::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

PBNU Dorong Inovasi Kostum Muslimah Adaptif untuk Atlet Judo

Rabu, 10 Oktober 2018 07:03 Nasional

Bagikan

PBNU Dorong Inovasi Kostum Muslimah Adaptif untuk Atlet Judo
Miftahul Jannah (Foto: Kompas)
Jakarta, NU Online
Kasus atlet blin judo putri Indonesia Miftahul Jannah (21) yang terdiskualifikasi di ajang Asian Para Games 2018 karena enggan melepas jilbabnya menuai banyak respon. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mendorong inovasi busana atlet yang sesuai atau adaptif untuk Muslimah.

Hal itu ditegaskan oleh Ketua PBNU Robikin Emhas saat mengikuti acara peletakan batu pertama pengembangan Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta di Kemang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (9/10) kemarin.

“Harus diusahakan desain kostum yang adaptif buat Muslimah sekaligus yang bisa menjamin keselamatan jiwa atlet (judo),” tegas Robikin.

Karena alasan keselamatan, aturan International Judo Federation (IJF) dan International Blind Sport Federation mewajibkan atlet judo bertanding tanpa penutup kepala atau jilbab. Jilbab berpotensi dimanfaatkan lawan untuk mencekik leher dan berakibat fatal bagi atletnya.

Komite Paralimpiade Nasional dan tim Komandan Kontingen Indonesia sudah berdiskusi dengan Miftahul Jannah. Miftahul Jannah tetap pada pendiriannya mempertahankan jilbab dan memilih mundur sehingga batal bertanding melawan Oyun Gantulga, atlet judo wakil dari Mongolia.

Kenapa Jilbab dalam Judo Dilarang?

Jilbab menurut aturan IJF bisa membahayakan jiwa atlet judo karena dalam cabang olahraga tersebut ada teknik choke atau teknik cekikan. Jilbab atau apa pun yang menutupi leher terlalu berbahaya jika lawan memanfaatkannya untuk melakukan teknik choke ini.

Selain judo, cabang olahraga jiujitsu melarang jilbab yang menutup leher karena dalam jiujitsu juga mempunyai teknik choke. Sehingga bukan sebab keyakinannya yang didiskriminasi, tetapi murni karena faktor keselamatan atlet.

"Hal yang perlu ditekankan adalah juri bukan tidak memperbolehkan kaum Muslim untuk ikut pertandingan. Aturan internasional mulai 2012, setiap atlet yang bertanding pada cabang judo tidak boleh berjilbab karena dalam pertandingan judo ada teknik bawah dan jilbab akan mengganggu," ujar penanggung jawab pertandingan judo Asian Para games 2018 Ahmad Bahar seperti dilansir Antara.

Adapun pada cabang olahraga beladiri tipe striking seperti pencak silat, karate, dan taekwondo tidak melarang pemakaian jilbab karena cabor ini tidak memanfaatkan teknik choke. (Fathoni)