. Sedangkan menurut temen-teman, kejadian barang hilang mungkin sebelum kita masuk, sebab banyak penjarahan juga sebelumnya," kata salah seorang relawan BPBD melalui akun facebook 'Cinta Akhirat' dan dibagikan di facebook grup 'Info Kota Palu', Selasa (9/10).

Dalam video berdurasi 3.58 menit itu, tampak puluhan pria dewasa berbaju orange dan hitam berlogo BNPB sedang merapikan tenda untuk bersiap melakukan pengosongan lahan. 

Melalui video tersebut, ia mengimbau agar batuan yang hendak dikirimkan pada posko BPBD dikirmkan ke posko yang baru di kantor BPS Sulteng. "Jadi segala alat dan lain-lain langsung dikirim ke sana saja," ujarnya.

Kejadian itu memicu reaksi warga netizen yang juga ada di dalam facebook group 'Info Kota Palu'. sebagian besar dari netizen menyayangkan adanya 'pengusiran' tersebut. Mereka menyebut bahwa keberadaan relawan di Palu merupakan sebuah pengorbanan yang seharusnya dihargai oleh warga sekitar.

Agnes Wulandari Mangesak misalnya, yang menulis 'pengusiran' tersebut sebagai kejadian yang 'sangat miris sekali'. Sebab menurutnya, relawan yang datang dari luar kota rela meninggalkan pekerjaan mereka untuk membantu korban.

"Itu semua karena mereka turut merasakan penderitaan dan tangisan warga Palu, Donggala dan Sigi. Pemerintah sudah berbuat apakah selama bencana ini, emangnya mereka mampu urus semua korban-korban bencana ini tanpa relawan?" kata Agnes Wulandari mengecam.

Padahal, Lanjut Agnes para relawan datang tidak untuk meminta bayaran kepada pemerintah Sulawesi Tengah. "Jangan salahkan kalau bantuan sudah tidak mau masuk lagi ke Kota Palu hanya karena mereka sudah enggan melihat sikap dari pemerintah di tengah-tengah kesulitan ini," lanjutnya.

Respon serupa juga disampaikan oleh akun Bogee Ishakk. Warga Donggala, Sulteng ini menyarankan agar memindahkan poskonya ke Donggala yang juga membutuhkan bantuan para relawan. "Ke Donggala saja, itu relawan yang diusir," katanya.

Selain menyayangkan, warga netizen juga mengecam perlakuan Bappeda Sulteng yang meminta relawan untuk tidak berada di area perkantorannya. hal itu mengingat tingginya kebutuhan warga Sulteng khusunya Palu terhadap bantuan para relawan. (Ahmad Rozali)